Dampak Beban Lalu Lintas terhadap Kerusakan Kondisi Perkerasan Menggunakan Metode PCI: Studi Kasus Jalan Taman-Waru, Kabupaten Sidoarjo, Indonesia


Truk Berat Percepat Kerusakan Jalan Taman–Waru, Studi Temukan Hubungan Sangat Kuat
FORMOSA NEWS – Beban lalu lintas kendaraan berat terbukti menjadi penyebab utama penurunan kondisi Jalan Taman–Waru di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Yeyen Dwi Affri Rahmandhani, Risma Marleno, dan Laksono Djoko Nugroho dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. Hasil penelitian dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Integrative Research (IJIR) dan menunjukkan bahwa semakin tinggi beban lalu lintas yang diterima jalan, semakin cepat kondisi perkerasan mengalami kerusakan. Penelitian ini penting karena Jalan Taman–Waru merupakan salah satu koridor arteri utama yang menghubungkan kawasan industri Sidoarjo dengan wilayah metropolitan Surabaya Raya. Jalur tersebut setiap hari dilintasi ribuan kendaraan, termasuk truk berat dan kendaraan logistik yang menopang aktivitas industri di kawasan tersebut. Namun, intensitas lalu lintas yang tinggi juga memunculkan tantangan besar berupa kerusakan jalan yang terjadi lebih cepat dari umur rencana konstruksinya. Para peneliti menemukan hubungan yang sangat kuat antara akumulasi beban kendaraan dan penurunan kualitas perkerasan jalan. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pemerintah daerah untuk merencanakan pemeliharaan jalan secara lebih efektif sekaligus memperkuat pengawasan terhadap kendaraan bermuatan berlebih.
Jalan Rusak Menjadi Tantangan Infrastruktur Daerah
Kondisi jalan yang menurun bukan hanya mengurangi kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga meningkatkan biaya operasional kendaraan, memperbesar risiko kecelakaan, dan membebani anggaran pemerintah untuk rehabilitasi infrastruktur. Dalam sistem perencanaan jalan di Indonesia, umur perkerasan dirancang berdasarkan estimasi beban lalu lintas tertentu. Namun, ketika jumlah kendaraan berat atau muatan yang diangkut melebihi kapasitas yang direncanakan, kerusakan jalan dapat muncul jauh lebih cepat. Fenomena ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kendaraan dengan muatan berlebih mampu mengurangi umur layanan jalan hingga beberapa tahun lebih cepat dibandingkan perencanaan awal. Jalan Taman–Waru diduga mengalami kondisi serupa karena menjadi jalur utama distribusi barang dari kawasan industri menuju Surabaya dan daerah sekitarnya. Di lapangan, kerusakan yang terlihat meliputi retak buaya (alligator cracking), alur roda (rutting), lubang jalan (potholes), dan pelepasan butiran permukaan aspal. Pola kerusakan tersebut umumnya berkaitan erat dengan tekanan berulang dari kendaraan bertonase besar.
Survei Lalu Lintas dan Pemeriksaan Jalan
Untuk mengetahui pengaruh beban lalu lintas terhadap kondisi jalan, tim peneliti melakukan survei pada ruas Jalan Taman–Waru sepanjang dua kilometer. Ruas jalan tersebut dibagi menjadi 10 segmen, masing-masing sepanjang 200 meter. Pengamatan lalu lintas dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dengan menghitung jumlah kendaraan yang melintas, jenis kendaraan, serta karakteristik sumbu kendaraan yang memengaruhi tingkat kerusakan jalan. Pada saat yang sama, kondisi perkerasan jalan dievaluasi menggunakan metode Pavement Condition Index (PCI), yaitu metode internasional yang memberikan nilai kondisi jalan dari skala 0 hingga 100. Nilai tinggi menunjukkan kondisi jalan yang baik, sedangkan nilai rendah menunjukkan kerusakan yang semakin parah. Metode ini memungkinkan peneliti mengukur tingkat kerusakan secara objektif dan membandingkannya dengan beban lalu lintas yang diterima setiap segmen jalan.
Truk Berat Menyumbang Kerusakan Terbesar
Hasil survei menunjukkan rata-rata lalu lintas harian mencapai sekitar 5.600 kendaraan per hari. Menariknya, kendaraan berat berupa truk tiga sumbu dan trailer lima sumbu hanya menyumbang sekitar 22,9 persen dari total volume kendaraan. Namun, kelompok kendaraan tersebut bertanggung jawab atas 84,3 persen total beban kerusakan jalan yang diterima perkerasan. Menurut peneliti, kondisi ini terjadi karena kerusakan jalan meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya beban sumbu kendaraan. Dengan kata lain, satu kendaraan berat dapat memberikan dampak kerusakan yang setara dengan ratusan bahkan ribuan kendaraan ringan. Akumulasi beban kendaraan terus meningkat dari segmen awal menuju arah Waru yang menjadi pusat aktivitas industri dan logistik. Hal ini menjelaskan mengapa kerusakan jalan paling parah ditemukan pada segmen yang berdekatan dengan kawasan industri tersebut.
Kondisi Jalan Memburuk Menuju Kawasan Industri
Penilaian menggunakan metode PCI menunjukkan variasi kondisi jalan yang cukup signifikan di sepanjang ruas penelitian. Nilai PCI tertinggi tercatat sebesar 72, yang masih masuk kategori baik, pada segmen awal dekat kawasan Taman. Sebaliknya, nilai PCI terendah hanya 32, yang termasuk kategori sangat buruk, ditemukan pada segmen dekat Waru. Secara rinci, hasil penelitian menunjukkan:
-2 segmen berada dalam kategori baik.
-3 segmen berada dalam kategori sedang.
-3 segmen berada dalam kategori rusak ringan.
-2 segmen berada dalam kategori rusak berat hingga sangat buruk.
Kepadatan retak buaya meningkat drastis dari hanya 2,1 persen pada segmen awal menjadi 21 persen pada segmen akhir. Kedalaman alur roda juga meningkat dari 3 milimeter menjadi 28 milimeter, melewati batas kritis yang umumnya digunakan dalam evaluasi keselamatan dan kenyamanan jalan. Secara keseluruhan, nilai rata-rata PCI seluruh ruas hanya 53,7, yang menunjukkan kondisi jalan berada dalam kategori rusak ringan menuju buruk.
Hubungan Beban Kendaraan dan Kerusakan Jalan Sangat Kuat
Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah hubungan statistik yang sangat kuat antara beban lalu lintas dan kondisi jalan. Analisis menunjukkan nilai korelasi sebesar -0,987, yang berarti peningkatan beban lalu lintas hampir selalu diikuti penurunan kondisi jalan. Nilai koefisien determinasi mencapai 97,4 persen, menunjukkan bahwa sebagian besar variasi kondisi jalan dapat dijelaskan oleh akumulasi beban kendaraan. Menurut Yeyen Dwi Affri Rahmandhani dan tim dari UNTAG Surabaya, hasil tersebut menjadikan beban lalu lintas sebagai faktor paling dominan dalam menentukan umur dan kualitas perkerasan jalan pada koridor Taman–Waru. Penelitian juga menemukan bahwa 50 persen segmen jalan telah melampaui batas beban rencana yang digunakan saat pembangunan jalan. Akibatnya, umur layanan jalan berkurang secara signifikan.
Beberapa Segmen Membutuhkan Rehabilitasi Segera
Perhitungan umur sisa jalan menunjukkan bahwa segmen-segmen dengan beban lalu lintas tertinggi memiliki masa layanan tersisa hanya sekitar 6,6 hingga 9,4 tahun, lebih pendek dibanding umur rencana 10 tahun. Dua segmen yang berada di kawasan paling padat lalu lintas, yaitu STA 1+600 hingga STA 1+800, dinilai membutuhkan rehabilitasi besar dalam dua hingga tiga tahun mendatang apabila tidak ingin mengalami kerusakan yang lebih serius. Berdasarkan hasil tersebut, para peneliti merekomendasikan pemasangan sistem pemantauan kendaraan otomatis (Weigh-in-Motion) pada kedua ujung koridor Taman–Waru. Sistem ini memungkinkan pemerintah memantau beban kendaraan secara real time tanpa menghentikan arus lalu lintas. Selain itu, penegakan aturan terhadap kendaraan bermuatan berlebih perlu diperketat, terutama bagi truk yang keluar masuk kawasan industri. Langkah ini dinilai lebih ekonomis dibandingkan harus melakukan rehabilitasi jalan secara berulang akibat kerusakan prematur.
Dampak bagi Kebijakan Infrastruktur
Penelitian ini memberikan bukti ilmiah bahwa pengendalian kendaraan berat merupakan salah satu strategi paling efektif untuk memperpanjang umur jalan dan menghemat anggaran pemeliharaan infrastruktur. Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar penyusunan prioritas pemeliharaan jalan berbasis data. Bagi pelaku industri dan sektor logistik, temuan ini menjadi pengingat bahwa kepatuhan terhadap batas muatan kendaraan tidak hanya berkaitan dengan regulasi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan infrastruktur transportasi yang mendukung aktivitas ekonomi.
Profil Penulis
Yeyen Dwi Affri Rahmandhani merupakan akademisi dan peneliti di Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memiliki fokus kajian pada teknik sipil, manajemen perkerasan jalan, dan transportasi. Penelitian ini disusun bersama Risma Marleno dan Laksono Djoko Nugroho, yang juga berafiliasi dengan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan aktif dalam penelitian infrastruktur transportasi serta rekayasa jalan raya.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Traffic Load Impact on Pavement Condition Deterioration Using PCI Method: A Case Study of Taman–Waru Road, Sidoarjo Regency, Indonesia
Penulis: Yeyen Dwi Affri Rahmandhani, Risma Marleno, Laksono Djoko Nugroho
Afiliasi: Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)
Volume dan Nomor: Vol. 4 No. 4
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar