Aceh Besar Hadapi Tantangan Efektivitas Anggaran Pendidikan Meski Pengelolaan Sumber Daya Dinilai Efisien

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Aceh Besar -  Pengelolaan anggaran dan pembiayaan pendidikan di Kabupaten Aceh Besar periode 2020 hingga Oktober 2023 menunjukkan capaian yang kontras antara efektivitas program dan efisiensi pengeluaran. Berdasarkan studi terbaru yang dirilis oleh tim peneliti Departemen Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Merdeka Malang, manajemen keuangan sektor pendidikan di wilayah tersebut dinilai efisien namun masih kurang efektif akibat ketidaksesuaian perencanaan serta kendala pencatatan data.

Penelitian multidisiplin ini digarap oleh Chandra Dinata, Durratun Nashihah, Akbar Pandu Dwinugraha, Ahmad Luthfi, I Made Arie Widyasthana Wartana Putra, dan Ilham Nur Hanifan Maulana pada tahun 2025. Hasil kajian ini menjadi sangat krusial mengingat Aceh Besar memikul tanggung jawab besar dalam mencetak sumber daya manusia unggul di Provinsi Aceh, sekaligus menjadi acuan penting bagi pembuat kebijakan daerah untuk menyelaraskan perencanaan anggaran dengan realisasi nyata di lapangan.

Kesenjangan Data dan Tantangan Sektoral

Pemerintah Indonesia secara konstitusional mewajibkan alokasi dana pendidikan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) demi menjamin hak belajar masyarakat. Di Aceh Besar, pelaksanaan pendidikan kini mengacu pada Qanun Nomor 1 Tahun 2022 tentang Sistem Pendidikan Terpadu. Kendati payung hukum dan komitmen dana telah tersedia, mutu pendidikan di lapangan masih dihadapkan pada kendala klasik seperti kesenjangan infrastruktur dan distribusi tenaga pendidik yang belum merata.

Dalam studi ini, para peneliti menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif yang diperkuat oleh analisis indikator kinerja kuantitatif dan statistik pendidikan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui metode observasi langsung, diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD), serta wawancara mendalam bersama pejabat Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru, hingga tokoh masyarakat setempat. Tim mengombinasikan metode analisis sistem Input-Process-Output-Outcome (IPOO), analisis biaya-manfaat (Cost and Benefit Analysis), dan analisis SWOT guna memetakan performa finansial serta kapasitas institusional daerah secara utuh.

Temuan Utama: Anggaran Efisien tetapi Kurang Efektif

Analisis data keuangan dari rentang waktu 2020 hingga Oktober 2023 mengungkap potret mendalam mengenai kondisi finansial pendidikan di Aceh Besar:

  • Efektivitas Anggaran Masuk Kategori Kurang Efektif: Rata-rata skor efektivitas anggaran dalam periode tersebut hanya mencapai 75,96%. Penurunan drastis terlihat pada tahun 2023, di mana tingkat efektivitas anjlok menjadi 20,64% (Kategori Tidak Efektif) dari yang semula mencapai 98,52% (Efektif) pada tahun 2020. Penurunan tajam ini dipicu oleh rendahnya realisasi anggaran pada tahun 2023 yang hingga bulan Oktober baru menyentuh angka Rp17,29 miliar dari total pagu anggaran sebesar Rp83,79 miliar.
  • Efisiensi Anggaran Berstatus Efisien: Berbeda dengan efektivitasnya, pengukuran efisiensi justru mencatatkan rata-rata skor yang baik sebesar 60,05%. Pada tahun 2020 hingga 2022, pengelolaan pengeluaran masuk dalam kategori "Sangat Efisien" karena proporsi belanja tidak langsung (seperti gaji dan tunjangan pegawai) mampu diseimbangkan dengan alokasi belanja langsung untuk proyek fisik. Namun, pada tahun 2023 statusnya berubah menjadi "Kurang Efisien" (98,51%) karena belanja langsung tercatat jauh lebih tinggi dibanding belanja tidak langsung tanpa diimbangi output program yang optimal.
  • Ketimpangan Distribusi Siswa dan Guru: Ketidakseimbangan fasilitas terlihat jelas di tingkat sub-distrik. Kecamatan Darul Imarah mendominasi jumlah siswa terbanyak dengan 4.325 murid SD dan 2.056 murid SMP. Sebaliknya, Kecamatan Krung Barona Jaya memiliki 847 siswa SD namun tidak memiliki sekolah menengah pertama (SMP) satu pun. Kondisi ini linear dengan distribusi guru yang menumpuk di area perkotaan, sementara wilayah terluar seperti Pulo Aceh dan Leupung mengalami krisis tenaga pengajar.

Strategi Berbasis Inovasi dan Kemitraan

Durratun Nashihah bersama tim peneliti Universitas Merdeka Malang menggarisbawahi bahwa persoalan utama pembiayaan pendidikan di Aceh Besar bukanlah ketiadaan dana, melainkan lambatnya konversi dari perencanaan anggaran menuju realisasi fisik dan hasil pembelajaran yang terukur. Sekitar 60 persen dari realisasi anggaran yang ada selama ini masih didominasi oleh pembangunan sarana fisik sekolah, sementara bantuan operasional untuk lembaga penyelenggara pendidikan porsinya jauh lebih kecil.

Berdasarkan hasil analisis SWOT, tim peneliti merekomendasikan strategi integratif yang menggabungkan kekuatan internal daerah dengan peluang eksternal (S-O atau Strength-Opportunity). Langkah konkret yang perlu diambil oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar meliputi:

  1. Penyelerasan Realisasi dan Pelaporan: Mengakselerasi proses pengadaan barang/jasa serta memperkuat tata kelola pelaporan keuangan daerah agar tidak terjadi jeda pencatatan data yang masif di akhir tahun anggaran.
  2. Pemerataan Sektoral Berbasis Spasial: Mengalihkan fokus intervensi anggaran ke wilayah-wilayah pinggiran yang minim fasilitas, guna membangun akses pendidikan menengah dan mendistribusikan guru secara merata.
  3. Kemitraan Multipihak: Membuka ruang inovasi pendanaan melalui kolaborasi bersama sektor swasta, komunitas lokal, dan lembaga non-pemerintah, alih-alih hanya bertumpu pada dana APBD demi menekan ketergantungan pada guru kontrak dan mendukung pengembangan kurikulum lokal.

Profil Peneliti

Riset ini dipimpin oleh Chandra Dinata bersama rekan penelitinya, Durratun Nashihah, S.AP., M.AP., seorang akademisi dan staf pengajar di Departemen Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Merdeka Malang. Durratun memiliki kepakaran ilmiah di bidang Tata Kelola Sektor Publik, Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Manajemen Kebijakan Keuangan Daerah. Dalam proyek riset ini, ia berkolaborasi aktif dengan Akbar Pandu Dwinugraha, Ahmad Luthfi, I Made Arie Widyasthana Wartana Putra, dan Ilham Nur Hanifan Maulana dalam menganalisis data statistik pendidikan di wilayah Sumatra.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar