Penelitian dilakukan menggunakan survei kuantitatif terhadap 80 kepala keluarga. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), sebuah pendekatan statistik yang mampu menjelaskan hubungan antara berbagai faktor lingkungan, sosial ekonomi, dan ketahanan pangan secara simultan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor perikanan masih menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat Pasirido. Sebanyak 41,25 persen responden bekerja sebagai nelayan, sementara sebagian lainnya mengombinasikan pekerjaan sebagai nelayan dengan bertani atau pekerjaan lain. Dari sisi pendidikan, mayoritas responden merupakan lulusan sekolah menengah atas, yang menunjukkan tingkat pendidikan masyarakat berada pada kategori menengah. Temuan menarik muncul ketika peneliti menilai kondisi lingkungan pesisir. Seluruh responden menyatakan bahwa ketersediaan air bersih di wilayah tersebut sangat baik. Semua rumah tangga memiliki akses terhadap sumber air sumur dengan kualitas air yang jernih dan tidak asin. Namun di sisi lain, seluruh responden juga mengakui adanya pencemaran laut di kawasan pesisir. Sampah rumah tangga dan limbah domestik menjadi bentuk pencemaran yang paling sering ditemukan. Meski menghadapi masalah pencemaran, sumber pangan lokal masih tersedia dalam jumlah cukup. Ikan menjadi komoditas utama yang diperoleh masyarakat dari laut. Selain itu, lebih dari separuh rumah tangga memiliki kebun atau lahan kecil yang ditanami sayuran, umbi-umbian, dan buah-buahan. Sebagian besar responden bahkan menilai ketersediaan pangan lokal berada dalam kategori cukup hingga sangat cukup. Namun fakta lain menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga yang diteliti tetap menjadikan pangan yang dibeli dari pasar sebagai sumber makanan utama. Ketergantungan penuh terhadap pangan pasar ini mengindikasikan bahwa keberadaan sumber pangan lokal belum mampu menggantikan kebutuhan pangan harian keluarga. Kondisi tersebut membuat masyarakat rentan terhadap kenaikan harga pangan dan gejolak ekonomi.
Secara umum, ketahanan pangan rumah tangga di Pasirido tergolong baik. Sebanyak 83,75 persen responden menyatakan pangan tersedia sepanjang bulan. Setengah dari rumah tangga juga memiliki cadangan pangan yang mampu bertahan selama satu hingga dua minggu, sementara lebih dari seperempat keluarga memiliki stok pangan lebih dari dua minggu. Analisis statistik mengungkap temuan yang cukup mengejutkan. Karakteristik lingkungan pesisir memang berpengaruh kuat terhadap akses pangan lokal. Lingkungan yang lebih baik meningkatkan peluang masyarakat memperoleh sumber pangan dari laut maupun lingkungan sekitar. Namun pengaruh langsung lingkungan pesisir terhadap ketahanan pangan rumah tangga ternyata tidak signifikan secara statistik. Sebaliknya, faktor sosial ekonomi muncul sebagai penentu utama ketahanan pangan keluarga. Pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan kapasitas ekonomi rumah tangga memiliki pengaruh paling kuat terhadap kemampuan keluarga memperoleh pangan secara berkelanjutan. Dengan kata lain, keberadaan ikan yang melimpah atau lingkungan pesisir yang produktif belum tentu membuat keluarga lebih tahan pangan apabila kondisi ekonominya lemah. Menurut Enggeline K.M. Kapisa dan tim peneliti dari Universitas Papua, hasil ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan masyarakat pesisir lebih banyak ditentukan oleh kemampuan ekonomi keluarga dibandingkan oleh ketersediaan sumber daya alam semata. Lingkungan yang sehat memang mendukung ketersediaan pangan lokal, tetapi manfaat tersebut baru dapat dirasakan secara optimal ketika rumah tangga memiliki pendapatan, pendidikan, dan peluang ekonomi yang memadai. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pemerintah daerah dan pembuat kebijakan. Program peningkatan ketahanan pangan di wilayah pesisir tidak cukup hanya berfokus pada konservasi lingkungan atau peningkatan produksi perikanan. Upaya tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui diversifikasi mata pencaharian, penguatan ekonomi keluarga, peningkatan pendidikan, serta pengembangan usaha produktif berbasis sumber daya lokal. Penelitian ini juga memperingatkan bahwa pencemaran laut yang saat ini terjadi di Pasirido berpotensi mengancam keberlanjutan sumber pangan pesisir dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pengelolaan sampah dan konservasi lingkungan pesisir perlu menjadi bagian integral dari strategi pembangunan daerah.
Enggeline K.M. Kapisa, S.P. merupakan peneliti dan mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Papua yang berfokus pada isu ketahanan pangan, lingkungan pesisir, dan pembangunan berkelanjutan.

0 Komentar