Temuan tersebut menjadi perhatian penting karena mobilitas masyarakat Indonesia terus meningkat, terutama di wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut. Aktivitas perjalanan yang berulang dan berlangsung lama ternyata dapat memberikan tekanan fisiologis yang berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Hipertensi masih menjadi salah satu penyebab utama penyakit kardiovaskular di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 1,4 miliar orang hidup dengan hipertensi, sementara di Indonesia prevalensinya masih berada di kisaran 30 persen pada populasi dewasa. Namun, kelompok masyarakat dengan mobilitas tinggi seperti awak kapal, nelayan, pekerja transportasi, hingga penumpang antarpulau masih jarang menjadi fokus penelitian.
Untuk menjawab kesenjangan tersebut, tim peneliti melibatkan 287 pelancong yang sedang berada di kawasan transit Pelabuhan Ampana. Setiap responden menjalani pemeriksaan tekanan darah digital dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur mengenai riwayat perjalanan, kebiasaan merokok, pola istirahat, usia, riwayat keluarga, serta tingkat stres selama perjalanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40,1 persen responden mengalami hipertensi, angka yang tergolong tinggi untuk populasi pelancong.
Analisis lebih lanjut mengidentifikasi lima faktor yang secara independen berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi, yaitu:
- Merokok berat meningkatkan risiko hipertensi sekitar 2,37 kali dibandingkan bukan perokok.
- Durasi perjalanan yang lama meningkatkan risiko sekitar 2,13 kali.
- Frekuensi perjalanan yang tinggi meningkatkan risiko sekitar 2,10 kali.
- Riwayat keluarga dengan hipertensi meningkatkan risiko sekitar 2,09 kali.
- Usia yang semakin bertambah juga meningkatkan peluang mengalami hipertensi, dengan kenaikan risiko sekitar 7,3 persen setiap tahun usia bertambah.
Sebaliknya, pola istirahat yang dinilai dalam penelitian ini tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian hipertensi. Menurut peneliti, hal tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik responden yang telah terbiasa bekerja atau bepergian dengan jadwal istirahat yang tidak teratur sehingga tubuh mereka telah mengalami proses adaptasi tertentu.
Di antara seluruh faktor yang dapat diubah, merokok berat menjadi faktor risiko paling dominan. Nikotin diketahui memicu peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik sehingga pembuluh darah menyempit dan tekanan darah meningkat. Jika kebiasaan tersebut berlangsung dalam jangka panjang, risiko penyakit jantung dan stroke juga ikut meningkat.
Selain kebiasaan merokok, perjalanan yang terlalu sering maupun terlalu lama juga memberikan tekanan tersendiri bagi tubuh. Aktivitas perjalanan berulang dapat mengganggu ritme biologis, mengurangi waktu pemulihan, menyebabkan kelelahan kronis, hingga meningkatkan produksi hormon stres yang berkontribusi terhadap kenaikan tekanan darah.
Sitti Rafiah Musa dan tim peneliti menjelaskan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan kelompok masyarakat dengan mobilitas tinggi. Menurut mereka, pelabuhan dan titik transit tidak hanya berperan dalam mencegah penyebaran penyakit menular, tetapi juga dapat menjadi lokasi strategis untuk melakukan deteksi dini penyakit tidak menular seperti hipertensi.
Temuan ini membuka peluang bagi otoritas kesehatan pelabuhan untuk mengembangkan program skrining tekanan darah secara rutin, terutama bagi pelancong yang sering melakukan perjalanan, memiliki durasi perjalanan panjang, berusia lebih tua, memiliki riwayat keluarga hipertensi, atau merupakan perokok aktif.
Peneliti juga merekomendasikan agar perusahaan pelayaran, operator transportasi laut, dan pengelola pelabuhan memperkuat program promosi kesehatan melalui edukasi berhenti merokok, penyediaan fasilitas pemeriksaan tekanan darah, serta kampanye gaya hidup sehat bagi pekerja maupun pengguna jasa transportasi.
Di tingkat kebijakan, hasil penelitian ini mendukung perluasan fungsi surveilans kesehatan di kawasan pelabuhan. Selama ini pemeriksaan kesehatan di pintu masuk negara lebih banyak difokuskan pada penyakit menular. Padahal, penyakit tidak menular seperti hipertensi juga dapat menjadi beban kesehatan masyarakat yang besar apabila tidak dideteksi sejak dini.
Meskipun menggunakan desain potong lintang sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa mobilitas perjalanan merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan hipertensi di Indonesia. Peneliti berharap penelitian lanjutan dengan cakupan wilayah yang lebih luas dan metode jangka panjang dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai dampak perjalanan terhadap kesehatan kardiovaskular.
Profil Penulis
Sitti Rafiah Musa merupakan mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi dengan fokus penelitian pada epidemiologi, kesehatan masyarakat, dan surveilans kesehatan pelabuhan.
Penelitian ini juga melibatkan Grace Debbie Kandou, Windy V. Wariki, Novie H. Rampengan, dan Fima L.F.G. Langi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, yang memiliki kepakaran di bidang kesehatan masyarakat, epidemiologi, serta kesehatan klinis.
Sumber Penelitian
Judul: Travel Frequency, Duration, and Heavy Smoking as Independent Predictors of Hypertension Among Travelers: A Cross-Sectional Study in Indonesian Port Transit Areas
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 7, 2026.
0 Komentar