Temuan tersebut penting karena Museum Sangiran, yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia sejak 1996, selama ini masih mengandalkan penjelasan verbal dari pemandu wisata. Informasi yang disampaikan secara lisan dinilai belum mampu memberikan pengalaman yang mendalam kepada pengunjung.
Mengubah Museum Menjadi Ruang Pengalaman Sejarah
Museum Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba paling penting di dunia. Koleksinya mencakup fosil Homo erectus dan berbagai bukti kehidupan prasejarah yang menjadi rujukan penelitian internasional.
Namun, menurut tim peneliti, penyampaian informasi melalui panel dan penjelasan lisan memiliki keterbatasan. Banyak pengunjung kesulitan membayangkan bagaimana kehidupan manusia purba berlangsung jutaan tahun lalu.
Karena itu, para peneliti menawarkan transformasi model komunikasi museum dari sekadar penyajian benda mati menjadi pengalaman multisensori yang melibatkan gambar, suara, narasi, dan interaksi emosional.
Penelitian ini didukung oleh Program Dana Indonesiana 2025 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Lima Bulan Pengamatan di Sangiran
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus eksploratif. Selama lima bulan, tim melakukan observasi, wawancara, diskusi kelompok terarah (FGD), kajian pustaka, serta analisis perilaku pengunjung.
Mereka juga mengumpulkan data mengenai:
- Pertanyaan yang paling sering diajukan pengunjung.
- Statistik jumlah pengunjung sebelum dan sesudah pandemi Covid-19.
- Perbandingan fasilitas audio visual di berbagai museum.
- Produksi film eksperimental berjudul “Bit Arrangement” yang disutradarai oleh Sudibyo.
Film tersebut dipamerkan pada Maret 2026 di Institut Kesenian Jakarta dan kemudian diunggah ke YouTube.
Empat Tahapan untuk “Menghidupkan” Manusia Purba
Penelitian memperkenalkan metode “Bit Arrangement”, yaitu teknik menyusun potongan-potongan informasi menjadi sebuah narasi yang utuh.
Metode ini dibagi menjadi empat tahap utama:
1. Reality Check
Pengunjung terlebih dahulu diperkenalkan pada fakta bahwa Sangiran merupakan situs ilmiah yang nyata dan diakui dunia.
2. Time Machine
Film membawa penonton kembali ke masa dua juta tahun lalu melalui rekonstruksi kehidupan Homo erectus, termasuk ancaman alam dan cara bertahan hidup manusia purba.
3. The Mirror
Penonton diajak menyadari bahwa manusia modern memiliki hubungan biologis dengan manusia purba.
4. Call to Action
Film mendorong pengunjung untuk memahami pentingnya pelestarian situs sejarah dan peningkatan literasi sains.
Menurut para peneliti, struktur tersebut membantu mengubah fosil yang selama ini dipandang sebagai benda mati menjadi pengalaman yang lebih hidup dan bermakna.
Pengunjung Dapat Menjadi Bagian dari Film
Salah satu inovasi yang diusulkan adalah konsep Cinema Immersive Participatory. Dalam konsep ini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat muncul sebagai karakter digital melalui teknologi pemrosesan gambar berbasis kecerdasan buatan.
Pengunjung dapat tampil sebagai:
- Peneliti lapangan.
- Ilmuwan laboratorium.
- Saksi perjalanan evolusi manusia.
- Peserta simulasi rekonstruksi sejarah.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa pengunjung tidak akan divisualisasikan sebagai Homo erectus karena alasan etika dan akurasi ilmiah.
Seluruh proses juga dirancang dengan persetujuan pengguna serta penghapusan data otomatis untuk menjaga privasi.
Museum Dunia Sudah Memanfaatkan Teknologi Film
Penelitian ini juga membandingkan Sangiran dengan sejumlah museum lain yang telah menggunakan teknologi audio visual, antara lain:
- Museum Geologi Bandung.
- Museum Tsunami Aceh.
- Smithsonian National Museum of Natural History, Amerika Serikat.
- National Museum of Nature and Science, Tokyo.
- Museum Nasional Indonesia.
- Museum Song Terus Pacitan.
Penggunaan bioskop tiga dimensi dan ruang audio visual terbukti meningkatkan keterlibatan pengunjung dan memperkuat pengalaman belajar.
Tim peneliti menilai Sangiran memiliki peluang untuk mengembangkan konsep yang lebih unik karena melibatkan penonton sebagai bagian dari cerita.
Meningkatkan Literasi Sains dan Kesadaran Sejarah
Menurut Sudibyo dan rekan-rekannya, teknologi seharusnya tidak mengubah museum menjadi taman hiburan semata.
Film dan pengalaman imersif harus tetap menjaga keaslian fosil serta menjadikan pengunjung lebih memahami sejarah manusia.
Mereka menilai museum masa depan bukan lagi sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi ruang pertunjukan pengetahuan yang memungkinkan masyarakat merasakan hubungan langsung dengan masa lalu.
Pendekatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap arkeologi, sejarah, dan ilmu pengetahuan.
Profil Singkat Penulis
Sudibyo
Dosen dan praktisi perfilman dari Akademi Komunikasi Media Radio dan Televisi Jakarta. Bidang keahlian meliputi komunikasi, perfilman, dan seni pertunjukan.
Widyo Nugroho
Akademisi Universitas Gunadarma dengan bidang keahlian manajemen dan analisis data penelitian.
Akademisi Akademi Komunikasi Media Radio dan Televisi Jakarta yang fokus pada komunikasi media dan produksi audio visual.
Dr. Yohanes Ari Kuncoroyakti
Dosen Universitas Gunadarma dengan keahlian pada pengelolaan publikasi ilmiah dan komunikasi akademik.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Reviving Ancient Human Fossils Using the “Bit Arrangement” Method at the Sangiran Archaeological Museum
Penulis: Sudibyo, Bonar S. Panjaitan, Widyo Nugroho, Yohanes Ari Kuncoroyakti
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 6
Tahun: 2026
Halaman: 445–464
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i6.6
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar