Evaluasi Hutan Kemasyarakatan Sesaot: Kinerja Tinggi, Administrasi dan Ekonomi Masih Perlu Diperkuat

Illustration by ai


Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Desa Sesaot, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menunjukkan kinerja yang tergolong tinggi berdasarkan evaluasi terbaru yang dilakukan oleh Irman Soviyan, Markum, dan Febriana Tri Wulandari dari Universitas Mataram. Penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2026 dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) ini menilai keberhasilan pengelolaan HKm dari aspek administrasi, ekologi, sosial, dan ekonomi. Hasilnya penting karena memberikan gambaran nyata tentang efektivitas program perhutanan sosial dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.

HKm merupakan salah satu skema perhutanan sosial yang memberikan hak kelola kepada masyarakat sekitar hutan. Program ini dirancang untuk mengurangi kemiskinan, menyelesaikan konflik tenurial, dan mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Di Desa Sesaot, program tersebut telah berjalan selama bertahun-tahun melalui Kelompok Mitra Pelestari Hutan (KMPH) Sesaot yang mengelola kawasan hutan dengan melibatkan ratusan petani lokal.

Penelitian dilakukan pada Maret hingga April 2026 di kawasan HKm Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Tim peneliti mengumpulkan data melalui observasi lapangan, wawancara, kuesioner, dan telaah dokumen. Sebanyak 46 responden dilibatkan, terdiri atas pengurus HKm, anggota kelompok, dan aparatur Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I NTB. Evaluasi mengacu pada indikator yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perhutanan Sosial.

Kinerja Keseluruhan Masuk Kategori Tinggi

Hasil evaluasi menunjukkan HKm Sesaot memperoleh skor total 161 dari maksimum 270 poin. Nilai tersebut menempatkan pengelolaan HKm Sesaot dalam kategori tinggi. Pencapaian terbaik terlihat pada aspek ekologi dan sosial, sementara aspek administrasi dan ekonomi masih menjadi tantangan utama yang perlu diperbaiki.

Berikut hasil penilaian setiap aspek:

  • Aspek Administrasi: 12 dari 36 poin (33,33%) – kategori rendah.
  • Aspek Ekologi: 67 dari 99 poin (67,68%) – kategori sedang.
  • Aspek Sosial: 54 dari 84 poin (64,29%) – kategori sedang.
  • Aspek Ekonomi: 28 dari 51 poin (54,90%) – kategori rendah.

Hutan Tetap Terjaga Melalui Agroforestri

Dari sisi ekologi, HKm Sesaot dinilai cukup berhasil menjaga fungsi kawasan hutan. Penggunaan sistem agroforestri, pemeliharaan tanaman, serta patroli rutin membantu mempertahankan tutupan lahan dan mengurangi risiko kerusakan hutan. Aktivitas pemanfaatan lahan juga dinilai sesuai dengan fungsi kawasan hutan yang telah ditetapkan.

Peneliti menemukan tingkat kejadian pembalakan liar yang rendah dan upaya perlindungan hutan yang berjalan baik. Namun, aspek konservasi keanekaragaman hayati dan pemantauan kondisi hidrologi masih belum optimal. Program konservasi spesies endemik belum berjalan secara terencana, sementara data pemantauan sumber air dan kondisi lingkungan masih terbatas.

Perubahan Perilaku Masyarakat Menjadi Nilai Positif

Aspek sosial juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Masyarakat semakin memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian hutan dan meninggalkan pola pemanfaatan yang bersifat eksploitatif. Mekanisme penyelesaian konflik berbasis aturan adat atau awiq-awiq masih berfungsi efektif dalam menjaga keharmonisan antaranggota kelompok.

Peningkatan pendapatan anggota kelompok menjadi salah satu indikator sosial yang memperoleh nilai tinggi. Selain itu, proses transfer pengetahuan dan kepemimpinan dalam organisasi juga mulai berjalan. Namun, kapasitas kelembagaan kelompok dinilai belum optimal karena pergantian pengurus belum sepenuhnya didukung dokumen resmi yang diperbarui.

Penelitian ini juga menyoroti masih rendahnya partisipasi perempuan dalam kegiatan pengelolaan hutan dan pengambilan keputusan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi yang lebih inklusif agar manfaat perhutanan sosial dapat dirasakan secara merata oleh seluruh anggota masyarakat.

Dokumen Hilang Jadi Kendala Administrasi

Masalah terbesar yang ditemukan dalam evaluasi berada pada aspek administrasi. Kelompok HKm Sesaot memiliki surat keputusan dan peta wilayah kerja, tetapi tidak lagi memiliki dokumen Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) maupun laporan kegiatan yang lengkap. Kehilangan dokumen tersebut menyebabkan sistem pengarsipan dan tata kelola administrasi belum berjalan optimal.

Menurut peneliti, administrasi yang kuat merupakan fondasi penting dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan. Ketiadaan dokumen penting berpotensi menghambat pengambilan keputusan serta mengurangi efektivitas pengelolaan kelompok dalam jangka panjang.

Potensi Ekonomi Besar Belum Dimanfaatkan Maksimal

Pada aspek ekonomi, masyarakat sebenarnya telah memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti durian, kopi, dan berbagai tanaman serbaguna melalui sistem agroforestri. Akses pasar juga relatif tersedia. Namun, potensi ekonomi tersebut belum memberikan manfaat optimal bagi kelompok.

Penelitian mengungkap bahwa pengembangan jasa lingkungan, termasuk ekowisata, pemanfaatan sumber air, dan perdagangan karbon, masih belum berjalan. Padahal penelitian sebelumnya menunjukkan kawasan agroforestri mahoni di Sesaot memiliki cadangan karbon sekitar 136 ton per hektare yang berpotensi menjadi sumber pendapatan baru melalui skema ekonomi karbon.

Keterbatasan modal, kemitraan usaha, serta fasilitas pengolahan hasil hutan juga menjadi faktor yang menghambat pengembangan ekonomi masyarakat sekitar hutan.

Dukungan dan Tantangan Ke Depan

Peneliti mencatat bahwa kondisi ekologis yang stabil, keberhasilan penerapan agroforestri, rendahnya pembalakan liar, serta tingginya partisipasi masyarakat menjadi faktor utama yang mendukung keberhasilan HKm Sesaot. Di sisi lain, lemahnya administrasi, rendahnya kapasitas kelembagaan, minimnya keterlibatan perempuan, serta belum berkembangnya usaha produktif menjadi hambatan yang perlu segera diatasi.

Tim peneliti merekomendasikan penguatan sistem administrasi melalui penyusunan ulang dokumen perencanaan dan pelaporan kegiatan secara berkala. Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan juga didorong untuk membantu pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu, memperluas akses pemasaran, serta mendorong pemanfaatan jasa lingkungan seperti perdagangan karbon.

Profil Penulis

Irman Soviyan merupakan peneliti di bidang pengelolaan sumber daya hutan dan perhutanan sosial dari Universitas Mataram.

Dr. Markum adalah akademisi dan peneliti Universitas Mataram yang memiliki keahlian dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan, agroforestri, konservasi lingkungan, dan pembangunan masyarakat berbasis sumber daya alam.

Febriana Tri Wulandari adalah peneliti Universitas Mataram yang fokus pada pengelolaan sumber daya alam, kehutanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Sumber Penelitian

Judul: Evaluation of Community Forest Performance in Sesaot Village, West Lombok Regency
Penulis: Irman Soviyan, Markum, Febriana Tri Wulandari
Jurnal: Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), Vol. 6 No. 6, Juni 2026
Penerbit: MUDIMA

 


Posting Komentar

0 Komentar