Bandung — Penurunan minat beli ulang terhadap sosis merek So Good menjadi sorotan dalam riset terbaru yang dilakukan Wahyu Teguh Alamsyah dan Faizal Fardhani Sigarlaki dari Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, pada 2026. Studi ini mengungkap bahwa kualitas produk menjadi faktor utama yang memengaruhi kepuasan pelanggan sekaligus mendorong keputusan pembelian ulang. Temuan ini penting karena persaingan industri frozen food di Indonesia semakin ketat, sementara loyalitas konsumen terus berubah.
Pasar makanan beku di Indonesia terus tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia mencatat nilai pasar frozen food diproyeksikan mencapai Rp200 triliun pada 2025, meningkat drastis dari Rp95 triliun pada 2021. Di tengah pertumbuhan itu, sosis menjadi salah satu produk yang paling sering dibeli masyarakat, terutama di kota-kota besar seperti Bandung. Namun, data Top Brand Award menunjukkan posisi So Good justru melemah. Indeks merek So Good turun dari 12,3 persen pada 2024 menjadi hanya 7,5 persen pada 2025. Penurunan ini menjadi tanda adanya perubahan preferensi konsumen.
Wahyu Teguh Alamsyah dan Faizal Fardhani Sigarlaki kemudian menelusuri faktor di balik kondisi tersebut melalui survei terhadap 65 responden di Bandung yang pernah mengonsumsi sosis So Good. Responden dipilih dari kelompok usia minimal 17 tahun dan sebagian besar merupakan konsumen muda. Pendekatan yang digunakan sederhana: mengukur persepsi konsumen tentang kualitas produk, kepuasan setelah mengonsumsi, dan niat untuk membeli kembali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk So Good dinilai cukup baik oleh konsumen. Nilai rata-rata persepsi kualitas berada di angka 4,00 dari skala lima. Konsumen menilai rasa, aroma, tekstur, warna, dan keamanan kandungan gizi sebagai aspek yang cukup memuaskan. Bahkan, aspek fisik seperti daya tahan produk saat dimasak memperoleh skor tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dasar produk sebenarnya masih kuat di mata konsumen.
Namun, kepuasan pelanggan tercatat sedikit lebih rendah, dengan rata-rata skor 3,72. Ini menandakan bahwa meski kualitas dianggap baik, pengalaman konsumsi belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Sementara itu, minat beli ulang berada di angka tinggi, yakni 3,98. Artinya, konsumen masih memiliki kecenderungan untuk membeli kembali, tetapi keputusan itu sangat bergantung pada pengalaman yang mereka rasakan setelah konsumsi.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh kuat terhadap kepuasan pelanggan. Semakin baik kualitas yang dirasakan, semakin tinggi tingkat kepuasan. Tidak hanya itu, kualitas produk juga langsung memengaruhi minat beli ulang. Namun yang paling dominan justru kepuasan pelanggan. Dalam penelitian ini, kepuasan memiliki pengaruh paling besar terhadap keputusan konsumen untuk kembali membeli.
Wahyu Teguh Alamsyah dari Universitas Jenderal Achmad Yani menilai bahwa kualitas produk tidak bisa berdiri sendiri dalam menjaga loyalitas pasar. Menurutnya, rasa puas yang muncul setelah konsumsi menjadi “jembatan psikologis” yang menentukan apakah konsumen akan kembali memilih produk yang sama. Dengan kata lain, produk yang bagus belum tentu dibeli ulang jika pengalaman konsumennya tidak memuaskan.
Temuan ini menjadi penting bagi PT So Good Food, terutama setelah muncul beberapa keluhan konsumen mengenai penurunan konsistensi fisik produk dan isu kemasan di sejumlah retail. Dalam persaingan dengan merek seperti Champ dan Fiesta, konsistensi kualitas dan inovasi produk menjadi hal yang sangat menentukan. Jika tidak segera dibenahi, penurunan indeks merek bisa terus berlanjut.
Penelitian ini juga memberi gambaran lebih luas bagi industri makanan olahan di Indonesia. Konsumen saat ini semakin kritis dan lebih mudah berpindah merek jika kualitas dan pengalaman konsumsi tidak sesuai harapan. Bagi dunia usaha, menjaga kualitas produk saja tidak cukup. Pengalaman pelanggan, inovasi rasa, desain kemasan, hingga persepsi keamanan pangan kini menjadi faktor yang sama pentingnya dalam membangun loyalitas jangka panjang.
Bagi masyarakat, hasil studi ini menunjukkan bahwa keputusan membeli ulang bukan hanya soal harga, tetapi soal rasa percaya terhadap kualitas dan pengalaman. Dalam industri pangan modern, loyalitas konsumen dibangun dari kombinasi kualitas yang konsisten dan kepuasan yang nyata. Itulah yang kini menjadi tantangan utama bagi merek-merek besar di pasar frozen food Indonesia.
0 Komentar