Pekalongan — Kebiasaan begadang di kalangan mahasiswa ternyata tidak hanya memengaruhi konsentrasi dan daya ingat, tetapi juga berdampak pada kualitas sel darah merah. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Lailatul Ikromah dan Subur Wibowo dari Akademi Teknologi Laboratorium Medik Pekalongan. Studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) itu menunjukkan bahwa kurang tidur dapat memicu perubahan ringan pada morfologi eritrosit atau sel darah merah, meski jumlahnya masih dalam batas normal.
Fenomena begadang sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa, terutama karena tuntutan tugas akademik, ujian, hingga aktivitas organisasi. Dalam penelitian ini, begadang didefinisikan sebagai kebiasaan tetap terjaga melewati pukul 23.00 malam. Jika dilakukan berulang kali, pola ini dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, yaitu sistem biologis yang mengatur waktu tidur, hormon, hingga regenerasi sel.
Lailatul Ikromah dan tim menyoroti bahwa tidur berkualitas memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan tubuh, termasuk kesehatan darah. Saat tubuh kekurangan tidur, stres oksidatif meningkat dan proses pembentukan eritrosit di sumsum tulang bisa terganggu. Akibatnya, bentuk dan kualitas sel darah merah dapat berubah.
Penelitian dilakukan terhadap 30 mahasiswa aktif Akademi Teknologi Laboratorium Medik Pekalongan yang memiliki kebiasaan begadang. Pengamatan berlangsung selama Desember 2025 hingga April 2026 dengan pemeriksaan apusan darah tepi menggunakan pewarnaan Wright. Sampel darah kemudian diamati melalui mikroskop untuk melihat bentuk, ukuran, warna, dan perkiraan jumlah eritrosit.
Hasilnya menunjukkan sebagian besar mahasiswa memiliki durasi tidur hanya sekitar 2 hingga 8 jam per hari, dengan frekuensi begadang rata-rata tiga sampai empat kali dalam seminggu. Dari pemeriksaan laboratorium, jumlah eritrosit sebagian besar masih berada dalam kisaran normal. Sebanyak 66,7 persen responden memiliki estimasi jumlah eritrosit antara 250–300 sel per lapang pandang mikroskop. Ini menunjukkan bahwa begadang jangka pendek belum memberikan dampak besar pada jumlah sel darah merah.
Namun, perubahan mulai terlihat pada bentuk sel darah merah. Sebanyak 53,3 persen responden menunjukkan eritrosit normositik hipokromik, yaitu sel darah merah dengan ukuran normal tetapi warna lebih pucat, yang mengindikasikan kemungkinan penurunan kadar hemoglobin. Selain itu, 66,7 persen mahasiswa mengalami poikilositosis ringan, yaitu variasi bentuk eritrosit yang tidak normal.
Bentuk sel darah merah abnormal yang paling sering ditemukan adalah echinocyte, elliptocyte, ovalocyte, dan dacrocyte. Echinocyte menjadi jenis yang paling dominan. Menurut Ikromah, perubahan bentuk ini bisa menjadi tanda awal adanya stres oksidatif akibat kurang tidur, yang memengaruhi fleksibilitas membran eritrosit.
“Temuan ini menunjukkan bahwa begadang lebih cepat memengaruhi kualitas eritrosit dibanding kuantitasnya,” tulis Ikromah dan Subur Wibowo dalam laporan penelitian tersebut.
Secara fisiologis, eritrosit memiliki usia hidup sekitar 120 hari. Karena itu, perubahan jumlahnya memang tidak mudah terjadi hanya dalam waktu singkat. Tetapi kualitas eritrosit, terutama bentuk dan kestabilan membran, lebih rentan terganggu oleh kondisi stres, termasuk kurang tidur.
Temuan ini menjadi penting karena mahasiswa sering menganggap begadang sebagai kebiasaan biasa. Padahal, dampaknya bisa lebih luas dari sekadar rasa lelah. Perubahan pada eritrosit dapat memengaruhi efisiensi pengangkutan oksigen dalam tubuh. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi menurunkan stamina, konsentrasi, hingga kesehatan secara umum.
Bagi dunia kesehatan, hasil penelitian ini bisa menjadi pengingat bahwa kualitas tidur adalah bagian penting dari gaya hidup sehat. Dalam konteks pendidikan, kampus juga perlu memberi perhatian pada pola aktivitas mahasiswa agar tidak mendorong budaya begadang berlebihan.
Penelitian ini juga membuka peluang studi lanjutan untuk mengukur dampak begadang jangka panjang terhadap hemoglobin, hematokrit, dan biomarker stres oksidatif. Dengan sampel yang lebih besar, pemahaman tentang hubungan antara tidur dan kesehatan darah diharapkan menjadi lebih komprehensif.
Temuan dari Pekalongan ini mempertegas bahwa tidur bukan sekadar waktu istirahat, tetapi proses biologis penting yang menjaga kualitas sel dan fungsi tubuh. Bagi mahasiswa, menjaga pola tidur bisa menjadi investasi kesehatan jangka panjang.
0 Komentar