Palu — Ketimpangan pembangunan antarwilayah di Provinsi Sulawesi Tengah masih menjadi persoalan serius. Studi terbaru yang ditulis Novita Fauza Harda, Patta Tope, dan Laendatu Paembonan dari Universitas Tadulako mengungkap bahwa kesenjangan ekonomi antara wilayah barat dan timur Sulawesi Tengah selama periode 2020–2024 menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok.
Riset yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research itu menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu berarti pemerataan kesejahteraan. Temuan ini menjadi penting karena Sulawesi Tengah merupakan salah satu motor pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, terutama didukung sektor pertambangan dan industri pengolahan nikel.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi provinsi ini sempat mencapai 15,17 persen pada 2022. Namun, pertumbuhan tersebut ternyata tidak dinikmati secara merata oleh seluruh kabupaten dan kota.
Perbedaan paling tajam terlihat antara kawasan timur dan barat provinsi. Wilayah timur, yang mencakup Morowali dan Morowali Utara, menjadi pusat industri besar berbasis nikel. Aktivitas ekonomi di dua daerah ini melonjak drastis dan menciptakan nilai tambah ekonomi yang sangat besar. Sementara itu, daerah lain di sekitarnya masih bertumpu pada sektor tradisional seperti pertanian, perikanan, dan perdagangan skala kecil.
Tim peneliti menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan jumlah penduduk dari 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah selama lima tahun. Dengan pendekatan Indeks Williamson, mereka mengukur tingkat ketimpangan pembangunan antarwilayah berdasarkan distribusi pendapatan per kapita.
Hasilnya menunjukkan wilayah barat Sulawesi Tengah memiliki tingkat ketimpangan yang relatif rendah dengan rata-rata indeks 0,31. Angka ini menandakan distribusi ekonomi di wilayah barat lebih merata. Struktur ekonomi di kawasan ini cenderung homogen karena masih didominasi sektor pertanian, perdagangan, dan jasa.
Sebaliknya, wilayah timur mencatat angka ketimpangan yang jauh lebih tinggi dengan rata-rata indeks mencapai 1,32. Nilai ini masuk kategori ketimpangan sangat tinggi. Konsentrasi investasi dan industri di Morowali serta Morowali Utara menjadi faktor utama penyebab ketidakseimbangan tersebut.
Jika dihitung secara keseluruhan, ketimpangan pembangunan di seluruh Sulawesi Tengah bahkan mencapai angka rata-rata 1,44. Ini menunjukkan bahwa akumulasi kesenjangan antarwilayah di provinsi tersebut sudah berada pada level yang sangat serius.
Novita Fauza Harda dan tim dari Universitas Tadulako menjelaskan bahwa ketimpangan ini tidak hanya dipengaruhi oleh perbedaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas infrastruktur, akses investasi, kondisi geografis, serta kualitas sumber daya manusia di masing-masing daerah.
Wilayah-wilayah yang memiliki industri besar memperoleh lonjakan pendapatan yang sangat tinggi, sementara daerah dengan basis ekonomi tradisional tumbuh jauh lebih lambat. Situasi ini semakin diperburuk oleh dampak pandemi COVID-19 pada awal periode penelitian yang membuat proses pemulihan ekonomi berjalan tidak seimbang.
Menurut penulis, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk segera memperbaiki pola pembangunan. Infrastruktur penghubung antarwilayah dinilai menjadi kunci utama untuk mempersempit kesenjangan.
Selain itu, distribusi investasi juga perlu diperluas agar tidak hanya terpusat di kawasan industri besar. Penguatan sektor unggulan daerah seperti perikanan, pertanian, dan pariwisata dinilai dapat menjadi strategi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja lokal. Pertumbuhan industri yang pesat harus dibarengi dengan pelatihan vokasi dan pendidikan yang relevan agar masyarakat setempat bisa ikut menikmati peluang ekonomi yang tersedia.
Secara lebih luas, hasil studi ini memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal distribusi manfaatnya. Ketika keuntungan ekonomi hanya terkonsentrasi di satu atau dua wilayah, kesenjangan sosial dapat semakin dalam dan memicu ketidakstabilan.
Bagi Sulawesi Tengah, tantangannya kini bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan tinggi, tetapi memastikan seluruh daerah bergerak bersama menuju kesejahteraan yang lebih merata.
0 Komentar