Stres Kerja Guru SD Masih Jadi Tantangan Serius di Sekolah Dasar

Ilustrasi by AI

Sorsogon — Beban kerja yang menumpuk, tekanan administratif, hingga masalah kedisiplinan siswa masih menjadi sumber utama stres kerja bagi guru sekolah dasar. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang dilakukan Mira Llarena Deuna dan Susan S. Janer dari Sorsogon State University pada tahun ajaran 2025–2026. Studi ini penting karena menunjukkan bahwa kesejahteraan guru tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kualitas pembelajaran di sekolah.

Penelitian yang diterbitkan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) tersebut menyoroti kondisi stres kerja yang dialami guru sekolah dasar di Bacon East District, Filipina. Dalam dunia pendidikan dasar, guru menghadapi tantangan yang kompleks. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga harus mengurus laporan administrasi, menghadiri rapat, berkomunikasi dengan orang tua, hingga menjalankan berbagai program sekolah dalam waktu yang terbatas.

Di tengah tuntutan yang semakin besar, guru sering kali harus menyeimbangkan tugas profesional dengan kehidupan pribadi. Hal inilah yang menjadikan stres kerja sebagai isu yang terus mendapat perhatian di sektor pendidikan.

Untuk memahami kondisi tersebut, peneliti mengumpulkan data dari 125 guru tetap sekolah dasar dari total 146 guru di distrik tersebut. Data diperoleh melalui kuesioner khusus yang dirancang untuk mengukur tingkat stres kerja berdasarkan lima aspek utama, yakni struktur organisasi dan iklim kerja, efisiensi pribadi dan profesional, hubungan interpersonal, keseimbangan rumah dan pekerjaan, serta faktor lingkungan sekolah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh aspek stres kerja berada pada kategori sedang. Meski tidak tergolong tinggi, tingkat ini tetap cukup signifikan dan membutuhkan perhatian serius.

Beban terbesar ditemukan pada aspek struktur organisasi dan iklim kerja. Guru paling banyak merasa tertekan karena harus menangani banyak tanggung jawab dalam waktu singkat. Tugas mengajar yang bercampur dengan pekerjaan administratif menjadi kombinasi yang paling menguras energi.

Mira Llarena Deuna dari Sorsogon State University menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan tekanan institusional masih menjadi sumber utama stres guru. Menurutnya, sistem kerja yang padat membuat guru sulit memiliki ruang pemulihan yang cukup.

Di aspek efisiensi pribadi dan profesional, kurangnya pelatihan untuk memenuhi tuntutan profesi menjadi pemicu utama stres. Banyak guru merasa harus beradaptasi dengan kebijakan baru dan perubahan sistem pendidikan tanpa persiapan yang memadai.

Sementara itu, dalam hubungan interpersonal, interaksi dengan orang tua siswa dan minimnya dukungan keluarga terhadap proses belajar juga menjadi sumber tekanan. Temuan ini memperlihatkan bahwa tantangan guru tidak hanya datang dari dalam sekolah, tetapi juga dari luar lingkungan kerja.

Pada aspek keseimbangan rumah dan pekerjaan, masalah keuangan menjadi faktor dominan. Gaji yang dianggap belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga ternyata berdampak pada konsentrasi dan kenyamanan kerja guru. Hal ini memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi tetap menjadi bagian penting dalam pembahasan kesejahteraan tenaga pendidik.

Masalah disiplin siswa juga muncul sebagai faktor lingkungan yang cukup membebani guru. Mengelola perilaku siswa setiap hari memerlukan energi emosional yang besar, terutama di tingkat sekolah dasar.

Penelitian ini juga menemukan bahwa posisi jabatan, tingkat pendidikan, dan tingkat kelas yang diajar memiliki hubungan dengan beberapa jenis stres tertentu. Namun, lama pengalaman kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Artinya, baik guru baru maupun guru senior sama-sama rentan mengalami tekanan kerja.

Sebagai solusi, peneliti mengembangkan TEACHER CARE Handbook, sebuah panduan manajemen stres berbasis temuan lapangan. Buku panduan ini dirancang untuk membantu guru mengenali sumber stres, mengatur beban kerja, memperkuat komunikasi, menjaga keseimbangan hidup, dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum atau fasilitas, tetapi juga pada kondisi psikologis guru. Ketika guru merasa sehat secara mental dan emosional, kualitas belajar siswa pun berpotensi meningkat.

Di tengah berbagai reformasi pendidikan global, hasil riset ini memberi pesan penting: menjaga kesehatan mental guru adalah investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan.

Profil Penulis
Mira Llarena Deuna — Sorsogon State University
Susan S. Janer — Sorsogon State University

Sumber Penelitian:
Occupational Stressors of Elementary Teachers as Inputs for Stress Management Program
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026

Posting Komentar

0 Komentar