Model "Impact-Integrity-Sustainability" Perkuat Pengumpulan Zakat Daerah untuk Kesejahteraan Umat

Ilustrasi by AI

Pengelolaan zakat di tingkat daerah kini memerlukan pendekatan strategis yang lebih holistik guna menjaga kesinambungan pengumpulan dana dan kepercayaan muzaki. Riset terbaru dari Risman Hambali dan Emerita Siti Naaishah Binti Hambali dari Universiti Islam Malaysia, bersama Hainnuraqma Rahim dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), memperkenalkan model "Impact-Integrity-Sustainability" sebagai kerangka kerja baru. Penelitian yang diterbitkan pada Mei 2026 ini menawarkan solusi konkret bagi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk mengatasi ketergantungan pada pembayaran zakat dari Aparatur Sipil Negara (ASN) serta memperluas jangkauan ke masyarakat umum.

Tantangan Pengelolaan Zakat Daerah

Selama ini, banyak lembaga pengelola zakat daerah masih menghadapi kendala klasik: ketergantungan yang tinggi pada pemotongan gaji ASN, tingkat literasi zakat yang belum merata, serta praktik distribusi yang masih bersifat langsung dan kurang terintegrasi. Tanpa adanya pembaruan tata kelola, pengumpulan dana zakat berisiko stagnan dan sulit mencapai potensi maksimal. Fenomena di BAZNAS Kabupaten Bengkalis menjadi potret penting bagaimana pertumbuhan pengumpulan zakat sering kali terhambat oleh keterbatasan data muzaki (pembayar zakat) dan kurangnya integrasi digital di tingkat Unit Pengumpul Zakat (UPZ).

Metodologi Penelitian

Peneliti menggunakan pendekatan studi kasus eksploratif untuk membedah dinamika pengelolaan zakat di lapangan. Dengan menggabungkan teknik wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumen, tim peneliti berhasil memetakan hambatan utama dalam operasional BAZNAS. Hasil analisis ini kemudian disintesis menjadi kerangka kerja model "Impact-Integrity-Sustainability" yang dirancang untuk mengoptimalkan potensi zakat secara lebih terukur dan berkelanjutan.

Temuan Utama: Tiga Pilar Tata Kelola

Model yang dikembangkan oleh tim peneliti ini bertumpu pada tiga dimensi utama:

·         Impact (Dampak): Menitikberatkan pada hasil pengumpulan yang terukur dan penciptaan nilai manfaat bagi asnaf (penerima zakat), sehingga zakat tidak hanya dikumpulkan tetapi benar-benar mengubah taraf hidup penerima.

·         Integrity (Integritas): Menekankan pada transparansi operasional dan akuntabilitas lembaga, yang menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan muzaki.

·         Sustainability (Keberlanjutan): Fokus pada strategi jangka panjang, seperti penguatan jaringan UPZ, integrasi sistem digital, dan diversifikasi sumber muzaki di luar kalangan ASN.

Implikasi untuk Masa Depan Filantropi Islam

Implementasi model ini diharapkan dapat mentransformasi lembaga zakat daerah menjadi institusi yang lebih tangguh dan resilien. Risman Hambali dan tim peneliti menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar opsi, melainkan keharusan untuk menjangkau muzaki milenial dan masyarakat urban. Dengan mengadopsi kerangka kerja ini, lembaga zakat dapat beralih dari sekadar pengumpul dana menjadi penggerak ekonomi umat yang akuntabel dan berorientasi pada hasil jangka panjang yang berdampak nyata bagi pengentasan kemiskinan di daerah.

Profil Penulis:

  • Risman Hambali – Peneliti, Universiti Islam Malaysia
  • Emerita Siti Naaishah Binti Hambali – Peneliti, Universiti Islam Malaysia
  • Hainnuraqma Rahim – Dosen, Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia

Sumber Penelitian:

Hambali, R., Hambali, E. S. N. B., & Rahim, H. (2026). "The Impact-Integrity-Sustainability Model for Regional Wealth Zakat Collection". International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), 4(5), 290-299. DOI: 

 

https://doi.org/10.59890/ijist.v4i5.8

Posting Komentar

0 Komentar