Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya tuntutan terhadap lembaga pemerintah dan organisasi publik untuk memberikan pelayanan berkualitas sekaligus menerapkan prinsip keberlanjutan lingkungan. Organisasi saat ini tidak hanya dituntut produktif, tetapi juga harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan pegawai.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak instansi menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan kinerja sumber daya manusia. Rendahnya kepedulian terhadap lingkungan kerja, lemahnya komitmen pegawai, serta kurangnya dukungan organisasi masih menjadi persoalan yang sering ditemukan. Di sisi lain, perubahan sosial dan perkembangan kebijakan keberlanjutan menuntut organisasi untuk beradaptasi dengan pendekatan manajemen yang lebih modern.
Penelitian yang dilakukan di Office X, sebuah instansi publik di Jawa Timur, mengkaji bagaimana praktik Green Human Resource Management (Green HRM), budaya organisasi, dan komitmen organisasi memengaruhi kinerja pegawai. Peneliti juga meneliti peran Perceived Organizational Support atau dukungan organisasi yang dirasakan pegawai sebagai variabel perantara.
Green HRM merupakan pendekatan pengelolaan sumber daya manusia yang memasukkan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan ke dalam berbagai aktivitas organisasi, seperti rekrutmen, pelatihan, penilaian kinerja, hingga sistem penghargaan.
Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif, seluruh pegawai Office X yang berjumlah 121 orang dilibatkan sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan bantuan perangkat lunak statistik SPSS 27.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga faktor utama yang diteliti—Green HRM, budaya organisasi, dan komitmen organisasi—secara signifikan meningkatkan persepsi dukungan organisasi sekaligus berdampak langsung terhadap kinerja pegawai.
Beberapa temuan penting dari penelitian tersebut antara lain:
- Green HRM berpengaruh positif terhadap dukungan organisasi dengan nilai statistik t sebesar 5,242.
- Budaya organisasi berpengaruh positif terhadap dukungan organisasi dengan nilai t sebesar 4,542.
- Komitmen organisasi meningkatkan persepsi dukungan organisasi dengan nilai t sebesar 3,308.
- Dukungan organisasi memiliki pengaruh kuat terhadap kinerja pegawai dengan nilai t sebesar 4,825.
- Secara simultan, Green HRM, budaya organisasi, dan komitmen organisasi mampu menjelaskan 64,8 persen variasi kinerja pegawai.
Penelitian ini juga menemukan bahwa dukungan organisasi berperan sebagai jembatan psikologis yang menghubungkan kebijakan organisasi dengan peningkatan kinerja.
Sebagai contoh, program Green HRM tidak otomatis menghasilkan peningkatan produktivitas jika pegawai tidak merasa didukung selama proses penerapannya. Pegawai yang memperoleh pelatihan lingkungan, penghargaan, serta perhatian terhadap kesejahteraan mereka cenderung menunjukkan kualitas kerja yang lebih baik.
Budaya organisasi juga terbukti semakin efektif ketika didukung oleh lingkungan kerja yang memberikan rasa aman, keadilan, dan penghargaan. Pegawai yang merasakan dukungan dari institusi lebih terdorong untuk menjalankan nilai-nilai organisasi dan mencapai target kerja.
Hal serupa terjadi pada komitmen organisasi. Pegawai yang memiliki loyalitas tinggi kepada organisasi akan menunjukkan kinerja optimal apabila organisasi juga memberikan dukungan yang nyata, baik dalam bentuk fasilitas kerja, bantuan atasan, maupun penghargaan terhadap kontribusi mereka.
Wahyu Windi Sangara Dewi dan tim peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menegaskan bahwa kebijakan organisasi, termasuk Green HRM dan budaya kerja, tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa adanya dukungan organisasi yang dirasakan secara langsung oleh pegawai.
Menurut para penulis, dukungan organisasi berfungsi sebagai "jembatan psikologis" yang mengubah kebijakan menjadi tindakan nyata dan menghasilkan kinerja berkualitas tinggi. Dengan kata lain, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem dan aturan, tetapi juga oleh sejauh mana pegawai merasa dihargai, dipedulikan, dan didukung.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi sektor publik maupun swasta. Organisasi disarankan untuk mulai mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan ke dalam sistem manajemen sumber daya manusia, seperti pelatihan ramah lingkungan dan penilaian kinerja berbasis keberlanjutan.
Selain itu, pimpinan organisasi perlu memperkuat budaya kerja yang terbuka, meningkatkan komunikasi internal, memberikan penghargaan secara adil, serta memastikan tersedianya fasilitas kerja yang memadai.
Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa investasi pada kesejahteraan pegawai dan penguatan budaya organisasi dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Di era transformasi organisasi yang semakin kompleks, kombinasi antara Green HRM, budaya organisasi yang sehat, komitmen pegawai, dan dukungan organisasi diperkirakan akan menjadi fondasi utama bagi terciptanya kinerja aparatur yang unggul dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Wahyu Windi Sangara Dewi, S.E. merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus kajian pada manajemen sumber daya manusia dan perilaku organisasi.
Prof. Dr. Siti Mujanah, S.E., M.M. adalah guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memiliki kepakaran di bidang manajemen strategis, manajemen sumber daya manusia, dan perilaku organisasi.
Dr. Made Suparta, S.E., M.M. merupakan akademisi dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan bidang keahlian manajemen organisasi dan pengembangan sumber daya manusia.
Sumber Penelitian
0 Komentar