UMKM Olahan Tempe Hadapi Hambatan Ekspor, Rumah Tempe Indonesia Pilih Strategi Bertahap

Ilustrasi by AI

Jakarta — Peluang ekspor produk makanan olahan Indonesia terus terbuka lebar, tetapi kesiapan pelaku UMKM masih menjadi tantangan besar. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang ditulis oleh Irna Kumala, Adhis Darussalam Pamungkas, Rosalina Dewi Heryani, dan Nur Hamidah dari Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Studi ini mengulas hambatan ekspor yang dihadapi Rumah Tempe Indonesia (RTI), salah satu UMKM pengolahan tempe di Bogor yang mulai mengembangkan pasar internasional.

Penelitian ini menjadi penting karena UMKM makanan olahan selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Selain menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sektor ini juga berperan mengubah bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah. Namun, di tengah peluang pasar global yang terus berkembang, khususnya untuk makanan sehat dan berbasis nabati, banyak UMKM masih kesulitan masuk ke pasar ekspor.

Tempe menjadi salah satu contoh produk lokal dengan potensi global yang tinggi. Sebagai makanan fermentasi khas Indonesia, tempe memiliki nilai gizi tinggi, citra budaya yang kuat, dan tren positif di pasar makanan sehat dunia. Meski begitu, produk ini menghadapi tantangan unik seperti daya tahan produk, standar keamanan pangan, sertifikasi, hingga sistem distribusi rantai dingin.

Tim peneliti melakukan studi lapangan selama empat bulan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi digunakan untuk memahami secara detail hambatan internal maupun eksternal yang dialami RTI dalam upaya ekspor. Analisis dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang menekankan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan ekspor RTI tidak berasal dari satu faktor saja, melainkan kombinasi dari berbagai kendala. Dari sisi internal, kapasitas produksi menjadi tantangan utama. Sebagai UMKM, RTI belum bisa meningkatkan volume produksi besar secara cepat tanpa mengorbankan kualitas fermentasi dan konsistensi produk.

Selain itu, masalah pembiayaan juga menjadi penghambat serius. Aktivitas ekspor membutuhkan biaya tambahan untuk sertifikasi, pengemasan khusus, logistik, hingga modal kerja sebelum produk benar-benar terjual. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, risiko ekspansi menjadi lebih besar.

Pengetahuan ekspor juga masih menjadi hambatan penting. Pengurusan dokumen ekspor, kode HS, incoterms, komunikasi dengan pembeli internasional, serta kepatuhan pada regulasi negara tujuan membutuhkan keterampilan khusus. Tanpa sumber daya manusia yang memadai, proses ini rentan mengalami kesalahan administratif dan keterlambatan.

Dari sisi eksternal, penelitian menemukan hambatan terbesar justru berasal dari persyaratan non-tarif. Produk makanan olahan harus memenuhi standar keamanan pangan, label nutrisi, sertifikasi halal, dan standar higienitas yang berbeda di setiap negara tujuan. Bagi produk fermentasi seperti tempe, tantangan ini menjadi lebih kompleks karena kualitas sangat dipengaruhi suhu dan penanganan selama pengiriman.

RTI sendiri mengembangkan strategi adaptif untuk menghadapi situasi ini. Salah satu langkah utama adalah memproduksi tempe beku (frozen tempe) agar lebih tahan dalam distribusi jarak jauh. Strategi ini memungkinkan produk tetap stabil secara nutrisi dan tekstur saat dikirim ke luar negeri.

Selain itu, RTI juga menerapkan strategi diferensiasi berbasis kualitas. Produk mereka tidak hanya dijual sebagai tempe biasa, tetapi diposisikan sebagai produk premium yang higienis, aman, dan memiliki nilai kesehatan tinggi. Strategi ini membuat RTI menyasar pasar tertentu yang lebih menghargai kualitas dibanding harga murah.

Penelitian juga mengungkap bahwa RTI masih sangat bergantung pada kedelai impor, terutama dari Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil. Ketergantungan ini menjadi tantangan tersendiri karena harga dan pasokan sering dipengaruhi kondisi pasar global. Untuk mengatasi hal tersebut, RTI menerapkan sistem grading bahan baku, mulai dari kedelai GMO, non-GMO, hingga organik sesuai kebutuhan pasar.

Menurut Irna Kumala dan tim dari Universitas Indraprasta PGRI, ekspor bagi UMKM makanan olahan tidak bisa dilakukan secara instan. Kesiapan internal harus dibangun terlebih dahulu, mulai dari kualitas produk, kapasitas produksi, pembiayaan, hingga literasi ekspor.

Temuan ini memberi pesan penting bagi pemerintah. Program pendampingan ekspor bagi UMKM sebaiknya tidak hanya fokus membuka akses pasar luar negeri, tetapi juga memperkuat fondasi internal bisnis melalui pelatihan, bantuan sertifikasi, akses pembiayaan, dan dukungan logistik.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, penelitian ini menunjukkan bahwa produk tradisional seperti tempe memiliki peluang besar di pasar global, asalkan dikembangkan dengan strategi yang tepat, kualitas terjaga, dan nilai produk dapat dikomunikasikan dengan baik.

Profil Penulis
Irna Kumala, Adhis Darussalam Pamungkas, Rosalina Dewi Heryani, Nur Hamidah — Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta

Sumber Penelitian
Export Barriers of Processed Food MSMEs: A Case Study of Rumah Tempe Indonesia
International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), 2026

Posting Komentar

0 Komentar