Pemberdayaan Psikologis dan Dukungan Organisasi Tingkatkan Kinerja Karyawan Koperasi

Gambar Ilustrasi AI 
FORMOSA NEWS - Surabaya- Karyawan yang merasa didukung oleh organisasi, diberi ruang untuk berinisiatif, dan memiliki kebebasan dalam menjalankan pekerjaan terbukti menunjukkan kinerja yang lebih tinggi. Temuan ini diungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Endah Wiyati, Attrie Charis Immanuel, I Made Suparta, dan Mohammad Sihab Ridwan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Formosa Journal of Business and Economic Statistics tersebut mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi kinerja karyawan di Koperasi KAREB. Hasilnya menunjukkan bahwa job crafting, dukungan organisasi yang dirasakan karyawan (Perceived Organizational Support/POS), dan pemberdayaan psikologis (psychological empowerment) berperan besar dalam meningkatkan keterikatan kerja (employee engagement) sekaligus mendorong peningkatan kinerja pegawai.

Temuan ini menjadi penting di tengah tantangan yang dihadapi banyak koperasi dan perusahaan di Indonesia. Persaingan bisnis yang semakin ketat, perubahan perilaku konsumen, serta ketidakpastian ekonomi menuntut organisasi memiliki sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan produktif.

Tim peneliti menemukan bahwa Koperasi KAREB sempat mengalami gejala penurunan keterikatan kerja karyawan selama periode 2024–2025. Data internal koperasi menunjukkan tingkat ketidakhadiran dan keterlambatan karyawan meningkat dari 1,2 persen pada akhir 2024 menjadi 3 persen pada akhir 2025.

Pada saat yang sama, indeks persepsi dukungan organisasi juga mengalami penurunan. Jika sepanjang 2024 tingkat kepuasan karyawan terhadap dukungan organisasi berada pada kategori "sangat baik" dengan rentang 85–90 persen, maka pada semester kedua 2025 nilainya turun menjadi 80 persen atau hanya berada pada kategori "cukup".

Penurunan juga terjadi pada tingkat partisipasi dan otonomi kerja karyawan. Kondisi tersebut mengindikasikan semakin sempitnya ruang bagi pegawai untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi dalam pengambilan keputusan.

Untuk memahami persoalan tersebut, para peneliti melibatkan 123 karyawan tetap Koperasi KAREB sebagai responden. Seluruh responden merupakan pegawai dengan latar belakang pendidikan minimal diploma atau sarjana. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan metode statistik untuk melihat hubungan antarvariabel.

Hasil penelitian menunjukkan seluruh faktor yang diuji memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja maupun kinerja karyawan.

Beberapa temuan utama penelitian meliputi:

  • Job crafting atau kemampuan karyawan menyesuaikan dan mendesain pekerjaannya sendiri meningkatkan keterikatan kerja dan kinerja pegawai.
  • Dukungan organisasi yang dirasakan karyawan, seperti penghargaan, perhatian pimpinan, serta lingkungan kerja yang kondusif, terbukti memperkuat semangat kerja.
  • Pemberdayaan psikologis menjadi faktor paling dominan dalam meningkatkan keterikatan kerja. Karyawan yang merasa pekerjaannya bermakna, memiliki kompetensi, serta diberi otonomi menunjukkan performa yang lebih baik.
  • Keterikatan kerja (employee engagement) berperan sebagai jembatan penting yang memperkuat pengaruh seluruh faktor tersebut terhadap kinerja.

Secara statistik, model penelitian mampu menjelaskan sekitar 59,5 persen variasi kinerja karyawan. Sisanya dipengaruhi faktor lain seperti budaya organisasi, gaya kepemimpinan, kompensasi, maupun lingkungan kerja fisik.

Menurut Endah Wiyati dan tim peneliti dari Untag Surabaya, organisasi modern tidak cukup hanya menyediakan fasilitas kerja. Organisasi juga perlu membangun hubungan psikologis yang kuat dengan karyawan agar tercipta loyalitas dan produktivitas jangka panjang.

Penelitian ini menegaskan bahwa karyawan yang merasa dihargai dan dipercaya cenderung membalasnya dengan dedikasi, loyalitas, serta performa kerja yang lebih tinggi. Sebaliknya, ketika dukungan organisasi menurun dan ruang berinisiatif semakin terbatas, keterikatan kerja akan melemah dan produktivitas berpotensi turun.

Para peneliti merekomendasikan agar manajemen koperasi mulai menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel, membuka ruang inovasi bagi karyawan, memperkuat program penghargaan, serta mendorong gaya kepemimpinan yang memberdayakan.

"Employee engagement menjadi mesin utama yang mengubah dukungan organisasi dan pemberdayaan menjadi kinerja unggul," tulis para peneliti dalam publikasinya.

Temuan ini tidak hanya relevan bagi Koperasi KAREB, tetapi juga dapat menjadi acuan bagi koperasi, perusahaan swasta, BUMN, hingga organisasi publik yang ingin meningkatkan produktivitas sumber daya manusianya di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis.

Profil Penulis

Endah Wiyati, S.E., M.M. merupakan akademisi dan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus kajian pada manajemen sumber daya manusia dan perilaku organisasi.

Attrie Charis Immanuel, S.E., M.M. adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang meneliti bidang manajemen organisasi dan pengembangan SDM.

Dr. I Made Suparta, S.E., M.M. merupakan akademisi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memiliki keahlian dalam bidang manajemen strategis dan organisasi.

Dr. Mohammad Sihab Ridwan, S.E., M.M. adalah dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus riset pada manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan kinerja karyawan.

Sumber Penelitian

Wiyati, E., Immanuel, A. C., Suparta, I. M., & Ridwan, M. S. (2026). The Influence of Job Crafting, Perceived Organizational Support, and Psychological Empowerment on Employee Performance Through Employee Engagement as an Intervening Variable at Koperasi Kareb. Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES), Vol. 2 No. 3, 157–176.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjbes.v2i3.646
URL: https://mtiformosapublisher.org/index.php/fjbes

Posting Komentar

0 Komentar