Sosialisasi TPKJM di Tingkat Desa Tingkatkan Kapasitas Penanganan Kesehatan Jiwa di Kalimantan

Ilustrasi by AI

Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Ngudi Waluyo berhasil meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan mengenai kesehatan jiwa melalui sosialisasi Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) di Kabupaten Kotawaringin Barat pada 2025. Program ini krusial untuk mengatasi tantangan kesehatan jiwa di tingkat akar rumput, seperti rendahnya deteksi dini dan keterlambatan rujukan.

Latar Belakang dan Masalah

Kesehatan jiwa merupakan komponen vital kesejahteraan masyarakat, namun sering kali terabaikan. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional mencapai 9,8% di Indonesia. Meskipun pemerintah daerah telah membentuk TPKJM di tingkat kabupaten, efektivitasnya terhambat karena belum adanya unit operasional di tingkat kecamatan dan desa. Hal ini mengakibatkan penanganan kasus yang masih sporadis, reaktif, dan kurangnya koordinasi lintas sektor.

Metodologi

Kegiatan ini menggunakan pendekatan keterlibatan masyarakat yang menekankan kolaborasi multisektoral. Sebanyak 106 peserta, yang terdiri dari kepala puskesmas, pejabat kecamatan/desa, dan kader kesehatan, mengikuti sosialisasi interaktif. Penilaian dilakukan melalui metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan literasi kesehatan jiwa, pemahaman struktur TPKJM, serta prosedur koordinasi penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Temuan Utama

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta setelah mengikuti sosialisasi:

  • ·         Sebelum kegiatan, 19,8% peserta berada dalam kategori pemahaman "rendah", 64,1% "sedang", dan 16,0% "tinggi".
  • ·         Setelah sosialisasi, tidak ada lagi peserta dalam kategori "rendah", sementara 64,1% peserta telah mencapai kategori pemahaman "tinggi".
  • ·         Skor rata-rata pemahaman peserta meningkat dari 79,94 menjadi 86,59.

Implikasi dan Dampak

Peningkatan kapasitas ini menjadi langkah awal krusial untuk membangun sistem kesehatan jiwa yang responsif dan terintegrasi hingga ke tingkat desa. Melalui pembentukan TPKJM di tingkat kecamatan dan desa, proses deteksi dini, pendampingan, dan rehabilitasi diharapkan menjadi lebih sistematis. Menurut Muhammad Yunani dan tim dari Universitas Ngudi Waluyo, keberlanjutan program ini memerlukan dukungan regulasi formal, alokasi anggaran, serta monitoring rutin agar kesehatan jiwa dapat masuk dalam prioritas pembangunan desa.

Profil Penulis:

  •  Muhammad Yunani - Universitas Ngudi Waluyo
  • Ani Helis Priyanti-  Universitas Ngudi Waluyo
  • Adieb Fuad Himmawan- Universitas Ngudi Waluyo
  • Reimundo Pinheiro M- Universitas Ngudi Waluyo
  • Lianaria Boru Sagala- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Effy Simanjuntak Universitas Ngudi Waluyo
  • Andry Budhi Hartono-  Universitas Ngudi Waluyo

Sumber Penelitian

 Yunani, M., dkk. (2026). "Socialization of the Community Mental Health Implementation Team at the Sub-district/Village Level in West Kotawaringin Regency in 2025". Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), 5(5), 437-450. 

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i5.30.

URL: https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb


Posting Komentar

0 Komentar