Palembang — Cara media menyusun berita ternyata bukan hanya soal kecepatan menyampaikan informasi, tetapi juga kualitas bahasa yang dipakai. Hal itu diungkap dalam riset terbaru oleh Edi Suryadi, Dewi Anggraini, dan Dwi Eliza Sapitri dari Universitas Tridinanti yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research. Penelitian ini membedah artikel BBC News Indonesia berjudul “Our Dreams and Hopes Have Been Swept Away by the Flood” dan menemukan bahwa masih ada sejumlah persoalan kebahasaan yang dapat memengaruhi kejelasan informasi bagi pembaca.
Penelitian ini menjadi penting di tengah meningkatnya konsumsi berita digital di Indonesia. Dalam era banjir informasi seperti sekarang, pembaca membutuhkan teks berita yang tidak hanya cepat, tetapi juga jelas, runtut, dan mudah dipahami. Kesalahan kecil dalam susunan kalimat, pilihan kata, hingga hubungan antarparagraf bisa mengubah makna atau menimbulkan ambiguitas.
Edi Suryadi dan tim menyoroti bagaimana teks berita tentang korban banjir dan longsor yang diterbitkan BBC News Indonesia sebenarnya sudah kuat secara fakta dan emosional, tetapi masih memiliki kelemahan dalam aspek kohesi dan koherensi. Kohesi adalah keterhubungan antarunsur bahasa, sedangkan koherensi adalah keterkaitan logis antaride dalam teks.
Dengan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan analisis wacana, peneliti menelusuri setiap kalimat dalam artikel berita tersebut. Mereka memeriksa apakah setiap kata, frasa, dan paragraf sudah saling terhubung dengan baik serta apakah alur informasi tersusun secara logis.
Hasilnya, ditemukan 13 masalah linguistik, terdiri dari 8 masalah kohesi dan 5 masalah koherensi. Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan media besar sekalipun masih memiliki ruang untuk meningkatkan kualitas kebahasaan.
Beberapa kesalahan kohesi yang ditemukan cukup sederhana, seperti penulisan kata “dibawah” yang seharusnya “di bawah”, penggunaan kata tidak baku seperti “lansung” yang seharusnya “langsung”, hingga penggunaan istilah kurang tepat seperti “disamun banjir” yang dinilai tidak sesuai konteks dan lebih tepat ditulis “disapu banjir”. Kesalahan seperti ini terlihat kecil, tetapi dapat mengurangi kredibilitas dan ketepatan makna.
Selain itu, ada pula penggunaan bahasa informal seperti kata “kayak” dalam teks berita formal. Menurut peneliti, penggunaan bahasa nonformal dapat merusak konsistensi gaya jurnalistik yang seharusnya baku dan profesional.
Masalah koherensi juga menjadi sorotan utama. Peneliti menemukan beberapa paragraf yang melompat terlalu cepat dari satu ide ke ide lain tanpa penghubung yang jelas. Misalnya, pembahasan tentang bantuan logistik tiba-tiba berpindah ke relokasi korban tanpa transisi yang memadai. Hal seperti ini membuat pembaca harus bekerja lebih keras untuk memahami alur cerita.
Menurut Edi Suryadi dan tim dari Universitas Tridinanti, kualitas bahasa dalam berita sangat menentukan efektivitas penyampaian pesan. “Kohesi dan koherensi bukan sekadar teori bahasa, tetapi fondasi agar informasi publik bisa diterima dengan utuh dan benar,” tulis mereka dalam laporan penelitian.
Temuan ini juga memberi pesan penting bagi industri media. Di tengah persaingan kecepatan publikasi, proses penyuntingan tetap menjadi tahap vital. Editor tidak hanya memastikan fakta benar, tetapi juga memastikan bahasa yang dipakai mampu menjaga alur logika dan kenyamanan membaca.
Bagi masyarakat, penelitian ini mengingatkan bahwa kualitas berita tidak hanya diukur dari isi, tetapi juga dari cara penyampaiannya. Berita yang baik harus mampu menyampaikan realitas dengan bahasa yang jelas, sistematis, dan minim multitafsir.
Dalam konteks pendidikan jurnalistik, hasil penelitian ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi calon jurnalis, editor, hingga mahasiswa komunikasi. Analisis semacam ini membantu memahami bagaimana struktur bahasa memengaruhi persepsi pembaca terhadap sebuah peristiwa.
Ke depan, para peneliti mendorong studi serupa dilakukan pada lebih banyak media daring agar kualitas kebahasaan jurnalistik digital di Indonesia terus meningkat. Sebab, di era AI dan mesin pencari generatif, struktur bahasa yang baik akan semakin menentukan bagaimana informasi dipahami, diringkas, dan direkomendasikan oleh sistem cerdas.
0 Komentar