Tim dosen Universitas Pamulang menyampaikan bahwa banyak keluarga masih mengalami kesulitan menyeimbangkan pendapatan dan pengeluaran. Kenaikan biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari membuat pengelolaan anggaran menjadi tantangan yang semakin besar. Kondisi tersebut diperparah oleh rendahnya literasi keuangan masyarakat sehingga sebagian keluarga belum memiliki anggaran bulanan yang terencana maupun dana darurat yang memadai.
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia memang terus mengalami peningkatan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), indeks literasi keuangan naik dari 38,03 persen pada 2019 menjadi 49,68 persen pada 2022, kemudian mencapai 66,46 persen pada 2025. Meski demikian, masih terdapat sekitar sepertiga masyarakat yang belum memahami pengelolaan keuangan secara optimal sehingga lebih rentan terhadap utang konsumtif dan tekanan ekonomi.
Selain literasi keuangan, inflasi juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi ekonomi keluarga. Penulis menjelaskan bahwa inflasi Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang 2020 hingga 2026. Setelah mencapai sekitar 5,51 persen pada 2022, inflasi menurun pada 2023 dan 2024, kemudian kembali meningkat hingga sekitar 3,55 persen pada Januari 2026. Perubahan harga tersebut secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat, terutama bagi keluarga dengan pendapatan tetap.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema "Manajemen Kebutuhan Rumah Tangga Berbasis Skala Prioritas dan Perencanaan Bulanan" di Yayasan Ruhama Al Fajar Kaliputih. Kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab mengenai pengelolaan pendapatan, penyusunan anggaran, penentuan prioritas kebutuhan, serta pentingnya dana darurat.
Metode diskusi dipilih agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat berbagi pengalaman nyata dalam mengelola keuangan keluarga. Tim dosen kemudian memberikan solusi yang disesuaikan dengan kondisi peserta sehingga materi lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai beberapa prinsip penting pengelolaan keuangan rumah tangga, antara lain:
- Membedakan kebutuhan primer, sekunder, dan tersier sebelum melakukan pengeluaran.
- Menyusun anggaran bulanan secara konsisten berdasarkan skala prioritas.
- Mengurangi pengeluaran yang hanya didorong oleh keinginan atau gaya hidup konsumtif.
- Menyiapkan dana darurat sebagai perlindungan terhadap risiko kehilangan pendapatan atau kebutuhan mendesak.
- Membiasakan menabung untuk meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.
Penulis juga menjelaskan bahwa inflasi yang tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat apabila kenaikan harga tidak diikuti peningkatan pendapatan riil. Kondisi tersebut mendorong keluarga untuk lebih selektif dalam mengatur pengeluaran. Sebaliknya, ketika inflasi lebih terkendali, rumah tangga memiliki kesempatan lebih besar untuk memperbaiki kondisi keuangan melalui tabungan maupun investasi sederhana.
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam artikel adalah pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan pengeluaran yang harus dipenuhi agar kehidupan tetap berjalan, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Sementara itu, keinginan lebih dipengaruhi oleh gaya hidup, preferensi pribadi, maupun faktor sosial sehingga dapat ditunda apabila kondisi keuangan belum memungkinkan.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti pentingnya dana darurat. Mengacu pada berbagai referensi keuangan internasional, penulis menjelaskan bahwa keluarga idealnya memiliki dana darurat yang setara dengan tiga hingga enam bulan biaya hidup. Cadangan dana tersebut dapat membantu keluarga menghadapi kondisi seperti kehilangan pekerjaan, sakit, maupun situasi ekonomi yang tidak terduga tanpa harus bergantung pada utang.
Menurut tim penulis dari Universitas Pamulang, peningkatan literasi keuangan akan memberikan dampak langsung terhadap ketahanan ekonomi keluarga. Rumah tangga yang memahami prinsip-prinsip pengelolaan keuangan cenderung lebih mampu mengendalikan utang, menyusun anggaran secara disiplin, serta membangun kebiasaan menabung dalam jangka panjang.
Implikasi dari kegiatan ini cukup luas. Edukasi mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga dinilai dapat membantu masyarakat menghadapi tekanan inflasi, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, serta mengurangi risiko masalah keuangan akibat perilaku konsumtif. Penulis juga merekomendasikan agar program literasi keuangan dilakukan secara berkelanjutan dengan materi yang lebih praktis, seperti penyusunan anggaran keluarga, pengelolaan utang sehat, pemanfaatan produk keuangan formal, dan pengenalan investasi sederhana sesuai kemampuan masyarakat.
Profil Penulis
I Made Aryata merupakan akademisi di Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang, yang memiliki perhatian pada bidang manajemen dan literasi keuangan masyarakat.
I Gede Marendra adalah dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang, dengan fokus kajian pada manajemen, pengelolaan keuangan rumah tangga, dan pemberdayaan masyarakat.
Irmawan Afghani merupakan dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang, yang aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta pengembangan literasi ekonomi dan keuangan.
Sumber Penelitian
Aryata, I. M., Marendra, I. G., & Afghani, I. (2026). Household Budget Management Based on Priorities and Monthly Planning (Manajemen Kebutuhan Rumah Tangga Berbasis Skala Prioritas dan Perencanaan Bulanan). Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP), Vol. 5 No. 2, 79–88.
0 Komentar