Kinerja Aset Jadi Kunci Utama Pendongkrak Nilai Perusahaan di Sektor Teknologi Indonesia

Ilustrasi by AI

Sektor teknologi di Indonesia menghadapi tekanan pasar yang konsisten selama tiga tahun terakhir. Penelitian terbaru oleh Shidiq Baddruzzaman, Mardiyani, dan Benny Dhevyanto dari Universitas Swadaya Gunung Jati yang diterbitkan pada Juni 2026 mengungkapkan bahwa efisiensi penggunaan aset atau Return on Assets (ROA) menjadi faktor penentu utama dalam meningkatkan nilai perusahaan teknologi.

Tantangan Fundamental Perusahaan Teknologi

Meskipun industri digital di Indonesia diprediksi mencapai nilai ekonomi hingga US$90 miliar pada 2024, perusahaan-perusahaan teknologi yang melantai di Bursa Efek Indonesia justru mengalami penurunan kinerja saham yang signifikan. Penurunan indeks IDXTECHNO dalam tiga tahun berturut-turut memicu urgensi bagi manajemen untuk memahami faktor fundamental apa yang sebenarnya mampu menjaga daya tarik perusahaan di mata investor.

Metodologi Penelitian

Para peneliti melakukan kajian kuantitatif dengan metode causal-associative terhadap 25 perusahaan teknologi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2022 hingga 2024. Melalui teknik pengambilan sampel purposif, terkumpul 75 data observasi yang dianalisis menggunakan metode analisis jalur (path analysis) dengan perangkat lunak LISREL.

Temuan Utama

Hasil analisis data memberikan gambaran jelas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan, yang diukur menggunakan rasio Price to Book Value (PBV):

  • ROA sebagai Jembatan: Return on Assets (ROA) terbukti secara statistik menjadi perantara efektif yang menghubungkan rasio utang (Debt to Equity Ratio/DER) dengan nilai perusahaan.
  • Pengaruh Utang: DER memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA, namun tidak berdampak langsung pada nilai perusahaan tanpa melalui kinerja aset.
  • Keterbatasan Likuiditas: Rasio lancar (Current Ratio/CR) tidak menunjukkan pengaruh signifikan, baik terhadap ROA maupun terhadap nilai perusahaan secara langsung.
  • Peran ROA: ROA secara langsung terbukti memiliki dampak substansial dalam menentukan nilai pasar perusahaan.

Implikasi bagi Strategi Bisnis

Penelitian ini menegaskan bahwa investor tidak hanya melihat kemampuan perusahaan melunasi utang jangka pendek, melainkan lebih fokus pada seberapa mahir manajemen dalam mengelola aset untuk menghasilkan laba.

"Perusahaan teknologi disarankan untuk tidak sekadar mengejar likuiditas tinggi, melainkan mengoptimalkan penggunaan aset produktif, terutama aset tetap tak berwujud seperti perangkat lunak, platform digital, dan lisensi, yang menjadi mesin utama pendapatan di sektor ini," ungkap para peneliti. Selain itu, perusahaan didorong untuk menerapkan kebijakan pendanaan yang lebih konservatif dengan membatasi ketergantungan pada utang eksternal guna menjaga stabilitas kinerja jangka panjang.

Profil Penulis: Penelitian ini disusun oleh tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati, yang berfokus pada manajemen keuangan dan analisis bisnis.

Sumber Penelitian:

  • Judul Artikel: Return on Assets as A Mediator: The Effect of Current Rasio and Debt to Equity Ratio on Firm Value
  • Nama Jurnal: Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA)
  • Tahun Publikasi: 2026
  • DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i3.16495

Posting Komentar

0 Komentar