Aktivasi Modal Sosial Jadi Kunci Inovasi Sekolah, Bukan Sekadar Hubungan yang Harmonis

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Sekolah yang memiliki hubungan akrab antar guru, siswa, orang tua, dan masyarakat belum tentu mampu berinovasi. Temuan ini disampaikan oleh Alif Firdaus Zamzam, bersama Yatim Riyanto dan Muhamad Sholeh, peneliti dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, dalam penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 7 Tahun 2026. Melalui studi terhadap dua Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, para peneliti menunjukkan bahwa keberhasilan sekolah tidak ditentukan oleh banyaknya hubungan sosial yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan pemimpin sekolah mengaktifkan hubungan tersebut menjadi kekuatan organisasi yang mendorong inovasi dan peningkatan mutu.

Temuan tersebut menjadi penting karena selama ini banyak penelitian menganggap modal sosial berupa kepercayaan, jaringan, dan norma bersama secara otomatis akan meningkatkan kualitas organisasi pendidikan. Kenyataannya, banyak sekolah yang memiliki budaya kekeluargaan yang kuat justru berjalan lambat dalam beradaptasi terhadap perubahan. Penelitian ini menawarkan sudut pandang baru bahwa hubungan sosial hanyalah potensi. Agar memberikan dampak nyata, hubungan tersebut harus diaktifkan melalui kepemimpinan yang tepat.

Para peneliti menjelaskan bahwa sekolah saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, tuntutan peningkatan mutu pendidikan, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat. Dalam kondisi tersebut, aset terpenting sekolah bukan hanya anggaran atau fasilitas, melainkan kemampuan membangun kolaborasi melalui hubungan sosial yang sehat. Namun, hubungan yang baik saja belum cukup apabila tidak diarahkan untuk menghasilkan perubahan organisasi.

Untuk memahami proses tersebut, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple-case study pada dua Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Lamongan. Kedua sekolah dipilih karena memiliki karakter budaya organisasi yang berbeda sehingga memungkinkan peneliti membandingkan bagaimana modal sosial berkembang dan dimanfaatkan. Data dikumpulkan sepanjang tahun 2026 melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru senior dan junior, tenaga kependidikan, siswa, serta orang tua. Penelitian juga dilengkapi dengan observasi lapangan dan analisis berbagai dokumen sekolah agar hasilnya lebih komprehensif.

Analisis penelitian menghasilkan empat temuan utama yang menjelaskan bagaimana modal sosial bekerja di lingkungan sekolah.

  • Pertama, modal sosial sebenarnya sudah ada, tetapi sebagian besar masih bersifat pasif. Hubungan akrab antarguru, budaya kekeluargaan, kelompok informal, hingga kepercayaan orang tua belum otomatis menghasilkan peningkatan kualitas sekolah.
  • Kedua, kepala sekolah memiliki peran penting sebagai penggerak. Pemimpin yang efektif tidak menciptakan modal sosial dari awal, tetapi mampu mengenali jaringan yang sudah ada, menyatukan tujuan bersama, lalu menggerakkannya menjadi kerja kolaboratif.
  • Ketiga, ketika modal sosial berhasil diaktifkan, hubungan informal berubah menjadi kapasitas organisasi. Dampaknya terlihat pada meningkatnya forum belajar guru, program mentoring siswa, keterlibatan orang tua, munculnya inovasi pembelajaran, hingga kemampuan sekolah beradaptasi terhadap kebijakan baru.
  • Keempat, hubungan yang terlalu tertutup juga memiliki sisi negatif. Budaya kekeluargaan yang berlebihan dapat membuat kritik dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan sehingga menghambat munculnya gagasan baru.

Salah satu kebaruan utama penelitian ini adalah konsep social capital activation atau aktivasi modal sosial. Peneliti menjelaskan bahwa proses tersebut berlangsung melalui empat tahapan yang saling berkaitan.

Tahap pertama adalah recognition, yaitu mengenali siapa saja yang memiliki pengaruh dan jaringan kuat di dalam organisasi. Tahap kedua adalah alignment, yakni menyelaraskan kepentingan individu dengan tujuan sekolah sehingga seluruh warga sekolah merasa memiliki arah yang sama. Tahap ketiga adalah mobilisation, yaitu menggerakkan jaringan yang telah terbentuk menjadi program nyata, kolaborasi, dan inovasi. Tahap terakhir adalah institutionalisation, yakni menjadikan praktik-praktik tersebut sebagai budaya dan sistem sekolah agar tetap berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.

Penelitian juga menemukan bahwa kepercayaan menjadi faktor penentu keberhasilan proses tersebut. Sekolah yang memiliki kepemimpinan transparan dan konsisten lebih mudah mengajak guru menerima kebijakan baru karena muncul rasa percaya terhadap pimpinan. Sebaliknya, ketika tingkat kepercayaan rendah, kebijakan yang sama cenderung memunculkan kecurigaan dan penolakan. Dengan kata lain, kepercayaan menjadi "pengubah energi" yang menentukan apakah hubungan sosial akan berubah menjadi motivasi atau justru menjadi sumber konflik.

Di sisi lain, penelitian mengingatkan bahwa modal sosial juga memiliki sisi gelap. Budaya organisasi yang terlalu menekankan loyalitas dapat membatasi kebebasan menyampaikan kritik. Informasi hanya beredar pada kelompok tertentu, sementara guru muda merasa kurang memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan baru. Kondisi tersebut membuat inovasi berjalan lambat meskipun hubungan antarwarga sekolah tampak harmonis. Peneliti menilai bahwa sekolah perlu memperkuat hubungan lintas kelompok atau bridging social capital agar ide-ide baru dapat terus berkembang.

Temuan ini memberikan implikasi yang luas bagi dunia pendidikan. Kepala sekolah tidak cukup berperan sebagai administrator, tetapi juga sebagai penggerak hubungan sosial di lingkungan sekolah. Kebijakan pendidikan yang hanya berfokus pada peningkatan sarana dan sumber daya manusia perlu dilengkapi dengan strategi membangun kepercayaan, memperkuat kolaborasi, dan menciptakan ruang dialog yang terbuka. Dengan demikian, inovasi sekolah tidak bergantung pada individu tertentu, melainkan menjadi bagian dari budaya organisasi yang berkelanjutan.

Menurut Alif Firdaus Zamzam dan tim peneliti dari Universitas Negeri Surabaya serta Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, hubungan sosial baru akan menjadi kekuatan organisasi apabila secara sadar dikenali, diarahkan, dan dikelola oleh pemimpin sekolah. Mereka menegaskan bahwa sekolah yang berhasil bukanlah sekolah yang memiliki hubungan paling banyak, melainkan sekolah yang mampu mengubah hubungan tersebut menjadi pembelajaran, inovasi, dan kapasitas organisasi yang berkelanjutan.

Profil Penulis

Alif Firdaus Zamzam merupakan peneliti yang berafiliasi dengan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, dengan fokus kajian pada kepemimpinan pendidikan, modal sosial, pengembangan kapasitas organisasi, dan inovasi sekolah.

Prof. Dr. Yatim Riyanto merupakan akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang memiliki keahlian di bidang pendidikan, kepemimpinan pembelajaran, dan pengembangan organisasi pendidikan.

Muhamad Sholeh merupakan akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang menekuni bidang manajemen pendidikan, pengembangan organisasi, serta peningkatan mutu sekolah.

Sumber Penelitian

Zamzam, A. F., Riyanto, Y., & Sholeh, M. (2026). From Social Capital to Organizational Capacity: Activating Relational Resources for School Innovation. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 7, 2026. DOI: 10.55927/fjst.v5i7.120. URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar