Hasil penelitian menjadi relevan karena organisasi pemerintah dituntut memberikan pelayanan publik yang semakin cepat, profesional, dan berkualitas. Kinerja aparatur sipil negara menjadi salah satu penentu keberhasilan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, memahami faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas pegawai menjadi dasar penting dalam menyusun kebijakan pengelolaan sumber daya manusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan dunia kerja berlangsung sangat cepat. Organisasi harus mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi, meningkatnya persaingan, serta harapan masyarakat terhadap pelayanan publik yang semakin tinggi. Di sisi lain, kualitas sumber daya manusia menjadi aset terpenting bagi setiap organisasi karena keberhasilan program dan pencapaian tujuan sangat bergantung pada kinerja para pegawainya.
Penelitian ini juga mengangkat kondisi ketenagakerjaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data Badan Pusat Statistik yang dikutip penulis menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di DIY mengalami penurunan dari 3,46 persen pada Agustus 2025 menjadi 3,05 persen pada Mei 2026. Meski demikian, Kota Yogyakarta masih mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,72 persen, sehingga pemerintah daerah tetap dituntut meningkatkan kualitas pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia melalui kinerja aparatur yang lebih baik.
Disnakertrans DIY memiliki tugas strategis dalam mengembangkan tenaga kerja, memberikan pelatihan, memfasilitasi penempatan kerja, hingga mengelola program transmigrasi. Seluruh tugas tersebut memerlukan pegawai yang profesional, disiplin, mampu bekerja sama, dan memiliki komitmen tinggi terhadap organisasi.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pegawai, Sintia Artha dan Dorothea Wahyu Ariani melakukan survei terhadap 82 pegawai Disnakertrans DIY. Seluruh pegawai dijadikan responden sehingga penelitian menggunakan teknik sampel jenuh, yaitu seluruh populasi dijadikan sampel penelitian.
Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS. Sebelum melakukan analisis, peneliti memastikan seluruh instrumen penelitian telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas sehingga hasil yang diperoleh dapat dipercaya. Selanjutnya dilakukan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel terhadap kinerja pegawai.
Mayoritas responden merupakan pegawai laki-laki (57,3 persen), sedangkan perempuan berjumlah 42,7 persen. Dari sisi usia, kelompok terbesar berada pada rentang 31–40 tahun sebanyak 41,5 persen. Sebagian besar responden juga memiliki pendidikan tinggi, yakni 79,3 persen merupakan lulusan sarjana hingga doktoral. Selain itu, 63,4 persen responden telah bekerja lebih dari sepuluh tahun sehingga memiliki pengalaman yang cukup dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap kerja menjadi faktor yang paling kuat memengaruhi kinerja pegawai. Analisis statistik menghasilkan nilai signifikansi 0,000, yang menunjukkan hubungan tersebut sangat kuat secara statistik.
Pegawai yang memiliki rasa tanggung jawab, disiplin, loyalitas, serta keterlibatan tinggi dalam pekerjaan terbukti mampu menghasilkan kinerja yang lebih baik. Mereka lebih fokus menyelesaikan tugas, memiliki motivasi untuk mencapai target organisasi, dan lebih mudah bekerja sama dengan rekan kerja.
Menurut Sintia Artha dan Dorothea Wahyu Ariani, keterlibatan aktif pegawai dalam pekerjaan menjadi salah satu indikator penting dari sikap kerja yang positif. Semakin tinggi komitmen pegawai terhadap pekerjaannya, semakin besar pula kontribusi yang diberikan kepada organisasi.
Selain sikap kerja, komunikasi di tempat kerja juga memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai signifikansi 0,027. Komunikasi yang terbuka membantu pegawai memahami instruksi dengan lebih jelas, mempercepat koordinasi antarbagian, mengurangi kesalahan kerja, serta memperkuat kerja sama dalam menyelesaikan tugas.
Pegawai yang memperoleh informasi secara lengkap dari pimpinan serta mampu memberikan umpan balik kepada rekan kerja cenderung bekerja lebih efektif. Informasi yang mengalir dengan baik membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat sekaligus mengurangi terjadinya miskomunikasi yang dapat menghambat pelayanan kepada masyarakat.
Faktor ketiga yang terbukti meningkatkan kinerja pegawai adalah lingkungan kerja. Penelitian menemukan bahwa lingkungan kerja yang nyaman memiliki pengaruh signifikan dengan nilai 0,013.
Lingkungan kerja yang dimaksud tidak hanya mencakup kondisi fisik seperti pencahayaan, kebersihan ruangan, ventilasi udara, dan fasilitas kerja, tetapi juga hubungan sosial antarkaryawan. Pegawai yang bekerja dalam suasana yang aman, nyaman, dan harmonis cenderung memiliki konsentrasi lebih baik sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan secara lebih produktif.
Salah satu indikator yang memperoleh penilaian tertinggi dari responden adalah kualitas sirkulasi udara di tempat kerja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek sederhana seperti kenyamanan ruang kerja ternyata turut memengaruhi produktivitas pegawai.
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ketiga faktor tersebut mampu menjelaskan 35,6 persen variasi kinerja pegawai. Artinya, masih terdapat 64,4 persen faktor lain yang memengaruhi kinerja, seperti gaya kepemimpinan, motivasi, sistem penghargaan, budaya organisasi, kompetensi individu, maupun faktor psikologis yang tidak dianalisis dalam penelitian ini.
Temuan tersebut memberikan implikasi penting bagi pengelola organisasi, khususnya instansi pemerintah. Upaya meningkatkan kinerja pegawai sebaiknya tidak hanya berfokus pada pemberian target kerja, tetapi juga membangun budaya kerja yang positif melalui pembinaan sikap, komunikasi yang terbuka, serta penyediaan lingkungan kerja yang nyaman.
Peneliti juga merekomendasikan agar organisasi secara rutin memberikan pelatihan peningkatan kompetensi, memperkuat koordinasi antarpegawai, melakukan evaluasi kinerja secara berkala, serta memberikan penghargaan kepada pegawai yang berprestasi. Langkah-langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan motivasi sekaligus memperkuat komitmen pegawai terhadap organisasi.
Bagi instansi pemerintah, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pengelolaan sumber daya manusia yang lebih efektif. Sementara bagi perusahaan swasta, temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada budaya kerja, komunikasi internal, dan kenyamanan lingkungan kerja dapat memberikan dampak nyata terhadap produktivitas karyawan.
Profil Penulis
Sintia Artha, merupakan peneliti dari Program Studi Manajemen, Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Fokus penelitiannya meliputi manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, serta peningkatan kinerja pegawai.
Dorothea Wahyu Ariani, peneliti di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dikenal aktif meneliti bidang manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, kepemimpinan, budaya organisasi, serta pengembangan kinerja karyawan di sektor publik maupun swasta.
Sumber Penelitian
Artha, S., & Ariani, D. W. (2026). The Effect of Work Attitude, Workplace Communication, and Work Environment on Employee Performance: Evidence from the Department of Manpower and Transmigration of the Special Region of Yogyakarta. International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 6, hlm. 475–492.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i6.4
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar