Sektor Unggulan Nias Belum Maksimal Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi by AI

Medan — Potensi ekonomi Kepulauan Nias di Sumatera Utara masih bertumpu pada sektor-sektor berbasis sumber daya alam, terutama pertanian, kehutanan, perikanan, serta pertambangan. Namun, riset terbaru yang dilakukan Nadya Keisha Ferdinasari dan Syamsul Huda dari UPN “Veteran” Jawa Timur pada 2026 menunjukkan bahwa sektor unggulan tersebut belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Temuan ini penting karena Kepulauan Nias masih masuk kategori daerah tertinggal dan membutuhkan strategi pembangunan yang lebih efektif.

Kepulauan Nias terdiri dari Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, dan Kota Gunungsitoli. Empat wilayah di antaranya masih tergolong daerah tertinggal berdasarkan kebijakan percepatan pembangunan nasional. Letak geografis yang terpisah dari daratan utama Sumatera menjadi salah satu tantangan besar. Biaya transportasi yang tinggi, konektivitas yang terbatas, serta akses pasar yang belum optimal membuat pengembangan ekonomi di wilayah ini berjalan lebih lambat dibandingkan daerah lain di Sumatera Utara.

Dalam artikel yang dipublikasikan di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Nadya Keisha Ferdinasari dan Syamsul Huda menganalisis data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) lima wilayah di Kepulauan Nias selama periode 2015–2024. Data tersebut diolah menggunakan sejumlah pendekatan ekonomi regional untuk memetakan sektor unggulan, potensi pertumbuhan, daya saing, serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi sektor basis utama di sebagian besar wilayah Nias. Sektor ini memiliki kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi daerah, terutama di Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Utara, dan Nias Barat. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian juga muncul sebagai sektor basis yang kuat di seluruh kawasan Kepulauan Nias. Di sisi lain, Kota Gunungsitoli menunjukkan pola yang berbeda, dengan dominasi sektor jasa seperti perdagangan, transportasi, dan pendidikan.

Penelitian ini juga menemukan adanya pergeseran struktur ekonomi yang mulai bergerak dari sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier. Beberapa sektor seperti transportasi, pergudangan, akomodasi, jasa makanan, informasi dan komunikasi, serta real estate dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan dalam jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa diversifikasi ekonomi mulai terbentuk, meskipun belum merata di seluruh wilayah Nias.

Namun, hasil paling mengejutkan muncul dari analisis regresi. Baik sektor unggulan maupun sektor non-unggulan ternyata sama-sama memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Nilai signifikansi sektor unggulan tercatat sebesar 0,119, sedangkan sektor non-unggulan sebesar 0,133. Artinya, peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor-sektor tersebut belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional secara nyata.

Menurut Nadya Keisha Ferdinasari dari UPN “Veteran” Jawa Timur, kondisi ini mengindikasikan bahwa potensi ekonomi Nias belum sepenuhnya dioptimalkan. Sektor pertanian dan pertambangan memang menjadi tulang punggung ekonomi, tetapi nilai tambahnya masih rendah karena belum berkembangnya industri hilir. Banyak hasil produksi yang masih dijual dalam bentuk mentah tanpa proses lanjutan yang dapat meningkatkan nilai ekonomi.

Riset ini juga memperlihatkan bahwa Kota Gunungsitoli menjadi satu-satunya wilayah dengan kategori berkembang cepat menurut Tipologi Klassen. Sementara empat kabupaten lainnya masih tergolong daerah relatif tertinggal, dengan tingkat pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah rata-rata provinsi. Temuan ini memperlihatkan adanya ketimpangan internal di Kepulauan Nias yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat.

Implikasi penelitian ini cukup besar. Pemerintah didorong untuk tidak hanya fokus pada sektor primer, tetapi juga membangun industri pengolahan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperbaiki infrastruktur logistik, dan memperkuat konektivitas antarwilayah. Tanpa langkah tersebut, sektor unggulan yang ada berisiko terus menjadi potensi yang belum menghasilkan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Bagi dunia usaha, hasil penelitian ini membuka peluang investasi pada sektor hilirisasi pertanian, perikanan, dan pertambangan di Nias yang masih sangat terbuka.

Bagi masyarakat, temuan ini menjadi gambaran bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan alam. Diperlukan inovasi, teknologi, dan kebijakan yang tepat agar potensi lokal benar-benar bisa menjadi mesin pertumbuhan yang berkelanjutan. Kepulauan Nias memiliki modal besar, tetapi tantangan struktural masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Profil Penulis
Nadya Keisha Ferdinasari — UPN “Veteran” Jawa Timur
Syamsul Huda — UPN “Veteran” Jawa Timur

Sumber Penelitian
Analysis of the Potential and Performance of Key Sectors in Driving Economic Growth as Part of Efforts to Address Underdeveloped Areas in the Nias Islands, North Sumatra Province
International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 6, 2026


Posting Komentar

0 Komentar