Mikroplastik Ditemukan dalam Ikan Baronang Liar di Pujada Bay Filipina

Ilustrasi by AI

Davao Oriental, Filipina — Ancaman mikroplastik di laut kini semakin nyata. Penelitian terbaru menemukan bahwa ikan baronang liar (Siganus guttatus) yang hidup di Pujada Bay, Filipina, telah terpapar partikel mikroplastik di saluran pencernaannya. Temuan ini diungkap oleh Chella May R. Sison dan Eleanor M. Vilela dari Davao Oriental State University dan dipublikasikan pada 2026 dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research.

Studi ini menjadi penting karena baronang merupakan salah satu ikan konsumsi utama di wilayah pesisir tropis. Kontaminasi mikroplastik pada spesies ini menunjukkan bahwa polusi plastik tidak lagi hanya mencemari laut, tetapi juga mulai masuk ke rantai makanan manusia.

Plastik yang terurai menjadi partikel kecil berukuran di bawah lima milimeter dapat bertahan lama di lingkungan laut. Partikel-partikel ini mudah tercampur dengan makanan alami ikan seperti alga, plankton, dan serpihan organik. Akibatnya, ikan sering menelan mikroplastik tanpa sengaja.

Di Filipina, persoalan ini semakin krusial karena negara kepulauan tersebut memiliki garis pantai yang panjang dan masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Pujada Bay sendiri dikenal sebagai salah satu teluk terindah di dunia sekaligus kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.

Sison dan Vilela mengumpulkan 60 sampel ikan baronang liar dari Tamisan, salah satu wilayah pesisir di Pujada Bay. Sampel kemudian dianalisis menggunakan proses pencernaan kimia, filtrasi, dan pengamatan mikroskopik untuk mengidentifikasi partikel yang diduga sebagai mikroplastik.

Hasilnya menunjukkan bahwa 16 dari 60 ikan, atau sekitar 26,7 persen, mengandung partikel mikroplastik di saluran pencernaannya. Secara rata-rata, ditemukan 0,27 partikel per ikan.

Meski jumlahnya terlihat kecil, peneliti menilai temuan ini tetap signifikan. Keberadaan mikroplastik pada lebih dari seperempat sampel menunjukkan bahwa pencemaran telah terjadi secara nyata di ekosistem pesisir Pujada Bay.

Karakteristik partikel yang ditemukan juga cukup jelas. Sebanyak 87,5 persen berbentuk serat atau fiber, menjadikannya bentuk paling dominan dibanding fragmen atau film plastik.

Menurut peneliti, dominasi serat ini mengarah pada sumber pencemaran seperti jaring ikan, tali sintetis, tekstil, dan limbah rumah tangga. Serat plastik dikenal ringan dan mudah terbawa arus, sehingga lebih mudah tertelan ikan.

Warna partikel yang paling banyak ditemukan adalah biru, mencapai 50 persen dari total temuan. Warna merah berada di urutan kedua dengan 31,25 persen, diikuti hitam dan transparan.

Warna biru ini diduga berasal dari alat tangkap ikan seperti jaring dan tali yang umum digunakan nelayan di kawasan pesisir. Sementara warna merah dan hitam kemungkinan berasal dari limbah kemasan plastik dan produk rumah tangga.

Yang menarik, ikan baronang memiliki pola makan herbivora dan banyak mencari makan di padang lamun serta permukaan alga. Habitat seperti ini sering menjadi tempat akumulasi partikel mikroplastik karena arus air yang lebih tenang membuat partikel mudah mengendap.

Menurut Sison dan Vilela, hal ini membuat ikan baronang menjadi indikator penting untuk memantau tingkat pencemaran mikroplastik di kawasan pesisir.

Meski penelitian ini hanya mengandalkan identifikasi visual tanpa konfirmasi laboratorium menggunakan FTIR karena ukuran partikel terlalu kecil, hasilnya tetap memberikan gambaran awal yang kuat tentang keberadaan mikroplastik di Pujada Bay.

Bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada perikanan, temuan ini menjadi peringatan penting. Mikroplastik dalam ikan tidak hanya berdampak pada kesehatan ekosistem, tetapi juga berpotensi memengaruhi keamanan pangan.

Peneliti menegaskan bahwa jika paparan ini terus berlangsung, risiko gangguan pencernaan pada ikan, penurunan efisiensi makan, hingga kemungkinan perpindahan zat berbahaya ke manusia bisa meningkat.

Karena itu, penelitian ini mendorong perlunya pengelolaan sampah yang lebih baik, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan pesisir.

Di tengah meningkatnya produksi plastik global, hasil studi ini menjadi pengingat bahwa laut bukan tempat pembuangan tanpa batas. Apa yang dibuang ke laut hari ini bisa kembali ke meja makan manusia di masa depan.

Profil Penulis
Chella May R. Sison — Davao Oriental State University
Eleanor M. Vilela — Davao Oriental State University

Sumber Jurnal
Occurrence and Visual Characteristics of Suspected Microplastics in the Gastrointestinal Tract of Wild Rabbitfish (Siganus guttatus) from Tamisan, Pujada Bay, Philippines
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (2026)

Posting Komentar

0 Komentar