Penelitian yang diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS) tersebut penting karena memberikan gambaran menyeluruh mengenai perkembangan teknologi pemantauan lingkungan setelah bencana. Hasilnya diharapkan dapat membantu ilmuwan, pemerintah, dan lembaga kebencanaan dalam merancang strategi pemulihan ekosistem yang lebih efektif.
Meningkatnya frekuensi banjir, gempa bumi, kebakaran hutan, dan berbagai bencana akibat perubahan iklim mendorong kebutuhan akan teknologi yang mampu menyediakan informasi secara cepat. Penginderaan jauh melalui satelit, radar, drone, dan sensor lainnya menjadi salah satu solusi utama karena dapat memantau wilayah yang luas tanpa harus melakukan survei lapangan secara langsung.
Dalam studi ini, para peneliti menganalisis 329 artikel ilmiah yang terindeks Scopus selama periode 2016–2025. Proses seleksi dilakukan menggunakan standar PRISMA, sementara analisis bibliometrik dikerjakan dengan perangkat Biblioshiny dan VOSviewer untuk memetakan tren publikasi, negara yang paling aktif, serta perkembangan tema penelitian dari waktu ke waktu.
Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan publikasi yang sangat pesat. Jika pada periode 2016–2019 rata-rata hanya terdapat sekitar 12 artikel per tahun, jumlah tersebut melonjak menjadi 75 artikel pada 2025. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya perhatian dunia terhadap teknologi mitigasi dan pemulihan lingkungan akibat semakin seringnya bencana ekologis terjadi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa tiga negara menjadi penggerak utama perkembangan teknologi ini, yaitu:
- China dengan 93 publikasi;
- Amerika Serikat dengan 45 publikasi;
- India dengan 37 publikasi.
Dominasi ketiga negara tersebut berkaitan dengan kemampuan mereka dalam mengembangkan satelit pengamatan bumi dan infrastruktur komputasi yang kuat. Namun, kolaborasi internasional dinilai penting agar negara berkembang yang rentan terhadap bencana dapat memperoleh akses terhadap teknologi terbaru.
Analisis tematik menemukan adanya perubahan paradigma yang cukup drastis. Pada awal periode pengamatan, penelitian masih berfokus pada penggunaan citra optik konvensional untuk memantau dampak tsunami, gempa, dan kebakaran hutan. Namun dalam tiga tahun terakhir, fokus penelitian bergeser ke teknologi otomatis berbasis AI dan sensor aktif.
Para peneliti mengidentifikasi tiga pilar utama yang membentuk perkembangan teknologi penginderaan jauh pascabencana.
1. Evaluasi Risiko Skala Besar Menggunakan Satelit Optik
Kelompok pertama memanfaatkan satelit optik untuk memantau perubahan vegetasi, area terbakar, dan kerusakan lingkungan dalam cakupan wilayah yang luas. Teknologi ini masih menjadi fondasi utama dalam proses pemulihan ekosistem.
2. Kecerdasan Buatan dan Drone untuk Deteksi Kerusakan Otomatis
Pilar kedua merupakan perkembangan paling revolusioner. Drone atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dikombinasikan dengan algoritma machine learning dan deep learning sehingga kerusakan dapat dikenali secara otomatis dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Menurut Raffy Bagus Prayudha dan tim peneliti, integrasi AI memungkinkan proses analisis yang sebelumnya memerlukan waktu berhari-hari dapat dilakukan jauh lebih cepat. Meski demikian, hasil AI tetap memerlukan verifikasi lapangan agar kesalahan interpretasi dapat diminimalkan.
3. Sensor Radar dan LiDAR untuk Kondisi Cuaca Ekstrem
Kelompok ketiga berfokus pada sensor aktif seperti Synthetic Aperture Radar (SAR) dan LiDAR. Teknologi ini mampu menembus awan tebal dan hujan sehingga sangat berguna pada fase awal pascabencana ketika cuaca sering kali buruk.
Radar Sentinel-1 bahkan dapat mendeteksi pergeseran permukaan tanah hingga skala milimeter setelah gempa bumi. Sementara teknologi LiDAR memungkinkan pemetaan deformasi tanah dan potensi longsor dengan resolusi yang sangat tinggi.
Menurut para penulis, masa depan penginderaan jauh tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat pemantauan pasif. Teknologi tersebut telah berkembang menjadi sistem pendukung keputusan yang bersifat prediktif dan mampu membantu pemerintah mengambil tindakan lebih cepat dalam menghadapi krisis lingkungan.
Mereka merekomendasikan pengembangan algoritma hibrida yang menggabungkan berbagai jenis sensor serta penggunaan data terbuka agar proses pemetaan kerusakan menjadi lebih akurat. Selain itu, kerja sama internasional dan diplomasi sains juga dinilai penting untuk memperluas transfer teknologi ke negara-negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana tinggi.
Profil Penulis
Dr. Raffy Bagus Prayudha
Akademisi dan peneliti dari Universitas Pertahanan Indonesia. Bidang keahlian meliputi penginderaan jauh, analisis geospasial, dan teknologi mitigasi bencana.
Trismadi
Peneliti yang berafiliasi dengan Badan Informasi Geospasial (BIG). Fokus kajiannya mencakup sistem informasi geospasial dan pemetaan lingkungan.
Syachrul Arief
Akademisi dan peneliti yang aktif dalam bidang pengelolaan lingkungan, geospasial, dan pemanfaatan teknologi pengamatan bumi untuk mitigasi bencana.
Sumber Penelitian
Prayudha, Raffy Bagus; Trismadi; dan Syachrul Arief. 2026. “Mapping the Evolution of Remote Sensing Technologies in Post-Disaster Ecological Assessment: A Bibliometric Analysis.” International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4 No. 6, halaman 427–444.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i6.1
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas

0 Komentar