Perkembangan teknologi telah mengubah pola ancaman terorisme di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jika sebelumnya aksi teror umumnya dilakukan melalui jaringan organisasi yang terstruktur, kini semakin banyak muncul pelaku yang bertindak sendiri atau dikenal sebagai lone wolf terrorism. Meskipun beraksi secara individual, para pelaku tetap dipengaruhi oleh propaganda, narasi ekstrem, dan komunitas digital yang berkembang di internet. Perubahan ini membuat proses deteksi menjadi jauh lebih sulit karena radikalisasi berlangsung secara tertutup melalui ruang digital pribadi.
Menurut para peneliti, internet bukanlah penyebab utama seseorang menjadi radikal. Faktor yang lebih mendasar justru berasal dari kondisi psikologis dan sosial yang berkembang di lingkungan keluarga. Ketika hubungan keluarga dipenuhi komunikasi yang buruk, kurang perhatian, minim pengawasan, atau lemahnya dukungan emosional, individu dapat mengalami krisis identitas dan kehilangan rasa memiliki. Kondisi tersebut kemudian membuka peluang bagi propaganda ekstrem untuk menawarkan identitas baru, rasa dihargai, dan tujuan hidup yang dianggap lebih bermakna.
Penelitian ini mengisi kesenjangan dalam kajian terorisme yang selama ini lebih banyak menyoroti ideologi atau teknologi digital, tetapi belum banyak membahas bagaimana kondisi keluarga berinteraksi dengan ruang digital dalam membentuk proses radikalisasi. Penulis menegaskan bahwa keluarga dapat menjadi faktor risiko sekaligus benteng pertahanan pertama terhadap penyebaran paham ekstrem.
Untuk menjelaskan hubungan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple case study. Analisis dilakukan menggunakan berbagai sumber data sekunder, seperti artikel ilmiah, laporan lembaga, dokumen kebijakan, dan narasi kasus yang relevan. Dua kasus utama dijadikan dasar analisis, yaitu kasus remaja di Subang yang berhasil dicegah melalui deteksi dini keluarga serta kasus Zakiah Aini yang menunjukkan bagaimana radikalisasi digital berkembang hingga berujung pada aksi kekerasan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami proses sosial dan psikologis yang mendasari radikalisasi secara lebih mendalam.
Hasil penelitian mengidentifikasi empat temuan utama yang saling berkaitan.
Pertama, apatisme keluarga menciptakan kerentanan psikologis. Individu yang kurang memperoleh perhatian, komunikasi, maupun pengawasan cenderung mencari pengakuan dan makna hidup di luar lingkungan keluarga.
Kedua, keterlibatan intensif dalam ruang digital mempercepat pertemuan individu yang rentan dengan propaganda ekstrem. Internet berfungsi sebagai akselerator, bukan penyebab tunggal, karena menyediakan komunitas virtual, ruang gema (echo chamber), dan narasi yang memperkuat keyakinan ekstrem.
Ketiga, proses radikalisasi kini semakin banyak berlangsung secara mandiri. Seseorang tidak harus direkrut langsung oleh organisasi teroris untuk mengembangkan pembenaran ideologis hingga siap melakukan tindakan kekerasan.
Keempat, keluarga yang memiliki komunikasi terbuka dan mampu mengenali perubahan perilaku dapat menghentikan proses radikalisasi sebelum berkembang menjadi aksi teror. Dengan kata lain, keluarga berperan sebagai sistem peringatan dini yang sangat penting.
Penelitian ini juga memperkenalkan model konseptual Family Apathy–Cyber Engagement–Lone Wolf Escalation. Model tersebut menjelaskan bahwa apatisme keluarga memicu kerentanan psikologis dan krisis identitas. Kerentanan itu kemudian dipertemukan dengan propaganda digital melalui media sosial, forum daring, dan komunitas virtual. Interaksi tersebut mempercepat proses radikalisasi hingga meningkatkan potensi munculnya pelaku teror tunggal apabila tidak ada intervensi sejak dini. Sebaliknya, keluarga yang memiliki ketahanan emosional serta literasi digital yang baik mampu memutus rantai eskalasi tersebut sebelum individu mengambil keputusan melakukan kekerasan.
Dalam pembahasannya, Hermawan dan tim menegaskan bahwa pencegahan terorisme harus bergeser dari pendekatan yang semata-mata represif menuju strategi yang lebih preventif. Penegakan hukum tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan program penguatan keluarga, pendidikan literasi digital, komunikasi yang sehat di lingkungan rumah, serta kemampuan orang tua mengenali perubahan perilaku anak dan anggota keluarga lainnya. Menurut penulis, keluarga memiliki akses terhadap tanda-tanda awal yang sering kali tidak dapat dideteksi oleh aparat keamanan.
Berdasarkan hasil penelitian, para penulis merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pemerintah bersama sekolah, kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), organisasi keagamaan, dan komunitas masyarakat perlu memperluas program literasi digital keluarga. Selain itu, diperlukan layanan konsultasi dan pelaporan dini yang tidak bersifat menghukum agar keluarga berani mencari bantuan ketika menemukan indikasi radikalisasi. Program psikoedukasi keluarga juga dinilai penting agar komunikasi di dalam rumah mampu memenuhi kebutuhan emosional anggota keluarga sekaligus mengurangi risiko pencarian identitas melalui propaganda ekstrem di internet.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa terorisme pelaku tunggal di Indonesia merupakan hasil interaksi kompleks antara kerentanan psikologis dalam keluarga, kebutuhan individu akan makna hidup, serta paparan propaganda digital. Oleh karena itu, strategi pencegahan tidak cukup hanya berfokus pada pengawasan dunia maya atau penindakan terhadap pelaku, melainkan juga harus memperkuat fungsi keluarga sebagai lingkungan pertama yang membangun karakter, identitas, dan ketahanan emosional setiap individu. Penulis juga mengakui bahwa penelitian ini masih menggunakan data sekunder sehingga penelitian lapangan dan wawancara langsung diperlukan untuk menguji model yang dikembangkan secara lebih komprehensif.
Profil Singkat Penulis
Setyo Hermawan merupakan akademisi dan peneliti di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) yang memiliki perhatian pada kajian terorisme, keamanan nasional, radikalisasi, serta strategi pencegahan ekstremisme berbasis keluarga dan ruang digital. Bersama Dhedi Ardi Putra dan Supardi Hamid, ia mengembangkan model konseptual yang menghubungkan apatisme keluarga, keterlibatan digital, dan proses radikalisasi individu sebagai dasar penyusunan kebijakan pencegahan terorisme di Indonesia.
Sumber Penelitian
Hermawan, S., Putra, D. A., & Hamid, S. (2026). Family Apathy, Cyber Engagement, and Self-Radicalization in Lone Wolf Terrorism in Indonesia. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 7, 1805–1824. DOI: 10.55927/fjst.v5i7.110. URL: https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar