Cateel, Filipina — Mikroplastik kini tak lagi hanya menjadi ancaman bagi laut, tetapi juga mulai masuk ke rantai makanan manusia. Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Rosemie Q. Siarot dan Eleanor M. Vilela dari Davao Oriental State University, Filipina, yang dipublikasikan pada 2026 dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research.
Penelitian ini mengungkap keberadaan mikroplastik pada tiga jenis ikan bernilai ekonomi tinggi yang banyak dikonsumsi masyarakat di Cateel, Davao Oriental. Temuan ini menjadi penting karena ikan merupakan sumber protein utama bagi masyarakat pesisir Filipina, dan kontaminasi mikroplastik dapat membuka jalur paparan langsung ke manusia.
Plastik telah menjadi salah satu pencemar terbesar di lautan dunia. Sekitar 60 hingga 80 persen sampah laut diketahui berasal dari plastik, yang sebagian besar terurai menjadi partikel kecil berukuran kurang dari lima milimeter, atau dikenal sebagai mikroplastik. Partikel ini sulit terurai, mudah tersebar, dan sering disalahartikan oleh ikan sebagai makanan.
Di Filipina, sebagai negara kepulauan dengan konsumsi ikan yang tinggi, ancaman ini menjadi semakin serius. Cateel di Davao Oriental dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan biodiversitas laut yang tinggi dan menjadi salah satu pusat perikanan penting di kawasan timur Mindanao.
Rosemie Siarot dan Eleanor Vilela menganalisis tiga jenis ikan yang paling banyak dijual di pasar lokal, yakni Tulingan (Euthynnus affinis), Matang-baka (Selar crumenophthalmus), dan Bawo atau Balo (Tylosurus crocodilus). Sampel diambil dari pasar umum Cateel pada Januari hingga Februari 2026 dan diuji di laboratorium Regional Integrated Coastal Resource Management Center, Davao Oriental State University.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga spesies ikan tersebut semuanya mengandung mikroplastik. Secara total ditemukan 122 partikel mikroplastik dari seluruh sampel yang diperiksa.
Bawo/Balo menjadi spesies dengan jumlah mikroplastik tertinggi, yaitu 52 partikel, disusul Matang-baka sebanyak 51 partikel, dan Tulingan sebanyak 19 partikel. Temuan ini menunjukkan bahwa beberapa jenis ikan memiliki tingkat paparan yang lebih tinggi, kemungkinan dipengaruhi oleh pola makan, habitat, dan posisi dalam rantai makanan.
Yang paling mencolok, seluruh mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat atau fiber. Tidak ditemukan bentuk lain seperti fragmen, film, atau pellet. Menurut peneliti, dominasi bentuk serat ini menunjukkan bahwa sumber utama pencemaran kemungkinan berasal dari jaring ikan, tali, tekstil sintetis, dan limbah domestik.
Dari sisi warna, mikroplastik biru mendominasi dengan persentase 30,08 persen, diikuti hitam sebesar 26,02 persen, dan merah 18,70 persen. Warna-warna ini mengarah pada sumber seperti alat tangkap ikan, limbah rumah tangga, hingga material industri.
Analisis lebih lanjut menggunakan FTIR menunjukkan bahwa jenis polimer yang paling dominan adalah polyamide dengan proporsi 33,33 persen. Polyamide biasanya ditemukan pada bahan berbasis nilon, termasuk jaring ikan dan tekstil sintetis.
Selain memeriksa ikan, penelitian ini juga mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat terkait mikroplastik. Hasilnya menunjukkan tingkat kesadaran yang cukup tinggi. Skor pengetahuan masyarakat mencapai 4,33, sikap 4,41, dan praktik 4,61 dari skala lima.
Artinya, masyarakat tidak hanya mengetahui bahaya mikroplastik, tetapi juga sudah mulai menerapkan tindakan untuk mengurangi paparan dan menjaga lingkungan.
Menurut Siarot dan Vilela, keberadaan mikroplastik pada ikan konsumsi menjadi alarm penting bagi sektor kesehatan masyarakat dan perlindungan lingkungan. Walaupun jumlah partikel per ikan masih tergolong rendah, keberadaan yang konsisten menunjukkan bahwa pencemaran telah berlangsung dan terus masuk ke ekosistem laut.
Penelitian ini juga memperingatkan bahwa risiko sebenarnya mungkin lebih besar jika partikel mikroplastik telah berpindah dari saluran pencernaan ikan ke jaringan daging yang dikonsumsi manusia. Jika itu terjadi, ancaman terhadap kesehatan manusia bisa menjadi lebih serius.
Temuan ini memperkuat urgensi pengelolaan sampah plastik yang lebih baik, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta pengawasan lebih ketat terhadap limbah domestik dan industri.
Bagi masyarakat pesisir, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan laut bukan hanya soal ekosistem, tetapi juga soal keamanan pangan dan kesehatan keluarga.
0 Komentar