Surabaya — Pergerakan harga Bitcoin ternyata memiliki pengaruh lebih besar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibanding kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). Temuan ini diungkap dalam studi terbaru oleh Muhammad Dzakwan Rafif dan Putra Perdana dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Studi ini penting karena menunjukkan bagaimana aset digital kini semakin memengaruhi pasar modal Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, investasi digital seperti Bitcoin berkembang sangat cepat dan menjadi alternatif utama selain saham. Investor Indonesia kini tidak hanya fokus pada IHSG, tetapi juga memperhatikan aset kripto yang menawarkan potensi keuntungan tinggi meskipun disertai risiko besar. Situasi ini menciptakan dinamika baru dalam pengambilan keputusan investasi.
Bitcoin dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi. Kenaikan harga yang tajam sering menarik investor untuk memindahkan dana dari pasar saham ke aset digital. Di sisi lain, kebijakan The Fed selama ini juga dianggap sebagai faktor penting yang memengaruhi arus modal global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Melalui analisis data bulanan dari Januari 2010 hingga Desember 2025, penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan besar: mana yang lebih dominan memengaruhi IHSG, Bitcoin atau The Fed? Tim peneliti menggunakan data sekunder dari Federal Reserve, TradingView, dan Investing.com, lalu mengolahnya dengan pendekatan Vector Error Correction Model (VECM) untuk melihat hubungan jangka pendek dan panjang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, harga Bitcoin memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap IHSG. Artinya, ketika harga Bitcoin naik, IHSG cenderung melemah. Hubungan ini menunjukkan adanya perpindahan minat investor dari saham domestik ke aset digital.
Muhammad Dzakwan Rafif dan Putra Perdana dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menjelaskan bahwa kenaikan Bitcoin sering dianggap sebagai sinyal peluang keuntungan cepat, sehingga investor lebih tertarik menempatkan modal pada aset kripto dibanding saham.
Sebaliknya, pengaruh suku bunga The Fed terhadap IHSG ditemukan negatif, tetapi tidak signifikan, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Ini menunjukkan bahwa meskipun kebijakan moneter Amerika tetap penting, dampaknya terhadap pasar saham Indonesia tidak sebesar Bitcoin secara langsung.
Penelitian ini juga menemukan adanya hubungan tidak langsung antara The Fed dan IHSG melalui Bitcoin. Saat The Fed menaikkan suku bunga, Bitcoin ikut terpengaruh, lalu perubahan pada Bitcoin berdampak pada IHSG. Pola ini menunjukkan bahwa aset digital kini menjadi saluran baru transmisi kebijakan ekonomi global.
Temuan menarik lain terlihat pada analisis FEVD, di mana kontribusi Bitcoin terhadap variasi IHSG terus meningkat dari 0,84 persen pada periode awal hingga mencapai 18,51 persen pada periode ke-24. Sementara kontribusi The Fed hanya berada di kisaran 1,30 persen pada periode yang sama. Ini memperkuat posisi Bitcoin sebagai faktor eksternal yang semakin dominan dalam membentuk arah pasar saham Indonesia.
Penelitian ini memberikan pesan penting bagi investor Indonesia. Pergerakan Bitcoin kini tidak bisa lagi dianggap terpisah dari pasar saham domestik. Investor perlu memantau perkembangan aset digital sebagai indikator sentimen pasar global sebelum mengambil keputusan investasi.
Bagi pemerintah dan regulator, hasil ini menjadi sinyal bahwa penguatan ekosistem investasi domestik sangat penting agar pasar saham Indonesia tetap kompetitif di tengah semakin besarnya daya tarik aset digital global.
Di tengah era digitalisasi keuangan, hubungan antara saham, kripto, dan kebijakan global menjadi semakin kompleks. Studi ini menegaskan bahwa masa depan investasi tidak lagi hanya ditentukan oleh kebijakan bank sentral, tetapi juga oleh dinamika aset digital seperti Bitcoin.
0 Komentar