Mempertahankan
talenta Generasi Z menjadi tantangan strategis bagi perusahaan di Indonesia
seiring dengan meningkatnya mobilitas global dan fleksibilitas kerja digital.
Penelitian yang dilakukan oleh Haidilia Maharani, Sri Suwarsi, dan Rini Lestari
dari Universitas Islam Bandung pada Mei 2026 mengungkapkan bahwa strategi
retensi tradisional yang hanya mengandalkan kompensasi finansial tidak lagi
efektif untuk generasi digital ini.
Latar Belakang Masalah
Generasi
Z, yang merupakan digital native, memiliki orientasi karier yang sangat
berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka cenderung memprioritaskan
fleksibilitas, otonomi, pertumbuhan pribadi, dan kesejahteraan psikologis di
tempat kerja. Di sisi lain, fenomena borderless workforce atau tenaga
kerja tanpa batas mempermudah mereka untuk bekerja secara jarak jauh bagi
perusahaan internasional tanpa perlu pindah domisili. Tanpa strategi retensi
yang adaptif, perusahaan domestik berisiko kehilangan talenta terbaik mereka
karena godaan peluang kerja global yang lebih menarik.
Metodologi Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan
meninjau 50 artikel jurnal internasional terakreditasi yang diterbitkan antara
tahun 2019 hingga 2026. Proses seleksi artikel dilakukan secara sistematis
menggunakan pendekatan PRISMA untuk memastikan validitas data. Analisis
difokuskan pada sintesis berbagai faktor yang memengaruhi retensi karyawan,
seperti budaya organisasi, lingkungan kerja digital, dan kesejahteraan mental.
Temuan Utama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa retensi talenta Generasi Z
dipengaruhi oleh interaksi multidimensi dari beberapa faktor kunci:
- · Budaya Organisasi Adaptif: Lingkungan kerja yang kolaboratif, inklusif, dan fokus pada inovasi terbukti lebih mampu menjaga loyalitas generasi ini.
- · Fleksibilitas Kerja: Penerapan sistem kerja hibrida atau jarak jauh sangat berpengaruh terhadap kepuasan kerja dan komitmen mereka.
- · Pengalaman Karyawan (Employee Experience): Generasi Z lebih setia pada perusahaan yang memberikan pengalaman kerja bermakna, pengakuan, dan dukungan pengembangan profesional.
- · Kesejahteraan Psikologis: Dukungan kesehatan mental dan lingkungan kerja yang minim stres kini menjadi kebutuhan dasar, bukan sekadar nilai tambah.
Implikasi dan Dampak
Penelitian
ini menekankan perlunya pergeseran paradigma manajemen SDM dari fokus pada
produktivitas semata menjadi fokus pada keberlanjutan karyawan (employee
sustainability). Haidilia Maharani dan tim peneliti dari Universitas Islam
Bandung menyarankan organisasi untuk merancang sistem retensi yang manusiawi,
fleksibel, dan mendukung pengembangan karier berkelanjutan. Bagi dunia usaha di
Indonesia, menciptakan ekosistem kerja yang kompetitif secara global bukan lagi
pilihan, melainkan keharusan untuk tetap relevan dalam mempertahankan talenta
muda terbaik.
Profil
Penulis:
- Haidilia
Maharani - Universitas Islam Bandung
- Sri
Suwarsi - Universitas Islam Bandung
- Rini
Lestari -Universitas Islam Bandung
Sumber
Penelitian
Maharani, H., Suwarsi, S., & Lestari, R.
(2026). "Retaining Indonesian Generation Z Talent in the Era of Global
Mobility". International Journal of Integrated Science and Technology
(IJIST), 4(5), 262-279.
DOI:
https://doi.org/10.59890/ijist.v4i5.5.
URL: https://journalijist.my.id/index.php/ijist

0 Komentar