Medan — Sampah organik rumah tangga yang selama ini sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi cairan multifungsi yang mendukung kebersihan lingkungan. Hal ini menjadi fokus artikel ilmiah yang ditulis Efbertias Sitorus bersama tim peneliti dari Universitas Methodist Indonesia dan Universitas Sumatera Utara. Dipublikasikan pada 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), artikel tersebut menyoroti praktik pembuatan eco enzyme dari limbah organik rumah tangga sebagai langkah sederhana namun efektif dalam mendukung sanitasi lingkungan berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 10 April 2026 di Gereja Methodist Indonesia Jemaat Wesley Residence, Medan, Sumatera Utara. Sebanyak 30 peserta dari jemaat gereja terlibat langsung dalam pelatihan yang menggabungkan edukasi, demonstrasi, diskusi, dan pendampingan singkat. Program ini penting karena rumah tangga menjadi titik awal pengelolaan sampah organik yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Efbertias Sitorus dan tim menjelaskan bahwa persoalan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan besar dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kulit buah, sisa sayuran, dan limbah dapur lainnya sering dibuang begitu saja tanpa pemisahan. Padahal, jika dikelola dengan benar, limbah tersebut bisa diubah menjadi produk bermanfaat yang dapat digunakan kembali untuk kebutuhan rumah tangga.
Eco enzyme sendiri merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik dengan campuran gula merah dan air dalam rasio 1:3:10. Dalam praktiknya, bahan-bahan seperti kulit nanas, kulit bawang, serai, jeruk nipis, hingga kunyit digunakan sebagai bahan utama fermentasi. Menurut tim penulis, proses ini relatif mudah, murah, dan dapat dilakukan oleh siapa saja di rumah.
Pelatihan dimulai dengan penjelasan mengenai pentingnya memilah sampah organik. Setelah itu, peserta diperlihatkan secara langsung bagaimana memotong bahan, mencampur dengan air dan gula, serta menyimpan dalam wadah fermentasi. Proses fermentasi membutuhkan ruang udara dalam wadah dan perlu dibuka secara berkala pada tahap awal untuk mengurangi tekanan gas. Penjelasan ini menjadi penting agar hasil fermentasi tetap aman dan optimal.
Respon peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Banyak pertanyaan muncul seputar jenis bahan yang bisa digunakan, lama fermentasi, ciri-ciri hasil yang baik, hingga cara memanfaatkan eco enzyme setelah selesai. Interaksi ini menunjukkan bahwa konsep pengelolaan sampah berbasis rumah tangga sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Efbertias Sitorus dari Universitas Methodist Indonesia menilai bahwa perubahan perilaku lingkungan harus dimulai dari perubahan cara pandang terhadap sampah. Sampah organik bukan lagi sekadar limbah, tetapi sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Perspektif ini menjadi inti dari pendidikan lingkungan yang dibangun dalam program pengabdian tersebut.
Dari hasil observasi, seluruh target kegiatan tercapai. Materi berhasil disampaikan, demonstrasi berjalan sesuai rencana, peserta aktif berdiskusi, dan muncul komitmen untuk mencoba membuat eco enzyme secara mandiri di rumah. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif berbasis praktik langsung lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan hanya penyampaian teori semata.
Manfaat eco enzyme tidak hanya terbatas pada pengurangan sampah. Cairan hasil fermentasi ini juga dapat digunakan untuk membersihkan lantai, saluran air, hingga mendukung kebersihan lingkungan rumah. Dalam konteks sanitasi, pengelolaan limbah organik yang baik mampu mengurangi bau tidak sedap, mencegah datangnya serangga, dan menjaga kualitas kesehatan keluarga. Ini menjadikan eco enzyme sebagai solusi praktis yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.
Secara lebih luas, penelitian ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan berbasis komunitas dapat menjadi strategi efektif dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan berkelanjutan. Ketika keluarga mulai memilah dan mengelola sampah sendiri, dampaknya tidak hanya terasa di rumah, tetapi juga pada lingkungan sosial yang lebih besar. Model seperti ini dinilai dapat diterapkan di berbagai komunitas lain, termasuk sekolah, kelompok PKK, dan organisasi keagamaan.
Efbertias Sitorus dan tim menegaskan bahwa keberhasilan program seperti ini membutuhkan tindak lanjut. Pendampingan lanjutan dan monitoring praktik rumah tangga menjadi langkah penting agar pengetahuan yang sudah diperoleh tidak berhenti sebagai teori, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. Dengan begitu, pengelolaan sampah organik dapat menjadi bagian dari budaya hidup sehat masyarakat Indonesia.
Profil Penulis
- Efbertias SitorusUniversitas Methodist Indonesia
- Pantas SimanjuntakUniversitas Methodist Indonesia
- Meylin Kristina SaragihUniversitas Methodist Indonesia
- Ragnar Oktavianus SitorusUniversitas Methodist Indonesia
- Pahala LL SianturiUniversitas Methodist Indonesia
- Helena Tatcher PakpahanUniversitas Sumatera Utara
- Sri Pratiwi AritonangUniversitas Sumatera Utara
- Aditia Erick Cantona SimatupangUniversitas Methodist Indonesia
- Kilian SiraitUniversitas Methodist Indonesia
- Lince Romauli PanatariaUniversitas Methodist Indonesia
- Jones T. SimatupangUniversitas Methodist Indonesia
- Manaor Bismar Posman NababanUniversitas Methodist Indonesia
- Agnes Imelda ManurungUniversitas Methodist Indonesia
- Ebsan Marihot SianiparUniversitas Methodist Indonesia
- Medi Lilis br. NainggolanUniversitas Methodist Indonesia
- Siti NormiUniversitas Methodist Indonesia
- Ezekiel Berliantoro SitorusUniversitas Methodist Indonesia
- Maludin PanjaitanUniversitas Methodist Indonesia
- Veraci SilalahiUniversitas Methodist Indonesia
0 Komentar