Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Jadi Kunci Kinerja Karyawan di Industri Konstruksi

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Surabaya - Digitalisasi kerja, fleksibilitas kerja, dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan terbukti meningkatkan kinerja karyawan di sektor konstruksi. Namun, faktor yang paling menentukan bukan sekadar teknologi atau kebijakan kerja fleksibel, melainkan keterikatan emosional karyawan terhadap pekerjaannya (employee engagement). Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 oleh Rulyadi, Pratama, Sri Mujanah, dan Atiek Kusmaningtyas dalam Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES).

Para peneliti menyoroti kondisi di sebuah perusahaan konstruksi yang disamarkan sebagai Construction Company X. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital di lingkungan kerja sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga kesejahteraan psikologis karyawan. Hasil riset ini menjadi penting karena industri konstruksi saat ini menghadapi tekanan besar akibat percepatan digitalisasi, persaingan proyek infrastruktur, serta tuntutan produktivitas yang semakin tinggi.

Di banyak perusahaan, digitalisasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kerja. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, teknologi justru dapat memicu kelelahan mental, stres digital (technostress), hingga menurunkan keterlibatan karyawan.

Data awal yang dikumpulkan peneliti menunjukkan adanya krisis manajemen sumber daya manusia di perusahaan yang diteliti. Sebanyak 76,6 persen responden mengaku mengalami tekanan karena tuntutan untuk selalu terhubung dengan pekerjaan di luar jam kerja. Selain itu, 73,3 persen responden menilai kebijakan kerja fleksibel belum didukung prosedur operasional yang jelas sehingga memunculkan ketidakpastian dalam bekerja.

Akibatnya, sekitar 80 persen karyawan mengalami kesulitan memisahkan kehidupan pribadi dan pekerjaan. Kondisi tersebut berujung pada menurunnya keterikatan karyawan terhadap perusahaan, meningkatnya tingkat absensi, serta turunnya kualitas kinerja. Bahkan, tingkat keluhan terkait kinerja mencapai 90 persen, ditandai dengan keterlambatan laporan proyek dan tingginya revisi administratif maupun teknis.

Untuk memahami persoalan tersebut secara lebih mendalam, tim peneliti melibatkan 142 karyawan tetap berusia 23 hingga 40 tahun yang bekerja di berbagai divisi perusahaan konstruksi tersebut. Seluruh responden memiliki latar belakang pendidikan minimal diploma atau sarjana.

Data dikumpulkan melalui survei daring menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis untuk melihat hubungan antara digitalisasi kerja, fleksibilitas kerja, work-life balance, keterikatan karyawan, dan kinerja pegawai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel yang diuji memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterikatan maupun kinerja karyawan.

Beberapa temuan utama penelitian meliputi:

  • Digitalisasi kerja meningkatkan keterikatan karyawan. Penggunaan teknologi seperti sistem berbasis cloud dan perangkat digital membantu menyederhanakan pekerjaan serta meningkatkan rasa percaya diri karyawan.
  • Fleksibilitas kerja mendorong semangat kerja. Karyawan yang memiliki keleluasaan menentukan waktu, lokasi, dan metode kerja menunjukkan tingkat dedikasi yang lebih tinggi.
  • Keseimbangan kehidupan kerja menjadi faktor paling dominan dalam membangun keterikatan karyawan. Semakin baik keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, semakin tinggi energi dan motivasi karyawan.
  • Keterikatan karyawan berpengaruh langsung terhadap kinerja. Pegawai yang merasa antusias, bangga, dan terhubung secara emosional dengan pekerjaannya cenderung menghasilkan performa yang lebih baik.
  • Model penelitian mampu menjelaskan sekitar 59,5 persen variasi kinerja karyawan, sementara sisanya dipengaruhi faktor lain seperti budaya organisasi, gaya kepemimpinan, sistem kompensasi, dan lingkungan kerja.

Penelitian juga menemukan bahwa employee engagement berperan sebagai jembatan utama yang menghubungkan digitalisasi, fleksibilitas kerja, dan work-life balance dengan peningkatan kinerja.

Nilai pengaruh tidak langsung terbesar ditemukan pada hubungan antara work-life balance dan kinerja melalui employee engagement. Artinya, menjaga keseimbangan kehidupan kerja tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental pegawai, tetapi juga menjadi strategi bisnis yang efektif untuk meningkatkan produktivitas.

Menurut Rulyadi dan tim peneliti, transformasi digital tidak cukup hanya diwujudkan melalui investasi teknologi. Organisasi juga harus membangun hubungan psikologis yang kuat dengan karyawan agar teknologi dapat memberikan manfaat optimal.

"Performa tinggi tidak semata-mata dicapai melalui adopsi teknologi, tetapi melalui komitmen manusia yang difasilitasi oleh teknologi dan kebijakan kerja yang fleksibel," tulis para peneliti dalam publikasi mereka.

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi perusahaan konstruksi maupun sektor industri lainnya yang tengah menjalani transformasi digital. Organisasi disarankan untuk menyusun standar operasional yang jelas terkait kerja fleksibel, menyediakan pelatihan literasi digital untuk mengurangi stres teknologi, serta menerapkan kebijakan digital disconnect agar karyawan memiliki waktu istirahat yang memadai.

Selain itu, perusahaan juga perlu mengembangkan gaya kepemimpinan yang lebih transformatif dan berorientasi pada kesejahteraan psikologis karyawan. Pendekatan tersebut diyakini mampu memperkuat loyalitas, mencegah burnout, serta menjaga keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang.

Di tengah semakin kaburnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi akibat perkembangan teknologi, penelitian ini menegaskan bahwa keseimbangan hidup bukan lagi sekadar isu kesejahteraan karyawan, melainkan kebutuhan strategis bagi keberhasilan organisasi modern.

Profil Penulis

Rulyadi merupakan peneliti di bidang manajemen sumber daya manusia dengan fokus pada transformasi digital, perilaku organisasi, dan kinerja karyawan.

Pratama adalah akademisi dan peneliti yang menaruh perhatian pada isu fleksibilitas kerja, manajemen organisasi, serta pengembangan sumber daya manusia.

Prof. Dr. Sri Mujanah, S.E., M.M. adalah dosen dan peneliti senior yang berafiliasi dengan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Bidang keahliannya meliputi manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan strategi bisnis.

Atiek Kusmaningtyas, S.E., M.M. merupakan akademisi dan peneliti yang fokus pada bidang manajemen, kepemimpinan organisasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Influence of Work Digitalization, Work Flexibility, and Work-Life Balance on Employee Performance with Employee Engagement as an Intervening Variable at Construction Company X

Jurnal: Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES)

Tahun Publikasi: 2026

Penulis: Rulyadi, Pratama, Sri Mujanah, dan Atiek Kusmaningtyas.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjbes.v2i3.647
URL:
https://mtiformosapublisher.org/index.php/fjbes

Posting Komentar

0 Komentar