Pemasangan infus merupakan salah satu tindakan medis yang paling sering dilakukan pada anak yang menjalani perawatan di rumah sakit. Meski umum dilakukan, prosedur ini kerap menimbulkan rasa sakit, ketakutan, dan kecemasan, terutama pada anak usia 3–6 tahun yang belum memiliki kemampuan optimal untuk mengelola rasa nyeri dan emosi.
Kondisi tersebut tidak hanya membuat anak merasa tidak nyaman, tetapi juga dapat menghambat proses tindakan medis. Anak yang menangis, menolak, atau memberontak saat pemasangan infus sering kali membuat prosedur menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.
Melihat kondisi tersebut, tim peneliti dari Universitas Widya Husada Semarang menguji efektivitas terapi distraksi audiovisual berupa video kartun untuk mengalihkan perhatian anak dari rasa sakit yang muncul saat pemasangan infus.
Melibatkan 60 Anak Usia Prasekolah
Penelitian menggunakan desain eksperimen dua kelompok yang melibatkan 60 anak usia prasekolah yang menjalani rawat inap di RSUD Kajen. Seluruh peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan jumlah yang sama.
Kelompok pertama mendapatkan terapi distraksi berupa tayangan video kartun selama 2–4 menit sebelum dan saat pemasangan infus berlangsung. Sementara kelompok kedua hanya mendapatkan perawatan standar tanpa terapi distraksi.
Untuk mengukur tingkat nyeri, peneliti menggunakan skala FLACC (Face, Legs, Activity, Cry, Consolability), salah satu instrumen yang banyak digunakan untuk menilai nyeri pada anak yang belum mampu mengungkapkan rasa sakit secara verbal dengan baik.
Mayoritas responden dalam penelitian ini berusia lima tahun. Dari total peserta, 53,3 persen merupakan anak perempuan dan 46,7 persen anak laki-laki.
Nyeri Lebih Rendah pada Anak yang Menonton Kartun
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang jelas antara kedua kelompok.
Pada kelompok yang mendapatkan terapi video kartun:
- 43,3 persen anak mengalami nyeri ringan.
- 56,7 persen mengalami nyeri sedang.
- Tidak ada anak yang mengalami nyeri berat.
Sementara pada kelompok tanpa terapi distraksi:
- Hanya 20 persen anak mengalami nyeri ringan.
- Sebanyak 80 persen mengalami nyeri sedang.
- Tidak ditemukan nyeri berat, tetapi tingkat ketidaknyamanan lebih tinggi dibanding kelompok intervensi.
Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p = 0,003, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Dengan kata lain, terapi distraksi video kartun terbukti efektif menurunkan tingkat nyeri pada anak usia prasekolah saat pemasangan infus.
Menurut Rahayu Winarti dan tim peneliti, tayangan kartun mampu mengalihkan fokus anak dari rangsangan nyeri menuju pengalaman yang lebih menyenangkan. Ketika perhatian anak terpusat pada gambar dan suara yang menarik, persepsi terhadap rasa sakit menjadi berkurang.
Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kerja Sama Anak
Selain menurunkan tingkat nyeri, terapi video kartun juga memberikan manfaat psikologis bagi anak.
Anak yang teralihkan perhatiannya cenderung lebih tenang selama prosedur berlangsung. Kondisi ini membantu mengurangi respons stres seperti menangis, menegang, atau berusaha menghindari tindakan medis.
Peneliti menjelaskan bahwa suasana yang lebih nyaman membuat anak menjadi lebih kooperatif saat pemasangan infus dilakukan. Hal ini tidak hanya menguntungkan pasien, tetapi juga membantu tenaga kesehatan menjalankan prosedur dengan lebih cepat dan efektif.
Temuan tersebut sejalan dengan konsep atraumatic care, yaitu pendekatan pelayanan kesehatan anak yang berupaya meminimalkan rasa sakit, stres, dan trauma selama perawatan di rumah sakit.
Berpotensi Menjadi Standar Pelayanan Keperawatan Anak
Salah satu keunggulan terapi distraksi video kartun adalah kemudahannya untuk diterapkan. Rumah sakit tidak memerlukan peralatan khusus yang mahal karena tayangan dapat diputar melalui telepon pintar, tablet, atau layar televisi yang sudah tersedia.
Selain murah dan praktis, metode ini juga tidak menimbulkan efek samping karena tidak menggunakan obat-obatan tambahan.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti merekomendasikan agar rumah sakit mempertimbangkan penggunaan terapi video kartun sebagai bagian dari prosedur standar keperawatan anak, terutama saat tindakan invasif seperti pemasangan infus.
Orang tua juga dapat berperan aktif dengan membantu anak memilih tayangan yang disukai sebelum menjalani tindakan medis. Dukungan emosional dari keluarga, dikombinasikan dengan terapi distraksi, diyakini mampu memberikan hasil yang lebih optimal dalam mengurangi rasa sakit dan kecemasan anak.
Temuan ini menunjukkan bahwa solusi sederhana seperti menonton kartun dapat memberikan dampak nyata terhadap pengalaman perawatan anak di rumah sakit. Pendekatan yang ramah anak tidak hanya meningkatkan kenyamanan pasien, tetapi juga mendukung keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Profil Penulis
Rahayu Winarti merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Widya Husada Semarang yang berfokus pada bidang keperawatan anak, manajemen nyeri, dan intervensi keperawatan berbasis bukti.
Kamelia Milatin merupakan dosen dan peneliti di Universitas Widya Husada Semarang dengan bidang keahlian keperawatan klinis, kesehatan anak, serta pengembangan metode pelayanan keperawatan yang berorientasi pada kenyamanan pasien.
Sumber Penelitian
Judul: The Effect of Cartoon Video Distraction Therapy on Pain Levels in Preschool Children During IV Insertion at Kajen Regional General Hospital, Pekalongan Regency
Penulis: Rahayu Winarti, Kamelia Milatin
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Volume dan Nomor: Vol. 5 No. 5
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.72
Penerbit: Formosa Publisher
0 Komentar