Padang — Budaya kerja terbukti menjadi faktor yang lebih kuat dibanding kerja tim dalam mendorong motivasi dan kinerja pegawai di PT PLN (Persero) UPT Padang. Temuan ini diungkap dalam riset yang dilakukan Rival Sonjaya dan Eka Fauzihardani dari Universitas Negeri Padang, yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Studi ini penting karena memperlihatkan bahwa keberhasilan perusahaan utilitas tidak hanya bergantung pada sistem teknis, tetapi juga pada budaya kerja yang membentuk perilaku karyawan sehari-hari.
Di sektor ketenagalistrikan, kinerja pegawai memiliki dampak langsung pada keandalan layanan, pemeliharaan aset, hingga kecepatan penanganan gangguan. Data internal PT PLN UPT Padang menunjukkan bahwa jumlah gangguan transmisi mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir. Gangguan sempat turun dari 173 kasus pada 2020 menjadi 59 kasus pada 2022, tetapi kembali naik menjadi 104 kasus pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsistensi performa operasional masih menjadi tantangan.
Melihat situasi tersebut, Rival Sonjaya dan Eka Fauzihardani menyoroti pentingnya faktor manusia dalam organisasi. Mereka mengkaji dua aspek utama, yaitu teamwork dan work culture, serta bagaimana keduanya memengaruhi employee performance melalui work motivation sebagai penghubung.
Penelitian dilakukan terhadap seluruh 190 pegawai PT PLN (Persero) UPT Padang menggunakan metode kuantitatif dengan kuesioner skala Likert. Analisis data dilakukan menggunakan SmartPLS 4 untuk mengukur hubungan antarvariabel secara langsung maupun tidak langsung. Mayoritas responden dalam penelitian ini adalah laki-laki sebanyak 93 persen, dengan rentang usia produktif 26–35 tahun mencapai 71 persen.
Hasil awal menunjukkan bahwa performa pegawai, motivasi kerja, teamwork, dan budaya kerja masih berada dalam kategori rendah. Nilai rata-rata kinerja pegawai berada di angka 3,19, teamwork 3,10, budaya kerja 3,06, dan motivasi kerja hanya 2,88. Angka ini menandakan masih adanya ruang besar untuk perbaikan dalam sistem kerja perusahaan.
Namun temuan paling menarik muncul pada pengujian hubungan antarvariabel. Kerja tim ternyata tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pegawai. Dalam konteks PLN, kerja sama dianggap sebagai prosedur standar operasional yang wajib dilakukan, bukan faktor yang secara emosional meningkatkan semangat kerja.
Sebaliknya, budaya kerja terbukti memiliki pengaruh yang kuat terhadap motivasi pegawai. Nilai statistik menunjukkan hubungan signifikan dengan angka T-statistics 7,918 dan p-value 0,000. Artinya, semakin kuat nilai disiplin, tanggung jawab, keselamatan kerja, dan kepatuhan terhadap prosedur, semakin tinggi motivasi pegawai dalam menjalankan tugasnya.
Yang cukup mengejutkan, motivasi kerja sendiri ternyata tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap kinerja pegawai. Menurut Rival Sonjaya dari Universitas Negeri Padang, hal ini menunjukkan bahwa di sektor teknis seperti transmisi listrik, performa kerja lebih kompleks daripada sekadar dorongan pribadi. Kompetensi teknis, kesiapan alat, beban kerja, dan sistem organisasi juga berperan besar.
Meski begitu, motivasi kerja terbukti menjadi jembatan penting antara budaya kerja dan kinerja pegawai. Artinya, budaya kerja yang sehat dapat membangun motivasi internal yang kemudian berdampak pada hasil kerja yang lebih baik. Sebaliknya, hubungan antara teamwork dan kinerja tidak berhasil dimediasi oleh motivasi.
Eka Fauzihardani dari Universitas Negeri Padang menjelaskan bahwa budaya organisasi bukan hanya sekadar aturan formal, tetapi juga menjadi kekuatan psikologis yang membentuk sikap kerja pegawai. Ketika nilai-nilai perusahaan dipahami dan dihayati bersama, pegawai akan bekerja dengan rasa tanggung jawab yang lebih tinggi.
Temuan ini memberi pesan penting bagi perusahaan publik, terutama sektor utilitas seperti PLN. Meningkatkan kinerja pegawai tidak cukup hanya dengan memperkuat koordinasi kerja tim. Organisasi perlu membangun budaya kerja yang sehat, konsisten, dan mampu menciptakan rasa memiliki terhadap pekerjaan.
Dalam konteks pelayanan publik, budaya kerja yang kuat berpotensi meningkatkan kualitas layanan, mempercepat respons terhadap gangguan, dan menjaga kontinuitas distribusi listrik. Hal ini menjadi sangat relevan di tengah tuntutan masyarakat terhadap layanan energi yang semakin stabil dan cepat.
Riset ini juga membuka perspektif baru dalam manajemen sumber daya manusia. Di perusahaan berbasis teknis, budaya kerja ternyata memiliki pengaruh yang lebih nyata dibanding teamwork dalam membangun performa. Ini menjadi pengingat bahwa teknologi dan sistem tidak akan optimal tanpa didukung perilaku kerja yang kuat.
0 Komentar