Financial Distress Tingkatkan Risiko Kecurangan Laporan Keuangan, Tata Kelola dan Teknologi Jadi Benteng Pencegahan

Ilustrasi by AI

Singaraja — Perusahaan yang mengalami financial distress atau tekanan keuangan memiliki risiko lebih tinggi melakukan kecurangan dalam laporan keuangan. Namun, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, pengawasan auditor yang efektif, praktik Environmental, Social, and Governance (ESG), serta pemanfaatan teknologi machine learning terbukti mampu menekan risiko tersebut. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Gusti Ayu Komang Yanti Yulansari dari Universitas Pendidikan Ganesha melalui kajian sistematis terhadap berbagai penelitian internasional mengenai hubungan antara financial distress dan financial statement fraud. Hasil penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai faktor-faktor yang mendorong manipulasi laporan keuangan sekaligus strategi pencegahannya.

Laporan keuangan menjadi salah satu sumber informasi utama bagi investor, kreditur, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menilai kondisi sebuah perusahaan. Oleh karena itu, keakuratan laporan keuangan sangat menentukan kepercayaan publik terhadap dunia usaha maupun stabilitas pasar modal. Namun, berbagai kasus manipulasi laporan keuangan masih terus terjadi di berbagai negara. Praktik tersebut umumnya dilakukan dengan sengaja untuk menampilkan kondisi perusahaan yang tampak lebih baik dibandingkan keadaan sebenarnya sehingga mampu mempertahankan kepercayaan investor dan memperoleh akses pendanaan.

Penelitian ini menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama munculnya manipulasi laporan keuangan adalah kondisi financial distress, yaitu keadaan ketika perusahaan mengalami penurunan kinerja keuangan yang ditandai oleh menurunnya profitabilitas, keterbatasan likuiditas, meningkatnya beban utang, hingga ancaman kebangkrutan. Dalam situasi tersebut, manajemen menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan citra perusahaan sehingga muncul dorongan melakukan manipulasi terhadap informasi keuangan. Fenomena tersebut sejalan dengan Fraud Triangle Theory yang dikembangkan Donald Cressey, yang menjelaskan bahwa tekanan (pressure) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong seseorang melakukan tindakan kecurangan.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Peneliti menelusuri artikel ilmiah yang terindeks dalam basis data Scopus secara bertahap melalui proses identifikasi, penyaringan, seleksi kelayakan, hingga penentuan artikel yang layak dianalisis. Dari 98 artikel yang ditemukan pada tahap awal, proses seleksi akhirnya menghasilkan 10 artikel yang memenuhi seluruh kriteria penelitian dan menjadi dasar analisis hubungan antara financial distress dan financial statement fraud. Diagram PRISMA pada halaman 5 memperlihatkan secara rinci tahapan penyaringan artikel hingga diperoleh sepuluh studi yang menjadi bahan kajian utama.

Hasil kajian menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara financial distress dan meningkatnya risiko financial statement fraud. Ketika kondisi keuangan perusahaan memburuk, tekanan terhadap manajemen ikut meningkat sehingga mendorong berbagai praktik manipulasi, seperti earnings management, penghindaran pajak, pengakuan pendapatan yang tidak sesuai, hingga penyajian laporan keuangan yang tidak mencerminkan kondisi perusahaan sebenarnya. Berbagai penelitian yang dianalisis menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan keuangan yang dialami perusahaan, semakin besar pula peluang terjadinya manipulasi laporan keuangan.

Penelitian juga menemukan bahwa praktik manipulasi laporan keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan keuangan, tetapi juga oleh kualitas tata kelola perusahaan. Perusahaan yang memiliki sistem corporate governance yang kuat, dewan direksi yang lebih beragam, pengawasan auditor yang efektif, serta kondisi likuiditas yang baik cenderung memiliki risiko kecurangan yang lebih rendah. Tata kelola yang baik berfungsi sebagai mekanisme pengendalian sehingga kesempatan melakukan manipulasi dapat diminimalkan meskipun perusahaan sedang menghadapi tekanan finansial.

Selain tata kelola perusahaan, penelitian ini mengungkap bahwa penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) juga berkontribusi dalam menurunkan risiko financial distress maupun kecurangan laporan keuangan. Perusahaan yang aktif menerapkan praktik ESG memiliki kecenderungan lebih rendah mengalami kesulitan keuangan dan lebih mampu menjaga transparansi dalam pelaporan keuangan. Di sisi lain, rendahnya praktik korupsi, penyuapan, dan tindakan fraud semakin memperkuat pengaruh positif ESG terhadap kesehatan keuangan perusahaan.

Perkembangan teknologi juga menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian ini. Berbagai studi yang dianalisis menunjukkan bahwa machine learning semakin banyak dimanfaatkan untuk mendeteksi dini kondisi financial distress sekaligus mengidentifikasi potensi manipulasi laporan keuangan. Teknologi ini mampu menganalisis berbagai indikator keuangan, seperti pertumbuhan pendapatan, margin laba, rasio likuiditas, hingga pola transaksi yang tidak wajar. Dengan kemampuan tersebut, machine learning dinilai dapat meningkatkan efektivitas sistem pengawasan serta membantu auditor maupun regulator mengidentifikasi risiko fraud secara lebih cepat dan akurat.

Menurut Gusti Ayu Komang Yanti Yulansari dari Universitas Pendidikan Ganesha, tekanan keuangan memang meningkatkan peluang terjadinya manipulasi laporan keuangan. Namun, risiko tersebut dapat ditekan melalui penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan kualitas audit, penerapan ESG secara konsisten, serta pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan sebagai sistem deteksi dini. Peneliti juga mendorong penelitian lanjutan menggunakan data empiris perusahaan agar hubungan antara financial distress dan financial statement fraud dapat diuji secara lebih mendalam pada berbagai sektor industri.

Temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi perusahaan, investor, auditor, regulator, dan pembuat kebijakan. Bagi perusahaan, hasil penelitian menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan keuangan harus disertai dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Bagi investor dan auditor, penelitian ini menunjukkan pentingnya mengidentifikasi gejala financial distress sebagai salah satu indikator awal potensi fraud. Sementara bagi regulator, penguatan sistem pengawasan berbasis teknologi dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga integritas pelaporan keuangan serta meningkatkan kepercayaan terhadap pasar modal.

Profil Penulis

Gusti Ayu Komang Yanti Yulansari
Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Financial Distress and Financial Statement Fraud: Systematic Literature Review
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.221

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar