Strategi Kesejahteraan Karyawan Tingkatkan Kinerja Organisasi di Era Kerja Fleksibel
Kesejahteraan karyawan menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas perusahaan di era kerja hybrid dan remote. Penelitian terbaru dari Universitas Subang menunjukkan bahwa organisasi yang menerapkan kebijakan kerja fleksibel, dukungan kesehatan mental, dan keseimbangan kerja-hidup mampu meningkatkan performa organisasi secara signifikan.
Riset tersebut dilakukan oleh Silvy Sondari Gadzali dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang dan dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Economic & Management Sciences. Penelitian ini mengkaji hubungan antara strategi organisasi, kesejahteraan karyawan, dan kinerja organisasi dalam sistem kerja fleksibel yang semakin berkembang pascapandemi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi yang fokus pada work-life balance, dukungan manajerial, dan kesehatan mental memiliki tingkat kesejahteraan karyawan yang lebih baik. Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung pada peningkatan produktivitas, efektivitas kerja, dan kualitas hasil kerja organisasi.
Perubahan Dunia Kerja Pasca Pandemi
Sistem kerja fleksibel seperti hybrid working dan remote working kini menjadi bagian dari budaya kerja modern. Banyak perusahaan di Indonesia, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jawa Barat, mulai mengadopsi pola kerja yang memberi kebebasan waktu dan lokasi kepada karyawan.
Namun, fleksibilitas kerja tidak selalu menghasilkan dampak positif apabila tidak dibarengi strategi organisasi yang tepat. Dalam praktiknya, sebagian pekerja justru menghadapi tekanan kerja digital, kelelahan mental, hingga batas yang semakin kabur antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Penelitian Silvy Sondari Gadzali menegaskan bahwa kesejahteraan karyawan kini bukan lagi sekadar isu sumber daya manusia, melainkan bagian penting dari strategi bisnis dan keberlanjutan organisasi.
“Employee wellbeing berperan sebagai mekanisme strategis yang menghubungkan kebijakan organisasi dengan peningkatan kinerja organisasi,” tulis Silvy Sondari Gadzali dalam publikasinya.
Survei terhadap Pekerja Fleksibel di Jawa Barat
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 100 karyawan di Jawa Barat yang bekerja dengan sistem fleksibel. Responden dipilih berdasarkan beberapa kriteria, antara lain:
- Karyawan aktif
- Memiliki masa kerja minimal enam bulan
- Pernah menjalani sistem kerja hybrid, remote, atau jam kerja fleksibel
Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis dengan metode regresi linear berganda untuk melihat hubungan antara strategi organisasi, kesejahteraan karyawan, dan kinerja organisasi.
Mayoritas responden berasal dari sektor jasa, administrasi, dan perusahaan swasta yang telah menerapkan sistem kerja fleksibel. Sebagian besar responden bekerja dengan pola hybrid, yaitu kombinasi kerja dari kantor dan kerja jarak jauh.
Temuan Utama Penelitian
Penelitian menemukan hubungan yang kuat antara kesejahteraan karyawan dan performa organisasi.
Hasil penting penelitian:
- Kesejahteraan karyawan berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi
- Strategi organisasi meningkatkan employee wellbeing secara signifikan
- Sistem kerja fleksibel berdampak positif terhadap kesejahteraan pekerja
- Employee wellbeing menjadi mediator antara strategi organisasi dan kinerja organisasi
Dalam hasil analisis statistik, strategi organisasi memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan karyawan dengan nilai koefisien sebesar 0,706. Sementara itu, employee wellbeing menjelaskan sekitar 40,5 persen variasi kinerja organisasi.
Karyawan yang menjadi responden juga memberikan penilaian tinggi terhadap beberapa aspek berikut:
- Keseimbangan kehidupan kerja
- Kepuasan kerja
- Dukungan manajerial
- Fleksibilitas kerja
- Kesehatan psikologis
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sistem kerja hybrid memberikan dampak lebih positif dibanding pola kerja yang sepenuhnya remote. Hal tersebut terjadi karena pekerja hybrid masih memiliki akses terhadap dukungan sosial dan interaksi organisasi sambil tetap menikmati fleksibilitas kerja.
Fleksibilitas Kerja Harus Didukung Strategi Organisasi
Penelitian menekankan bahwa fleksibilitas kerja saja tidak cukup untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Organisasi tetap membutuhkan kebijakan dan dukungan manajemen yang kuat agar sistem kerja fleksibel berjalan efektif.
Perusahaan dengan dukungan organisasi yang lemah berisiko mengalami burnout, penurunan motivasi, hingga turunnya performa kerja meskipun telah menerapkan sistem kerja fleksibel.
Karena itu, penelitian merekomendasikan beberapa strategi penting, antara lain:
- Dukungan aktif dari pimpinan dan manajer
- Program kesehatan mental karyawan
- Kebijakan work-life balance yang jelas
- Komunikasi kerja yang sehat
- Pengelolaan beban kerja yang realistis
Menurut Silvy Sondari Gadzali, organisasi perlu memandang kesejahteraan karyawan sebagai investasi strategis, bukan sekadar program tambahan perusahaan.
Dampak bagi Dunia Usaha dan Kebijakan Publik
Temuan penelitian ini memiliki implikasi besar bagi dunia usaha, praktisi SDM, hingga pembuat kebijakan publik.
Bagi perusahaan, hasil riset menunjukkan bahwa investasi pada kesejahteraan karyawan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing organisasi secara nyata.
Bagi praktisi human resource, penelitian ini memperkuat pentingnya integrasi program wellbeing ke dalam strategi organisasi jangka panjang, terutama di era digital dan kerja fleksibel.
Sementara itu, bagi pemerintah dan pembuat kebijakan ketenagakerjaan, penelitian ini menunjukkan perlunya regulasi dan pedoman kerja fleksibel yang memperhatikan kesehatan mental dan keseimbangan kehidupan kerja pekerja.
Penelitian juga relevan bagi dunia pendidikan dan pengembangan kepemimpinan karena menunjukkan bahwa kemampuan mengelola tenaga kerja hybrid akan menjadi kompetensi penting di masa depan.
Keterbatasan Penelitian
Meski seluruh hipotesis penelitian terbukti signifikan, studi ini memiliki beberapa keterbatasan.
Penelitian hanya melibatkan 100 responden di wilayah Jawa Barat dan menggunakan pendekatan survei pada satu periode waktu tertentu. Penulis merekomendasikan penelitian lanjutan dengan jumlah responden lebih besar, wilayah yang lebih luas, serta pendekatan longitudinal untuk memahami dampak jangka panjang sistem kerja fleksibel.
Penelitian berikutnya juga disarankan menambahkan variabel lain seperti budaya organisasi, gaya kepemimpinan, konflik pekerjaan-keluarga, dan dukungan atasan.
Profil Penulis
Silvy Sondari Gadzali merupakan akademisi dan peneliti dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang. Bidang keahliannya meliputi manajemen sumber daya manusia, kesejahteraan karyawan, transformasi organisasi, dan dinamika kerja fleksibel di era digital.

0 Komentar