Syekh Yusuf Al-Maqassari: Jaringan Epistemik, Diplomasi, dan Pembentukan Pemikiran Dekolonial



Syekh Yusuf Al-Makassari tidak hanya dikenal sebagai ulama sufi dan pejuang anti-kolonial. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tokoh asal Gowa, Sulawesi Selatan, ini membangun jaringan pengetahuan lintas negara yang berperan besar dalam menghadapi ekspansi kolonial VOC pada abad ke-17.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Shaykh Yusuf Al-Maqassari: Epistemic Network, Diplomacy, and the Making of Decolonial Thought” yang ditulis oleh Irfan Palippui dari Universitas Fajar, Arhamuddin Ali dari STKIP Kusuma Negara, Yulvinamaesari dari Universitas Cokroaminoto Palopo, dan Nurcholish dari Universitas Muhammadiyah Makassar. Artikel ini terbit pada Mei 2026 dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA).

Penelitian ini mengungkap bahwa pengaruh Syekh Yusuf tidak hanya berasal dari aktivitas dakwah maupun perlawanan bersenjata terhadap VOC. Jauh sebelum memimpin perlawanan di Banten, ia telah membangun jaringan intelektual yang menghubungkan Nusantara, Timur Tengah, India, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan. Jaringan tersebut menjadi sarana penyebaran ilmu, diplomasi, dan pembentukan solidaritas yang mampu bertahan bahkan ketika dirinya diasingkan oleh pemerintah kolonial.

Dari Gowa Menuju Pusat Keilmuan Dunia Islam

Syekh Yusuf lahir di wilayah Gowa-Tallo pada tahun 1626. Ia tumbuh pada masa ketika Islam sedang berkembang pesat di Sulawesi Selatan, sementara kekuatan kolonial Eropa mulai memperluas pengaruhnya di kawasan Nusantara.

Pendidikan awalnya diperoleh dari sejumlah ulama lokal sebelum melanjutkan perjalanan intelektual ke Banten, Aceh, Yaman, Makkah, Madinah, dan Damaskus. Dalam perjalanannya selama lebih dari dua dekade, Syekh Yusuf berguru kepada banyak ulama terkemuka dan memperoleh izin mengajar dari berbagai tarekat besar.

Menurut para peneliti, perjalanan tersebut bukan sekadar pencarian ilmu agama. Ia juga membangun hubungan dengan ulama, penguasa, dan murid dari berbagai wilayah yang kemudian membentuk jaringan pengetahuan internasional.

Menyatukan Lima Tarekat Besar

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah kemampuan Syekh Yusuf menggabungkan lima tarekat besar, yaitu Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Ba'alawiyah, Syattariyah, dan Khalwatiyah.

Gabungan ajaran tersebut kemudian dikenal sebagai Khalwatiyah Yusufiyah. Melalui pendekatan ini, Syekh Yusuf mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat, mulai dari kalangan istana hingga masyarakat umum.

Para peneliti menilai bahwa penyatuan berbagai tradisi keilmuan ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memperkuat otoritas sosial dan politiknya. Dengan dukungan jaringan murid yang luas, posisi Syekh Yusuf menjadi sulit digoyahkan baik oleh penguasa lokal maupun pihak kolonial.

Ilmu Pengetahuan Sebagai Bentuk Perlawanan

Ketika kembali ke Nusantara pada 1664, Syekh Yusuf memperoleh posisi penting di Kesultanan Banten sebagai mufti dan penasihat Sultan Ageng Tirtayasa. Ia juga menjadi guru bagi keluarga kerajaan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa karya-karya tulis Syekh Yusuf tidak hanya membahas tasawuf, tetapi juga menanamkan gagasan tentang kebebasan manusia dan penolakan terhadap dominasi yang tidak sesuai dengan prinsip ketuhanan.

Dalam pandangannya, ketaatan mutlak hanya diberikan kepada Tuhan. Oleh karena itu, kekuasaan yang menindas manusia dianggap bertentangan dengan nilai dasar tauhid.

Konsep tersebut kemudian menjadi landasan moral bagi perlawanan terhadap VOC. Dengan kata lain, perjuangan melawan kolonialisme tidak hanya dilakukan melalui peperangan, tetapi juga melalui penyebaran ide dan pendidikan.

Perlawanan di Banten dan Masa Pengasingan

Ketika terjadi konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya, Sultan Haji, yang didukung VOC, Syekh Yusuf memilih mendukung Sultan Ageng.

Setelah Sultan Ageng ditangkap pada tahun 1683, Syekh Yusuf memimpin sekitar 5.000 pasukan dalam perang gerilya melawan VOC di wilayah Jawa Barat. Namun, ia akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka pada tahun 1684.

VOC berharap pengasingan tersebut akan menghentikan pengaruhnya. Kenyataannya justru sebaliknya.

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap berkomunikasi dengan para murid dan pengikutnya melalui jaringan jamaah haji yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah. Informasi, nasihat, dan pesan politik terus mengalir antara dirinya dan komunitas Muslim di Nusantara.

Bahkan, pengaruhnya mencapai India. Kaisar Mughal Aurangzeb disebut pernah meminta VOC untuk memperlakukan Syekh Yusuf dengan hormat karena tingginya kedudukan ulama tersebut di dunia Islam.

Membangun Komunitas Muslim di Afrika Selatan

Karena pengaruhnya terus berkembang, VOC kembali memindahkannya ke Cape Town, Afrika Selatan, pada tahun 1694.

Namun pengasingan kedua ini kembali gagal membatasi aktivitasnya. Di Cape Town, Syekh Yusuf membangun komunitas Muslim yang kuat di tengah masyarakat budak dan kelompok buangan politik.

Ia mengajarkan bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan tanpa memandang warna kulit, ras, maupun keturunan. Gagasan tersebut menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem sosial kolonial yang diskriminatif.

Warisan pemikirannya bahkan mendapat pengakuan dari Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Dalam peringatan 300 tahun kedatangan Syekh Yusuf di Afrika Selatan pada tahun 1994, Mandela menyebutnya sebagai pelopor gagasan komunitas dan tokoh anti-kolonial serta anti-rasisme.

Pelopor Pemikiran Dekolonial dari Nusantara

Penelitian ini juga menyoroti perubahan pemikiran Syekh Yusuf dari konsep Wahdat al-Wujud menuju Wahdat al-Shuhud.

Perubahan tersebut dianggap sebagai bentuk pematangan intelektual yang memungkinkan ajaran spiritual diterapkan dalam kehidupan sosial dan politik. Menurut para penulis, pendekatan ini mencerminkan gagasan yang kini dikenal sebagai pemikiran dekolonial, yaitu upaya membebaskan cara berpikir masyarakat dari dominasi kolonial.

Dengan demikian, Syekh Yusuf tidak hanya melawan penjajahan secara fisik, tetapi juga membangun dasar intelektual untuk membebaskan masyarakat dari pengaruh kolonial dalam bidang pengetahuan dan cara pandang terhadap dunia.

Temuan ini memperlihatkan bahwa Islam Nusantara pada abad ke-17 bukan sekadar penerima gagasan dari Timur Tengah, melainkan turut berperan aktif dalam membentuk jaringan intelektual global.

Profil Singkat Penulis

Dr. Irfan Palippui – Universitas Fajar. Bidang kajian sejarah, Islam Nusantara, dan jaringan intelektual Islam.

Arhamuddin Ali – STKIP Kusuma Negara. Fokus pada pendidikan, sejarah, dan pemikiran Islam.

Yulvinamaesari – Universitas Cokroaminoto Palopo. Meneliti sejarah sosial dan budaya Islam di Indonesia.

Nurcholish – Universitas Muhammadiyah Makassar. Fokus pada kajian Islam, sejarah intelektual, dan peradaban Muslim.

Sumber Penelitian

Palippui, Irfan; Ali, Arhamuddin; Yulvinamaesari; dan Nurcholish. 2026. Shaykh Yusuf Al-Maqassari: Epistemic Network, Diplomacy, and the Making of Decolonial Thought.
Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA),
Vol. 6 No. 5, Mei 2026, halaman 661–671.
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i5.63

Posting Komentar

0 Komentar