Strategi Baru Gereja Papua Ubah Pola Asuh Anak Jalanan Sentani Melalui Teologi Kerja dan Kemandirian Vokasional

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Sentani - Fenomena anak jalanan di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, membutuhkan penanganan konkret yang melampaui sekadar bantuan santunan atau karitas. Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Kresbinol Labobar, peneliti sekaligus akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani, menunjukkan bahwa gereja lokal memiliki peluang strategis untuk memutus rantai kemiskinan struktural anak jalanan melalui integrasi teologi kerja dan program pemberdayaan berbasis nilai budaya lokal Papua.

Studi yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) edisi Juni 2026 ini menekankan pentingnya pergeseran paradigma pelayanan gereja. Menurut Labobar, model pelayanan yang selama ini diterapkan di Sentani sebagian besar masih bersifat bantuan darurat (charity-oriented) seperti pemberian makanan atau pakaian secara temporer. Pola tersebut dinilai belum menyentuh akar permasalahan kemiskinan, penurunan kualitas pengasuhan keluarga, serta pengucilan sosial yang dialami anak-anak di jalanan.

Akar Masalah Anak Jalanan di Sentani

Keberadaan anak jalanan di Sentani bukan merupakan isu tunggal, melainkan dampak akumulatif dari kemiskinan struktural, keretakan hubungan keluarga (disintegrasi keluarga), penelantaran orang tua, hingga keterbatasan akses terhadap pendidikan formal yang layak. Di lingkungan jalanan Sentani, anak-anak rentan terpapar perilaku menyimpang seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, putus sekolah, hingga penyalahgunaan zat adiktif seperti menghirup lem (aibon).

Secara sosiologis, pemisahan anak dari ikatan keluarga dan komunitas adat di Papua memicu dampak psikologis yang mendalam. Anak-anak kehilangan ruang aman (safe space) dan identitas sosial mereka sebagai masyarakat komunal. Oleh karena itu, pendekatan pemulihan tidak bisa lagi bertumpu pada intervensi individual anak semata, melainkan harus melibatkan pemulihan ekosistem keluarga dan keterlibatan aktif lembaga keagamaan seperti gereja.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan pendekatan teologi kontekstual. Pengumpulan data dilakukan secara mendalam sepanjang paruh pertama tahun 2026 melalui teknik wawancara tatap muka, observasi partisipatif langsung di lapangan, serta analisis dokumen resmi.

Informan kunci yang dilibatkan dipilih menggunakan metode purposive sampling, yang terdiri atas para pemimpin gereja setempat, pekerja sosial komunitatif, orang tua dari anak jalanan, serta anak-anak rentan yang berada di wilayah pelayanan iman lokal Sentani. Seluruh data dianalisis secara tematis guna memetakan pola pelayanan gereja saat ini serta merumuskan model integratif yang relevan untuk konteks lokal Papua. Validitas data dijamin melalui metode triangulasi sumber dan teknik.

Temuan Utama: Model Diakonia Transformatif Berbasis Teologi Kerja

Penelitian Kresbinol Labobar menghasilkan peta jalan baru yang mengaitkan dogma spiritualitas dengan aksi sosial nyata (diakonia transformatif). Dalam pandangan Kristen, manusia diciptakan sebagai Imago Dei (gambar dan rupa Allah) yang memiliki martabat mulia dan panggilan asali untuk mengelola bumi melalui kerja produktif.

Labobar memaparkan lima pilar utama dalam model integratif penanganan anak jalanan berbasis teologi kerja:

  1. Pengembangan Soft Skills (Keterampilan Interpersonal): Meliputi pelatihan komunikasi efektif, penumbuhan empati, kedisiplinan, serta kerja sama tim untuk memulihkan kapasitas adaptasi sosial anak jalanan agar terbebas dari stigma negatif masyarakat.
  2. Pengembangan Hard Skills (Keterampilan Teknis Vokasional): Pembekalan keahlian praktis yang sesuai dengan kebutuhan pasar lokal di Papua, seperti pelatihan kewirausahaan, seni kriya, pertanian komoditas lokal, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna demi kemandirian ekonomi masa depan.
  3. Pengembangan Life Skills (Keterampilan Hidup): Melatih kemampuan manajemen waktu, pengambilan keputusan secara bijak, dan pemecahan masalah harian agar anak-anak mampu keluar dari pola hidup jalanan yang tidak terstruktur.
  4. Jalur Vokasional (Vocational Pathway): Pendampingan berkelanjutan untuk mengenali minat, bakat, serta potensi unik masing-masing anak, guna menjembatani mereka kembali ke dunia pendidikan formal atau kesiapan memasuki lapangan kerja yang aman.
  5. Literasi Digital (Digital Literacy): Edukasi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara kritis dan produktif agar anak-anak Papua mampu bersaing di era digital serta mengakses informasi edukatif secara sehat.

Di samping pembekalan kecakapan kerja, gereja didorong untuk melaksanakan program restorasi psikospiritual yang mencakup tiga aspek:

  • Pelatihan Formasi Spiritual: Reorientasi iman untuk meyakinkan anak-anak bahwa mereka berharga di mata Tuhan, guna memulihkan trauma penolakan keluarga.
  • Penyembuhan Trauma (Trauma Healing): Konseling pastoral dan psikologis berbasis komunitas untuk menyembuhkan luka batin akibat kekerasan jalanan atau penelantaran.
  • Pembentukan Karakter: Penanaman nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab moral sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Implikasi dan Dampak Kebijakan

Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan dampak strategis bagi tiga sektor utama:

  • Bagi Masyarakat dan Tokoh Adat: Mengembalikan sistem nilai kebersamaan komunal asli Papua untuk menyambut kembali anak jalanan tanpa stigma negatif melalui pemulihan hubungan keluarga.
  • Bagi Lembaga Keagamaan (Gereja): Mengubah orientasi pelayanan dari sekadar donasi materi yang bersifat konsumtif menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan literasi yang berkelanjutan. Gereja bertindak sebagai agen profetik yang aktif memutus mata rantai kemiskinan jamaah.
  • Bagi Kebijakan Publik: Menjadi bahan rekomendasi bagi Dinas Sosial dan Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura dalam menyusun program perlindungan anak berbasis kemitraan keagamaan, guna mengatasi hambatan struktural yang selama ini dihadapi oleh program penanganan formal milik pemerintah.

"Gereja tidak boleh menjaga jarak dari realitas sosial yang rapuh. Pemberdayaan anak jalanan dengan membekali mereka keterampilan kerja vokasional merupakan perwujudan nyata dari iman Kristen yang hidup dan transformatif," ungkap Kresbinol Labobar dalam kutipan akademiknya.

Profil Penulis

  • Nama Lengkap: Kresbinol Labobar, S.Th., M.Pd.
  • Afiliasi: Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani, Papua, Indonesia.
  • Bidang Keahlian: Teologi Praktika, Diakonia Sosial, Teologi Kontekstual Papua, dan Pendidikan Karakter Anak.
  • Kontak Korespondensi: pdtchreslabobar@gmail.com

Sumber Riset Publikasi:

Posting Komentar

0 Komentar