Sidoarjo — Akses belajar tambahan di luar sekolah masih menjadi tantangan bagi banyak siswa sekolah dasar. Kondisi ini mendorong Nensy Megawati Simanjuntak, Imayah, Victor MTL Tobing, dan Sumartono dari Universitas Dr. Soetomo menjalankan program Learning Together Movement, sebuah gerakan bimbingan belajar gratis berbasis komunitas di Tambak Rejo, Waru, Sidoarjo. Program yang dipublikasikan pada 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa ini menunjukkan bahwa pendampingan sederhana di lingkungan tempat tinggal mampu memperkuat kemampuan membaca, berhitung, dan kepercayaan diri siswa usia dini. Temuan ini penting karena literasi dan numerasi menjadi fondasi utama keberhasilan pendidikan anak di masa depan.
Di Indonesia, kesenjangan pendidikan masih terlihat jelas, terutama pada anak-anak yang hanya mengandalkan pembelajaran formal di sekolah. Banyak siswa tidak memiliki akses terhadap dukungan belajar tambahan, baik karena keterbatasan ekonomi maupun minimnya fasilitas pendidikan di lingkungan sekitar. Situasi ini semakin terasa pada siswa kelas rendah sekolah dasar, yang sedang berada pada fase penting dalam membangun kemampuan membaca, memahami teks, dan menyelesaikan persoalan matematika sederhana.
Melalui program Learning Together Movement, tim dari Universitas Dr. Soetomo menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak. Program ini melibatkan lima siswa kelas dua dan tiga sekolah dasar yang tinggal di Tambak Rejo. Kegiatan dilakukan satu kali setiap bulan dengan suasana santai, interaktif, dan menyesuaikan kebutuhan belajar masing-masing anak.
Berbeda dari sistem pembelajaran formal yang sering terbatas waktu dan jumlah siswa dalam kelas, model komunitas ini memberikan ruang belajar yang lebih personal. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga diajak bermain sambil belajar melalui permainan edukatif, bercerita, latihan kosakata, dan diskusi sederhana.
Nensy Megawati Simanjuntak dari Universitas Dr. Soetomo menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang agar anak-anak merasa nyaman dan tidak tertekan. Lingkungan belajar yang berada di sekitar tempat tinggal membuat siswa lebih terbuka untuk bertanya, mencoba, dan berinteraksi aktif.
Selama pelaksanaan program, perubahan terlihat cukup signifikan. Pada sesi Bahasa Indonesia, beberapa siswa yang awalnya membaca terbata-bata mulai menunjukkan peningkatan kelancaran membaca. Mereka juga lebih percaya diri dalam menjelaskan kembali isi bacaan dan menjawab pertanyaan sederhana. Kosakata anak-anak bertambah, terutama ketika materi dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari.
Pada pembelajaran matematika, siswa yang sebelumnya kesulitan memahami operasi dasar seperti penjumlahan dan pengurangan mulai menunjukkan perkembangan. Mereka lebih cepat memahami konsep berhitung ketika materi disampaikan melalui permainan dan alat bantu visual. Pendekatan ini membuat matematika terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Sementara itu, pada sesi Bahasa Inggris, siswa yang awalnya malu-malu mulai lebih berani mengucapkan kosakata baru. Penggunaan gambar, lagu, dan permainan sederhana terbukti membantu mereka mengingat kata-kata baru dengan lebih cepat. Interaksi antarteman juga mendorong keberanian mereka untuk mencoba berbicara.
Yang menarik, dampak program ini tidak hanya terlihat pada kemampuan akademik. Anak-anak juga menunjukkan peningkatan motivasi belajar, rasa percaya diri, dan kemampuan bersosialisasi. Mereka menjadi lebih aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan membantu teman saat belajar bersama.
Menurut Nensy Megawati Simanjuntak dan tim dari Universitas Dr. Soetomo, keberhasilan ini menunjukkan bahwa komunitas memiliki peran penting dalam membangun ekosistem pendidikan. Belajar tidak harus selalu terjadi di ruang kelas. Lingkungan tempat tinggal juga bisa menjadi ruang tumbuh yang efektif, terutama jika didukung oleh pendampingan yang konsisten.
Meski program ini baru melibatkan lima peserta dan dilakukan sebulan sekali, dampaknya dinilai cukup besar. Tim penulis menilai bahwa jika frekuensi kegiatan ditingkatkan dan jumlah peserta diperluas, hasilnya berpotensi lebih signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di tingkat komunitas.
Studi ini memperlihatkan bahwa solusi pendidikan tidak selalu harus berskala besar atau berbasis institusi formal. Inisiatif kecil yang dekat dengan masyarakat justru bisa menjadi jembatan penting untuk mengatasi kesenjangan belajar, terutama pada fase-fase awal pendidikan anak.
Di tengah tantangan literasi nasional yang masih menjadi perhatian, model seperti Learning Together Movement dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain di Indonesia. Dengan biaya rendah, akses terbuka, dan pendekatan yang ramah anak, program ini menawarkan cara praktis untuk membangun generasi yang lebih siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan.
0 Komentar