Pertumbuhan yang Mendalam atau Pertumbuhan yang Penuh Kesenjangan? Tinjauan Ekspansi Indonesia pada Kuartal I 2026, Keberlanjutannya, dan Jangkauan Sosialnya

Ilustrasi by AI

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen di Awal 2026, Penelitian Ungkap Masih Ada Tantangan Pemerataan

Jakarta – Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan pertama 2026. Angka tersebut menjadi salah satu capaian ekonomi terbaik dalam beberapa tahun terakhir, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi belum tentu berarti manfaatnya telah dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.

Temuan ini dipaparkan dalam artikel ilmiah berjudul “Growth With Depth or Growth With Gaps? A Review of Indonesia’s Q1 2026 Expansion, Its Sustainability, and Its Social Reach” yang ditulis oleh Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta dan diterbitkan dalam International Journal of Applied Economics, Accounting and Management (IJAEAM) Volume 4 Nomor 3 Tahun 2026.

Penelitian tersebut mengkaji apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 benar-benar sehat, berkelanjutan, dan memberikan dampak luas bagi masyarakat. Alih-alih hanya melihat besarnya angka Produk Domestik Bruto (PDB), penelitian ini menelaah sumber pertumbuhan, faktor pendukung, hingga potensi tantangan yang muncul di masa depan.

Menurut hasil kajian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 terutama didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, peningkatan belanja pemerintah, investasi yang tetap positif, serta kontribusi berbagai sektor produksi seperti industri manufaktur, perdagangan, pertanian, dan konstruksi.

Konsumsi rumah tangga menjadi motor utama karena menyumbang lebih dari separuh aktivitas ekonomi nasional. Momentum Ramadan dan Idulfitri turut meningkatkan belanja masyarakat, perjalanan wisata domestik, transaksi ritel, serta aktivitas restoran dan hotel. Kondisi tersebut menciptakan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan stimulus fiskal yang besar melalui peningkatan belanja negara, termasuk pembayaran tunjangan hari raya (THR), pelaksanaan berbagai program sosial, serta percepatan pengeluaran untuk barang dan jasa. Langkah ini membantu menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat permintaan domestik.

Investasi juga menunjukkan kinerja yang cukup baik. Peningkatan terjadi pada pembangunan gedung, pembelian kendaraan, mesin, dan berbagai peralatan produksi yang mencerminkan adanya aktivitas ekonomi produktif. Hal ini dinilai menjadi sinyal positif karena investasi berpotensi meningkatkan kapasitas ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.

Tidak hanya bergantung pada sektor jasa, penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki basis yang relatif luas. Industri manufaktur tetap menjadi penyumbang terbesar, didukung oleh meningkatnya permintaan makanan dan minuman selama Ramadan serta ekspor komoditas seperti minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya. Sektor pertanian ikut terdorong oleh musim panen padi dan peningkatan permintaan produk peternakan, sedangkan sektor konstruksi memperoleh manfaat dari percepatan pembangunan dan belanja modal pemerintah.

Namun demikian, penulis menegaskan bahwa terdapat sejumlah catatan penting yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah besarnya peran belanja pemerintah dalam menopang pertumbuhan. Jika stimulus tersebut berkurang pada periode berikutnya, laju pertumbuhan ekonomi berpotensi mengalami perlambatan apabila tidak diimbangi oleh penguatan sektor swasta.

Selain itu, ekspor bersih justru memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan. Meskipun beberapa komoditas memperoleh keuntungan dari kenaikan harga global, impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor sehingga mengurangi kontribusi sektor eksternal terhadap PDB.

Penelitian juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata. Sebagian manfaat pertumbuhan diperkirakan masih terhambat oleh kualitas pekerjaan yang belum optimal, tingkat informalitas tenaga kerja yang tinggi, serta tekanan inflasi yang dapat mengurangi daya beli riil rumah tangga.

Dari sisi wilayah, seluruh kawasan utama di Indonesia mengalami pertumbuhan positif. Bali dan Nusa Tenggara serta Sulawesi bahkan mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Meski demikian, Pulau Jawa masih mendominasi perekonomian nasional sehingga distribusi manfaat pertumbuhan antarwilayah dinilai belum sepenuhnya seimbang.

Kajian ini juga memberikan perhatian terhadap peran industri kelapa sawit. Dalam situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian, permintaan terhadap produk minyak sawit dan turunannya dinilai membantu menjaga aktivitas manufaktur, ekspor, dan pendapatan di sektor agroindustri. Oleh karena itu, komoditas ini dipandang sebagai salah satu faktor yang ikut memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia pada awal 2026.

Berdasarkan keseluruhan analisis, Loso Judijanto menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 merupakan pertumbuhan yang nyata dan cukup kuat dalam jangka pendek. Namun, keberlanjutannya masih bergantung pada kemampuan meningkatkan produktivitas, memperkuat investasi berkualitas, menciptakan lapangan kerja formal yang lebih baik, serta memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Penelitian tersebut menyarankan agar pemerintah terus menjaga stabilitas ekonomi makro, melanjutkan dukungan terhadap investasi dan sektor produktif, serta memperkuat kebijakan yang mampu meningkatkan kualitas pekerjaan dan pemerataan pembangunan di berbagai daerah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga benar-benar menghadirkan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

URL :https://mrymultitechpublisher.my.id/index.php/ijaeam/index

DOI: https://doi.org/10.59890/ijaeam.v4i3.180

Posting Komentar

0 Komentar