Penelitian tersebut menyoroti kondisi ASN di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Pontianak. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres kerja yang dialami pegawai, semakin rendah kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku sukarela yang mendukung organisasi. Sebaliknya, semakin baik keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, semakin tinggi pula perilaku positif tersebut.
Temuan ini dinilai penting karena OCB merupakan salah satu faktor yang membantu organisasi berjalan lebih efektif. OCB mencakup perilaku seperti membantu rekan kerja tanpa diminta, menjaga hubungan kerja yang harmonis, berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi, serta menunjukkan kepedulian terhadap kemajuan instansi meskipun tidak tercantum dalam tugas formal pegawai.
Beban Kerja Tinggi Memicu Stres ASN
Latar belakang penelitian berangkat dari kondisi pelayanan publik di Disdukcapil Kota Pontianak yang menghadapi keterbatasan sumber daya manusia. Divisi Pelayanan Pendaftaran Penduduk mengalami kekurangan sekitar 10 pegawai sehingga sebagian ASN harus menangani pekerjaan lintas bidang dan memenuhi target pelayanan harian yang cukup tinggi.
Situasi tersebut menyebabkan sebagian pegawai harus bekerja melebihi jam kerja normal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan kerja sekaligus mengganggu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Meski data kinerja pegawai menunjukkan hasil yang baik dan tingkat kepuasan masyarakat terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, masih ditemukan sejumlah tantangan terkait waktu pelayanan, kualitas interaksi pegawai dengan masyarakat, serta konsistensi penyelesaian layanan. Faktor-faktor tersebut diduga berkaitan dengan tingkat stres kerja yang dialami pegawai.
Melibatkan Seluruh ASN sebagai Responden
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan wawancara. Sebanyak 49 ASN di Disdukcapil Kota Pontianak dilibatkan sebagai responden, sehingga seluruh populasi pegawai menjadi sampel penelitian.
Peneliti mengukur tiga variabel utama, yaitu:
- Stres kerja, meliputi konflik peran, beban kerja, dan ketidakjelasan peran.
- Work-life balance, meliputi keseimbangan waktu, keterlibatan, dan kepuasan antara pekerjaan serta kehidupan pribadi.
- Organizational Citizenship Behavior (OCB), meliputi sikap membantu rekan kerja, kedisiplinan, sportivitas, kepedulian terhadap organisasi, dan kesopanan dalam bekerja.
Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antarvariabel.
Hubungan Sangat Kuat
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat antara stres kerja, work-life balance, dan OCB.
Nilai koefisien korelasi (R) mencapai 0,841, yang menunjukkan hubungan berada pada kategori sangat kuat. Sementara itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,708 menunjukkan bahwa 70,8 persen variasi perilaku OCB pegawai dapat dijelaskan oleh dua faktor utama, yaitu stres kerja dan work-life balance.
Sisanya, sekitar 29,2 persen, dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian, seperti kepuasan kerja, budaya organisasi, gaya kepemimpinan, maupun komitmen organisasi.
Persamaan regresi yang diperoleh peneliti adalah:
Y = 2,281 – 0,461X1 + 0,804X2
Hasil tersebut menunjukkan bahwa setiap peningkatan stres kerja akan menurunkan tingkat OCB pegawai. Sebaliknya, peningkatan work-life balance akan meningkatkan OCB secara signifikan.
Stres Kerja Menurunkan Perilaku Positif Pegawai
Analisis statistik memperlihatkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap OCB.
Dengan kata lain, pegawai yang mengalami tekanan kerja tinggi cenderung lebih sulit menunjukkan perilaku sukarela yang mendukung organisasi. Mereka menjadi kurang terdorong membantu rekan kerja, berpartisipasi dalam kegiatan organisasi, maupun memberikan kontribusi tambahan di luar tugas pokok.
Menurut Aprillia Lingga Sanjaya dan Devi Yasmin, kondisi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan beban kerja dan tekanan psikologis di lingkungan pemerintahan.
“Semakin tinggi stres kerja, semakin rendah kecenderungan pegawai menampilkan Organizational Citizenship Behavior,” tulis penulis dalam pembahasan hasil penelitian.
Work-Life Balance Tingkatkan Kinerja Sosial Organisasi
Sebaliknya, work-life balance terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap OCB.
Pegawai yang mampu menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi cenderung lebih produktif, lebih kooperatif, dan lebih bersedia memberikan kontribusi tambahan bagi organisasi.
Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa keseimbangan kehidupan kerja berkontribusi terhadap peningkatan keterlibatan pegawai, kepuasan kerja, serta perilaku organisasi yang positif.
Dalam konteks pelayanan publik, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat karena pegawai memiliki kondisi psikologis yang lebih baik dan lebih termotivasi dalam bekerja.
Implikasi bagi Instansi Pemerintah
Hasil penelitian memberikan pesan penting bagi instansi pemerintah, khususnya organisasi yang menghadapi tekanan pelayanan publik tinggi.
Pengelolaan stres kerja tidak hanya berkaitan dengan kesehatan pegawai, tetapi juga berdampak langsung pada perilaku kerja yang mendukung efektivitas organisasi. Sementara itu, kebijakan yang mendorong work-life balance dapat menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Peneliti menyarankan agar instansi pemerintah memperhatikan distribusi beban kerja, kebutuhan jumlah pegawai, fleksibilitas kerja yang memungkinkan, serta program dukungan kesejahteraan pegawai.
Langkah-langkah tersebut berpotensi meningkatkan OCB, memperkuat budaya kerja kolaboratif, dan mendukung pencapaian target pelayanan publik yang lebih baik.
Profil Penulis
Aprillia Lingga Sanjaya merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak dengan fokus kajian pada manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan pengelolaan kinerja pegawai.
Devi Yasmin adalah dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak. Bidang keahliannya meliputi manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, serta pengembangan organisasi sektor publik dan swasta.
Sumber Penelitian
Sanjaya, Aprillia Lingga & Yasmin, Devi. (2026). “The Influence of Work Stress and Work-Life Balance on Organizational Citizenship Behavior of Civil Servants at the Department of Population and Civil Registration of Pontianak.”
Dipublikasikan dalam Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Volume 5 Nomor 2, 2026, halaman 655–668.
0 Komentar