Sleman, Indonesia — Banyak pelaku usaha kecil masih menjalankan bisnis tanpa pencatatan keuangan yang jelas. Akibatnya, mereka sering kesulitan mengetahui kondisi usaha secara nyata, mulai dari jumlah pemasukan, pengeluaran, hingga laba yang sebenarnya diperoleh. Kondisi ini menjadi fokus pendampingan terbaru yang dilakukan oleh Rahmalia Naura Cahyani dan Ika Wulandari dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta di Kecamatan Tempel, Sleman.
Program ini dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) tahun 2026 dan menunjukkan bahwa edukasi sederhana tentang pencatatan keuangan dan pengelolaan arus kas mampu meningkatkan pemahaman pelaku UMKM secara signifikan.
Temuan ini menjadi penting karena UMKM merupakan salah satu penggerak utama ekonomi nasional. Selain menciptakan lapangan kerja, sektor ini juga menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat di banyak daerah. Namun di balik peran besarnya, banyak pelaku usaha masih menghadapi tantangan mendasar dalam mengelola keuangan.
Masalah utama yang paling sering ditemukan adalah kebiasaan mencampur uang usaha dengan uang pribadi, serta tidak adanya pencatatan transaksi harian secara rutin.
Tanpa data keuangan yang jelas, pelaku usaha sulit mengukur apakah bisnis mereka benar-benar untung atau justru mengalami kebocoran.
Cahyani dan Wulandari melakukan pendampingan terhadap dua pelaku UMKM skala kecil dan menengah di Kecamatan Tempel. Program berlangsung dalam tiga tahap pada 11, 16, dan 26 April 2026, dimulai dari survei lapangan, pelatihan, hingga evaluasi hasil.
Pada tahap awal, peneliti menemukan bahwa kedua pelaku usaha belum memiliki sistem pencatatan keuangan sama sekali. Seluruh transaksi usaha berjalan tanpa dokumentasi yang terstruktur.
Kondisi ini membuat mereka kesulitan menghitung modal yang telah digunakan, jumlah pengeluaran operasional, hingga laba bersih yang diperoleh.
Selain itu, arus kas usaha juga tidak terpantau dengan baik. Dalam banyak kasus, uang hasil penjualan langsung digunakan untuk kebutuhan pribadi tanpa pemisahan yang jelas.
Menurut Cahyani dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta, kondisi seperti ini sangat umum terjadi pada UMKM, terutama yang masih dikelola secara mandiri atau berbasis keluarga.
Melalui program pendampingan, peserta diberikan edukasi tentang pentingnya pencatatan sederhana, cara mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta strategi dasar mengelola arus kas agar usaha lebih stabil.
Pendekatan yang digunakan dibuat sesederhana mungkin. Pelaku usaha diperkenalkan pada buku kas manual yang mudah dipahami dan bisa langsung diterapkan tanpa teknologi tambahan.
Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi langsung mempraktikkan pencatatan transaksi berdasarkan aktivitas usaha sehari-hari.
Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.
Sebelum pelatihan, hanya 50 persen peserta memahami manfaat pencatatan keuangan. Setelah pendampingan, angka itu meningkat menjadi 100 persen.
Pemahaman tentang cara mencatat keuangan dengan baik yang sebelumnya berada di angka nol persen juga naik menjadi 100 persen.
Begitu pula dengan kesadaran memisahkan uang pribadi dan uang usaha, serta pemahaman mengelola arus kas, yang semuanya meningkat dari nol menjadi 100 persen.
Menurut Wulandari, perubahan ini menunjukkan bahwa hambatan utama UMKM bukan selalu kurangnya modal, tetapi sering kali kurangnya literasi pengelolaan keuangan.
Dengan pencatatan sederhana, pelaku usaha bisa lebih mudah mengetahui arus masuk dan keluar uang, mengontrol pengeluaran, dan membuat keputusan bisnis dengan lebih tepat.
Bagi UMKM, arus kas yang sehat menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha. Ketika pemasukan dan pengeluaran tercatat dengan baik, risiko kekurangan dana operasional dapat diminimalkan.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa edukasi keuangan praktis lebih efektif ketika dilakukan dengan metode partisipatif dan langsung menyentuh kebutuhan pelaku usaha.
Meski demikian, peneliti menilai pendampingan lanjutan tetap dibutuhkan agar kebiasaan mencatat dapat terus dijalankan secara konsisten.
Dalam jangka panjang, kebiasaan sederhana seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran bisa menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya tahan UMKM di tengah persaingan yang semakin ketat.
Bagi pelaku usaha kecil, memahami arus kas bukan hanya soal angka, tetapi tentang menjaga masa depan bisnis tetap hidup.
0 Komentar