Teknologi Penginderaan Jauh Pascabencana Beralih ke AI dan Drone, Ini Temuan Terbarunya

Ilustrasi by AI

Bogor — Teknologi penginderaan jauh (remote sensing) untuk menilai kerusakan lingkungan pascabencana sedang mengalami transformasi besar. Jika sebelumnya pemantauan kerusakan lebih banyak mengandalkan citra satelit konvensional dan analisis manual, kini kecerdasan buatan (AI), drone, radar canggih, dan sensor beresolusi tinggi menjadi tulang punggung baru dalam pemulihan ekosistem pascabencana.

Temuan tersebut dipaparkan oleh Raffy Bagus Prayudha, Trismadi, dan Syachrul Arief dari Universitas Pertahanan Indonesia (Indonesian Defense University) dan Badan Informasi Geospasial (BIG) dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS).

Penelitian ini penting karena memberikan gambaran menyeluruh mengenai perkembangan teknologi penginderaan jauh selama satu dekade terakhir serta menunjukkan arah masa depan sistem pemantauan kerusakan lingkungan akibat gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, longsor, dan berbagai bencana lainnya.

Ledakan Publikasi dalam Satu Dekade

Tim peneliti menganalisis 329 artikel ilmiah yang terindeks Scopus dan terbit antara 2016 hingga 2025. Analisis bibliometrik dilakukan menggunakan perangkat Biblioshiny dan VOSviewer untuk memetakan tren penelitian global, negara paling produktif, serta perkembangan topik yang paling banyak diteliti.

Hasilnya menunjukkan pertumbuhan publikasi yang sangat pesat. Pada periode 2016–2019, jumlah penelitian masih relatif stabil dengan rata-rata sekitar 12 artikel per tahun. Namun sejak 2020 terjadi lonjakan signifikan, dan pada 2025 jumlah publikasi mencapai 75 artikel, menjadi angka tertinggi selama periode pengamatan.

Menurut peneliti, peningkatan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi dan geologi yang dipicu perubahan iklim global. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan teknologi yang mampu menyediakan informasi cepat dan akurat untuk mendukung proses tanggap darurat dan pemulihan lingkungan.

China, Amerika Serikat, dan India Memimpin

Peta penelitian global menunjukkan bahwa negara-negara dengan kemampuan teknologi antariksa yang kuat masih mendominasi pengembangan teknologi penginderaan jauh.

China menempati posisi pertama dengan 93 publikasi, disusul Amerika Serikat dengan 45 publikasi dan India dengan 37 publikasi. Ketiga negara tersebut memiliki satelit observasi bumi sendiri, infrastruktur komputasi yang kuat, serta tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai jenis bencana alam.

Sementara itu, Jepang menunjukkan tingkat kolaborasi internasional tertinggi. Hampir separuh publikasi yang dihasilkan melibatkan kerja sama lintas negara. Temuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi global menjadi faktor penting dalam transfer teknologi mitigasi bencana ke negara-negara berkembang yang rentan terhadap risiko bencana.

Tiga Pilar Utama Teknologi Pascabencana

Analisis kata kunci dan jaringan penelitian mengungkap bahwa perkembangan teknologi penginderaan jauh saat ini bertumpu pada tiga pilar utama.

1. Satelit Optik untuk Evaluasi Risiko Skala Besar

Kelompok pertama berfokus pada penggunaan satelit optik untuk memantau kondisi lingkungan dalam cakupan wilayah yang luas.

Teknologi ini digunakan untuk mengidentifikasi area kebakaran hutan, perubahan tutupan lahan, kerusakan vegetasi, hingga dampak banjir dan gempa bumi. Berbagai indeks vegetasi seperti NDVI memungkinkan peneliti mengukur tingkat kerusakan ekosistem secara cepat tanpa harus melakukan survei lapangan yang memakan waktu dan biaya besar.

Meski memiliki keterbatasan saat cuaca buruk, satelit optik tetap menjadi sumber data dasar yang sangat penting dalam perencanaan rehabilitasi lingkungan.

2. Kecerdasan Buatan dan Drone untuk Deteksi Otomatis

Pilar kedua merupakan perkembangan paling revolusioner dalam satu dekade terakhir.

Drone yang dilengkapi kamera multispektral mampu menghasilkan citra beresolusi sangat tinggi dan memberikan gambaran rinci mengenai tingkat kerusakan lingkungan. Namun jumlah data yang sangat besar memerlukan sistem analisis otomatis.

Di sinilah kecerdasan buatan berperan. Algoritma machine learning dan deep learning kini digunakan untuk mendeteksi kerusakan bangunan, perubahan vegetasi, area longsor, hingga wilayah terdampak banjir secara otomatis dan jauh lebih cepat dibandingkan metode manual.

Peneliti menemukan bahwa tren penggunaan AI meningkat tajam sejak 2023 dan menjadi salah satu topik penelitian paling dominan hingga 2025.

3. Radar dan LiDAR untuk Kondisi Cuaca Ekstrem

Pilar ketiga berfokus pada sensor aktif seperti Synthetic Aperture Radar (SAR) dan LiDAR.

Berbeda dengan satelit optik yang membutuhkan cahaya matahari dan langit cerah, radar mampu menembus awan tebal, hujan deras, bahkan beroperasi pada malam hari. Kemampuan ini sangat penting dalam fase awal pascabencana ketika kondisi cuaca sering kali masih buruk.

Teknologi Sentinel-1, TerraSAR-X, dan LiDAR terbukti efektif mendeteksi deformasi tanah pascagempa, memetakan wilayah banjir dengan akurasi tinggi, serta mengidentifikasi potensi longsor lanjutan yang mungkin terjadi setelah bencana utama.

Pergeseran dari Observasi ke Prediksi

Salah satu kesimpulan paling penting dari penelitian ini adalah terjadinya pergeseran paradigma dalam pengelolaan bencana.

Penginderaan jauh tidak lagi berfungsi hanya sebagai alat dokumentasi kerusakan setelah bencana terjadi. Teknologi tersebut kini berkembang menjadi sistem pendukung keputusan yang mampu melakukan analisis otomatis dan bahkan membantu memprediksi risiko di masa depan.

Menurut Raffy Bagus Prayudha dan tim, integrasi data dari berbagai sensor dengan algoritma kecerdasan buatan akan menjadi kunci dalam mempercepat proses pemulihan lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana berikutnya.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa sistem AI masih memerlukan validasi lapangan yang kuat untuk memastikan hasil analisis benar-benar sesuai dengan kondisi nyata di lokasi bencana.

Manfaat bagi Indonesia

Bagi Indonesia yang berada di kawasan rawan gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, dan longsor, perkembangan teknologi ini memiliki nilai strategis yang sangat besar.

Pemanfaatan drone, radar, satelit, dan kecerdasan buatan dapat membantu pemerintah memperoleh informasi kerusakan secara lebih cepat, mempercepat distribusi bantuan, menentukan prioritas rehabilitasi lingkungan, serta mengurangi risiko kerugian yang lebih besar.

Penelitian ini juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur data spasial nasional yang terintegrasi serta penguatan kerja sama internasional agar teknologi mitigasi bencana dapat dimanfaatkan secara lebih merata oleh negara-negara berkembang.

Profil Penulis

Raffy Bagus Prayudha
Peneliti dan akademisi pada Universitas Pertahanan Indonesia (Indonesian Defense University).

Trismadi
Peneliti dan akademisi pada Universitas Pertahanan Indonesia (Indonesian Defense University).

Syachrul Arief
Peneliti dan akademisi pada Universitas Pertahanan Indonesia (Indonesian Defense University).

Sumber Penelitian

Judul: Mapping the Evolution of Remote Sensing Technologies in Post-Disaster Ecological Assessment: A Bibliometric Analysis
Penulis: Raffy Bagus Prayudha, Trismadi, Syachrul Arief
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 6
Tahun: 2026
Halaman: 427–444
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i6.464
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar