Temuan ini menjadi penting di tengah persaingan industri air minum dalam kemasan yang semakin ketat di Indonesia. Pasar AMDK tidak lagi hanya ditentukan oleh harga dan distribusi, tetapi juga oleh persepsi konsumen mengenai kesehatan, kualitas, dan kredibilitas suatu merek.
Pasca pandemi COVID-19, masyarakat Indonesia semakin memperhatikan aspek kesehatan dalam memilih produk konsumsi sehari-hari. Air minum kemasan, yang sebelumnya dianggap sebagai produk kebutuhan dasar, kini dipilih dengan pertimbangan yang lebih kompleks. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga keamanan produk, standar kualitas, serta reputasi merek.
Di sisi lain, derasnya promosi dan banyaknya pilihan produk membuat perusahaan harus membangun kepercayaan konsumen secara lebih serius. Sebuah merek yang dikenal luas belum tentu berhasil mendorong pembelian apabila konsumen masih meragukan kualitas dan manfaat produknya.
Untuk memahami perilaku tersebut, para peneliti melibatkan 165 konsumen AMDK di wilayah Surabaya. Seluruh responden merupakan konsumen yang pernah mengonsumsi produk AquaViva dalam tiga bulan terakhir. Data dikumpulkan melalui survei daring menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis untuk mengetahui hubungan antara kesadaran kesehatan, persepsi kualitas produk, visibilitas merek, kepercayaan merek, dan keputusan pembelian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh faktor yang diuji memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian konsumen.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Kesadaran kesehatan meningkatkan kepercayaan merek. Konsumen yang lebih peduli terhadap kesehatan cenderung lebih mempercayai merek yang dianggap aman dan mendukung gaya hidup sehat.
- Persepsi kualitas produk menjadi faktor paling kuat dalam membangun kepercayaan merek. Kualitas rasa, kemurnian air, kemasan, serta kepatuhan terhadap standar keamanan menjadi dasar utama terbentuknya kepercayaan konsumen.
- Visibilitas merek berpengaruh positif terhadap kepercayaan dan keputusan pembelian. Produk yang mudah ditemukan dan sering terlihat dalam promosi lebih mudah diingat oleh konsumen.
- Kepercayaan merek memiliki pengaruh terbesar terhadap keputusan pembelian. Konsumen lebih cenderung membeli produk yang mereka yakini aman dan dapat diandalkan.
- Model penelitian mampu menjelaskan sekitar 59,9 persen variasi keputusan pembelian, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain seperti harga, promosi, pengaruh sosial, dan intensitas distribusi.
Secara statistik, persepsi kualitas produk memberikan pengaruh paling besar terhadap kepercayaan merek dibandingkan variabel lainnya. Artinya, meskipun promosi dan visibilitas penting, kualitas tetap menjadi fondasi utama dalam membangun loyalitas konsumen.
Penelitian juga menemukan bahwa kepercayaan merek berperan sebagai mediator penting yang menghubungkan kesadaran kesehatan, persepsi kualitas produk, dan visibilitas merek dengan keputusan pembelian.
Sebagai contoh, konsumen yang memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan tidak otomatis membeli suatu produk. Mereka terlebih dahulu harus yakin bahwa produk tersebut benar-benar aman dan mampu memenuhi kebutuhan kesehatan mereka.
Hal yang sama terjadi pada kualitas produk. Konsumen mungkin mengakui bahwa sebuah produk memiliki kualitas yang baik, tetapi keputusan pembelian baru terjadi ketika kualitas tersebut berhasil diterjemahkan menjadi rasa aman dan kepercayaan.
Menurut para peneliti, fenomena ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran modern tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan eksposur iklan. Merek harus mampu membangun kredibilitas melalui kualitas produk yang konsisten, transparansi informasi, serta pengalaman konsumen yang positif.
Kusumo dan tim peneliti menegaskan bahwa kepercayaan merek merupakan "jembatan psikologis" yang mengubah persepsi positif konsumen menjadi tindakan pembelian nyata.
Para penulis juga menemukan bahwa pengaruh visibilitas merek relatif lebih rendah dibandingkan faktor kualitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi promosi yang terlalu agresif tanpa didukung kualitas dan reputasi justru berpotensi menimbulkan kejenuhan di kalangan konsumen.
Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan AMDK disarankan untuk mengalihkan strategi pemasaran dari sekadar "membombardir" konsumen dengan iklan menuju pendekatan yang lebih berbasis komunitas dan kesehatan. Kehadiran produk di pusat kebugaran, apotek, fasilitas kesehatan, maupun kegiatan gaya hidup sehat dinilai lebih efektif dalam membangun kepercayaan dibandingkan hanya meningkatkan jumlah iklan konvensional.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi industri makanan dan minuman di Indonesia. Perusahaan yang ingin memenangkan persaingan pasar perlu menempatkan kualitas produk dan kepercayaan konsumen sebagai prioritas utama. Di era konsumen yang semakin kritis, reputasi merek menjadi aset strategis yang menentukan keberhasilan bisnis dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Kusumo merupakan peneliti di bidang pemasaran dan perilaku konsumen dengan fokus kajian pada kepercayaan merek, keputusan pembelian, dan strategi pemasaran.
Arif adalah akademisi yang meneliti bidang manajemen pemasaran, perilaku konsumen, dan pengembangan merek.
Dr. I Made Suparta, S.E., M.M. merupakan akademisi dan peneliti yang berafiliasi dengan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan keahlian di bidang manajemen strategis, pemasaran, dan perilaku organisasi.
Ujianto adalah peneliti di bidang manajemen dan pemasaran yang memiliki perhatian pada perilaku konsumen dan strategi pengembangan bisnis.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Influence of Health Consciousness, Product Quality Perception, and Brand Visibility on Brand Trust and Its Impact on Purchase Decisions of AquaViva Products in Surabaya
Jurnal: Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES)
Tahun Publikasi: 2026
Penulis: Kusumo, Arif, I Made Suparta, dan Ujianto
Volume dan Halaman: Volume 2 Nomor 3, halaman 215–234
0 Komentar