Hasil penelitian ini menjadi penting karena berbagai persoalan gizi anak usia sekolah di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Meski pemerintah telah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis sebagai kebijakan nasional, keberhasilan program tersebut tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan. Pola makan anak sehari-hari tetap sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang dibangun dalam lingkungan keluarga, terutama oleh orang tua.
Para peneliti menjelaskan bahwa sekolah memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pemerintah, guru, siswa, dan keluarga. Melalui komunikasi yang melibatkan dialog dua arah, orang tua tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diberi kesempatan berdiskusi, menyampaikan pengalaman, serta mencari solusi bersama mengenai kebutuhan gizi anak.
Pendekatan ini berbeda dengan sosialisasi konvensional yang umumnya berlangsung satu arah. Dalam komunikasi partisipatif, orang tua menjadi bagian aktif dari proses pembelajaran sehingga pemahaman yang terbentuk cenderung lebih kuat dan berpeluang menghasilkan perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan.
Untuk menguji efektivitas pendekatan tersebut, tim peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment berupa one-group pretest-posttest. Penelitian melibatkan 100 orang tua atau wali murid yang anaknya mengikuti Program MBG di tiga sekolah dasar negeri di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
Selama penelitian, responden mengikuti berbagai kegiatan komunikasi kesehatan berbasis sekolah, antara lain:
- Edukasi mengenai gizi seimbang.
- Diskusi interaktif antara sekolah dan orang tua.
- Keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah.
- Komunikasi dua arah mengenai pelaksanaan Program MBG.
Setelah kegiatan berlangsung, peneliti membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas.
Karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas peserta penelitian adalah ibu. Sebanyak 84,16 persen responden berjenis kelamin perempuan, sedangkan sekitar 77,23 persen merupakan ibu kandung siswa. Sebagian besar responden juga memiliki latar belakang pendidikan sekolah menengah atas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ibu masih menjadi aktor utama dalam mendampingi pendidikan sekaligus pemenuhan gizi anak di lingkungan keluarga.
Analisis statistik menghasilkan temuan yang cukup kuat. Peneliti menemukan adanya hubungan positif antara komunikasi kesehatan partisipatif dengan peningkatan pengetahuan dan perilaku orang tua terhadap Program MBG.
Beberapa hasil utama penelitian meliputi:
- Koefisien regresi sebesar 0,604, menunjukkan setiap peningkatan kualitas komunikasi partisipatif di sekolah diikuti peningkatan pengetahuan dan perilaku orang tua.
- Nilai R Square sebesar 0,526, yang berarti komunikasi kesehatan partisipatif mampu menjelaskan 52,6 persen perubahan pengetahuan dan perilaku orang tua.
- Nilai t-hitung 10,419 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,001, menandakan pengaruh yang sangat signifikan secara statistik.
- Nilai Beta sebesar 0,725, menunjukkan hubungan yang kuat dan positif antara kualitas komunikasi sekolah dengan perubahan perilaku keluarga.
Menurut tim peneliti, hasil tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi kesehatan tidak sekadar menyampaikan informasi mengenai gizi. Proses komunikasi yang melibatkan diskusi dan kolaborasi mampu meningkatkan literasi kesehatan keluarga sehingga orang tua lebih memahami pentingnya sarapan, memilih makanan bergizi, serta mendukung kebiasaan makan sehat anak di rumah.
Penelitian ini juga menguatkan berbagai studi sebelumnya yang menyebut bahwa kolaborasi antara guru dan orang tua merupakan faktor penting dalam membentuk kebiasaan makan anak usia sekolah. Ketika sekolah dan keluarga menyampaikan pesan yang sama mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi, anak tidak menerima informasi yang saling bertentangan sehingga lebih mudah membangun kebiasaan sehat dalam jangka panjang.
Dalam pembahasannya, para peneliti menilai sekolah kini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat promosi kesehatan masyarakat. Guru dan sekolah berperan sebagai fasilitator komunikasi yang membantu keluarga memahami manfaat Program MBG sekaligus mendorong perubahan perilaku secara nyata.
Raden Ismira Febrina dan tim menjelaskan bahwa komunikasi yang berbasis dialog memberikan ruang bagi orang tua untuk bertanya, berbagi pengalaman, dan menyampaikan hambatan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Pendekatan tersebut menciptakan rasa memiliki terhadap program sehingga orang tua tidak lagi memandang MBG sebagai tanggung jawab pemerintah semata, melainkan sebagai tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia. Selain memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa, pemerintah dan sekolah juga perlu menginvestasikan sumber daya pada strategi komunikasi yang melibatkan keluarga secara aktif.
Para peneliti merekomendasikan agar sekolah menyelenggarakan edukasi gizi secara berkelanjutan, forum komunikasi dua arah dengan orang tua, serta diskusi rutin mengenai kesehatan anak. Pemerintah juga disarankan menjadikan komunikasi kesehatan partisipatif sebagai bagian integral dari implementasi Program MBG agar manfaat program dapat bertahan dalam kehidupan sehari-hari keluarga.
Meski demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah responden masih terbatas pada beberapa sekolah di Parepare dan pengukuran perilaku orang tua dilakukan melalui kuesioner sehingga masih berpotensi dipengaruhi persepsi responden. Peneliti menyarankan penelitian lanjutan dengan cakupan wilayah yang lebih luas, jumlah responden lebih banyak, serta desain longitudinal untuk melihat dampak komunikasi kesehatan dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Raden Ismira Febrina merupakan akademisi di Fakultas Komunikasi dan Informasi, Universitas Garut, dengan fokus keilmuan pada komunikasi kesehatan dan komunikasi partisipatif. Penelitian ini juga melibatkan Siti Nor Amalina dari Fakultas Bahasa dan Komunikasi, Universiti Pendidikan Sultan Idris (Malaysia), bersama Sani Rahman, Zikri Fachrul Nurhadi, Vasya Eprilafani, dan Griski Lilua dari Fakultas Komunikasi dan Informasi Universitas Garut.
Sumber Penelitian
Judul: The Influence of School-Based Participatory Health Communication on Parents' Knowledge and Behavior Regarding the Free Nutritious Meal Program
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 7, 2026.
0 Komentar