Fleksibilitas Kerja dan Self-Leadership Dongkrak Kinerja Karyawan di Era Hybrid

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Surabaya - Kebijakan kerja fleksibel, kemampuan memimpin diri sendiri (self-leadership), dan keseimbangan kehidupan kerja terbukti meningkatkan kinerja karyawan di era kerja hybrid. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Mega Farynda Kurnia Dewi, Andrean Fredy Iswanto, Siti Mujanah, Made Suparta dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES) ini menunjukkan bahwa organisasi yang mampu mengelola fleksibilitas kerja secara tepat berpeluang menciptakan tenaga kerja yang lebih produktif dan tangguh.

Temuan ini menjadi penting di tengah semakin meluasnya penerapan sistem kerja hybrid dan Flexible Working Arrangement (FWA) di berbagai sektor industri. Sejak pandemi COVID-19, banyak perusahaan mempertahankan pola kerja fleksibel untuk meningkatkan efisiensi dan kepuasan karyawan. Namun, berbagai organisasi masih menghadapi tantangan dalam memastikan bahwa fleksibilitas benar-benar berdampak pada peningkatan produktivitas.

Penelitian Rosita Dewi dan tim menyoroti kondisi di PT Kareb Alam Sejahtera, sebuah perusahaan yang telah menerapkan sistem kerja fleksibel. Meski kebijakan tersebut telah berjalan, perusahaan justru menghadapi sejumlah persoalan terkait kinerja dan keterlibatan karyawan.

Data internal perusahaan selama periode 2024–2025 menunjukkan adanya penurunan pencapaian Key Performance Indicator (KPI). Pada kuartal IV tahun 2025, capaian KPI perusahaan turun tajam sebesar 12 persen, dari 82 persen menjadi hanya 70 persen. Selain itu, tingkat absensi meningkat hingga 8,4 persen, sedangkan keterlambatan login pada sistem kerja fleksibel mencapai 14,5 persen. Tingkat pergantian karyawan (turnover) juga naik hingga 4,5 persen. Kondisi tersebut disertai meningkatnya keluhan terkait kelelahan kerja (burnout) di tengah sistem kerja yang seharusnya memberikan keleluasaan bagi pegawai.

Menurut para peneliti dari Untag Surabaya, fenomena tersebut mengindikasikan bahwa banyak karyawan mengalami kesulitan memisahkan waktu kerja dan kehidupan pribadi. Di sisi lain, rendahnya inisiatif individu dalam mengatur dan memotivasi diri sendiri turut memengaruhi menurunnya keterikatan terhadap pekerjaan (work engagement).

Untuk memahami persoalan tersebut, tim peneliti melibatkan seluruh 83 karyawan kantor pusat nonproduksi PT Kareb Alam Sejahtera sebagai responden penelitian. Responden berasal dari divisi manajerial, administrasi, sumber daya manusia, dan keuangan. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan skala penilaian, kemudian dianalisis untuk melihat hubungan antara fleksibilitas kerja, self-leadership, work-life balance, work engagement, dan kinerja karyawan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga faktor utama—Flexible Working Arrangement, Self-Leadership, dan Work-Life Balance—berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja maupun kinerja karyawan.

Beberapa temuan penting penelitian meliputi:

  • Fleksibilitas kerja meningkatkan keterikatan dan kinerja karyawan. Pegawai yang memiliki keleluasaan mengatur waktu dan lokasi kerja menunjukkan semangat kerja yang lebih tinggi.
  • Self-leadership menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas. Karyawan yang mampu mengatur tujuan pribadi, memotivasi diri, dan mempertahankan pola pikir positif memiliki performa yang lebih baik.
  • Work-life balance berperan besar dalam meningkatkan keterlibatan kerja. Karyawan yang mampu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung lebih energik, fokus, dan berdedikasi.
  • Work engagement terbukti meningkatkan kinerja karyawan secara langsung. Karyawan yang merasa terhubung secara emosional dengan pekerjaannya menghasilkan kualitas dan kuantitas kerja yang lebih baik.
  • Secara keseluruhan, model penelitian mampu menjelaskan 71,9 persen variasi kinerja karyawan, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain seperti budaya organisasi, kompensasi, dan lingkungan kerja fisik.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa meskipun work engagement meningkat akibat fleksibilitas kerja, self-leadership, dan work-life balance, variabel tersebut tidak berperan sebagai mediator utama dalam meningkatkan kinerja. Artinya, ketiga faktor tersebut lebih banyak memengaruhi kinerja secara langsung melalui mekanisme praktis seperti pengurangan stres, pengelolaan waktu yang lebih baik, serta peningkatan disiplin kerja.
Rosita Dewi dan rekan-rekannya dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menegaskan bahwa fleksibilitas kerja tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk kebijakan administratif. Organisasi juga perlu memastikan bahwa karyawan memiliki kemampuan memimpin diri sendiri dan mampu menjaga batas sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dalam kesimpulan peneliti disebutkan bahwa "Flexible Working Arrangement, Self-Leadership, dan Work-Life Balance merupakan pilar penting untuk meningkatkan keterlibatan kerja dan kinerja karyawan." Para penulis juga menekankan bahwa organisasi perlu membangun budaya kerja yang mendukung kesehatan mental dan ketahanan karyawan agar produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi perusahaan di berbagai sektor yang sedang menerapkan sistem kerja hybrid. Organisasi disarankan untuk menyusun kebijakan kerja fleksibel yang lebih terstruktur, menyediakan pelatihan self-leadership, serta menciptakan budaya kerja yang menghormati batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Di tengah meningkatnya tren kerja jarak jauh dan hybrid, penelitian dari Untag Surabaya ini menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau fleksibilitas, tetapi juga oleh kemampuan karyawan dalam mengelola diri dan menjaga keseimbangan hidup.

Profil Penulis

Rosita Dewi, S.E., M.M. adalah akademisi dan peneliti di bidang manajemen sumber daya manusia dengan fokus pada perilaku organisasi, fleksibilitas kerja, dan kinerja karyawan.

Hery Iswanto, S.E., M.M. merupakan dosen dan peneliti yang memiliki keahlian dalam manajemen organisasi, kepemimpinan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Prof. Dr. Sri Mujanah, S.E., M.M. adalah guru besar dan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang berfokus pada manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan strategi bisnis.

Dr. I Made Suparta, S.E., M.M. merupakan akademisi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan bidang keahlian manajemen strategis, pengembangan organisasi, dan manajemen sumber daya manusia.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Influence of Flexible Working Arrangement, Self-Leadership, and Work-Life Balance on Employee Performance Through Work Engagement as an Intervening Variable at PT Kareb Alam Sejahtera

Jurnal: Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES)

Tahun Publikasi: 2026

Penulis: Rosita Dewi, Hery Iswanto, Sri Mujanah, dan I Made Suparta

Halaman: 197–214

Posting Komentar

0 Komentar