Strategi Manajemen Persediaan Pupuk Berbasis Tingkat Layanan di Wilayah Pertanian Sulawesi Selatan


Strategi Persediaan Pupuk di Sulawesi Selatan Dinilai Perlu Sistem Adaptif Berbasis Data
Distribusi pupuk di Sulawesi Selatan menghadapi tantangan besar akibat fluktuasi permintaan dan ketidakpastian waktu pengiriman. Penelitian terbaru dari tim akademisi Universitas Negeri Makassar dan Institut Teknologi Kalimantan menunjukkan bahwa pendekatan pengelolaan stok berbasis rata-rata sudah tidak lagi cukup untuk menjaga stabilitas distribusi pupuk di wilayah pertanian strategis. Penelitian berjudul Service Level-Based Fertilizer Inventory Management Strategy in South Sulawesi Agricultural Region diterbitkan dalam jurnal ilmiah International Journal of Integrative Research (IJIR) tahun 2026. Studi ini ditulis oleh Ashar Pramono, Fahri Anwar, Achmad Romadin, Tito Bisma May Willis, dan Irin Ramdhani. Fokus utama penelitian adalah merancang strategi persediaan pupuk yang lebih adaptif menggunakan metode Safety Stock (SS), Reorder Point (ROP), dan klasifikasi ABC. Penelitian dilakukan pada 24 gudang distribusi pupuk di Sulawesi Selatan selama periode Oktober 2024 hingga September 2025. Data yang dianalisis mencakup volume penjualan pupuk, variasi permintaan, serta waktu distribusi antarwilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa gudang utama memiliki tingkat risiko kekurangan stok jauh lebih tinggi dibanding wilayah lainnya.

Gudang dengan permintaan tertinggi ditemukan di GD Takalar, GD PKT Bone, dan GD PKT Jeneponto. Ketiga gudang ini dikategorikan sebagai gudang prioritas utama karena menyumbang volume distribusi terbesar di Sulawesi Selatan. Tingginya aktivitas distribusi membuat gudang-gudang tersebut membutuhkan cadangan stok yang jauh lebih besar agar tidak mengalami kekosongan pupuk saat musim tanam berlangsung. Menurut peneliti, kondisi geografis Sulawesi menjadi salah satu faktor utama yang memperumit distribusi logistik. Wilayah kepulauan, jalur distribusi laut, serta kondisi cuaca ekstrem sering menyebabkan keterlambatan pengiriman. Situasi ini membuat perencanaan stok harus mempertimbangkan ketidakpastian waktu distribusi atau lead time. Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan statistik untuk menghitung Safety Stock atau stok pengaman. Metode ini digunakan untuk menentukan jumlah cadangan pupuk minimum agar distribusi tetap berjalan meski terjadi lonjakan permintaan atau keterlambatan pengiriman. Selain itu, metode Reorder Point digunakan untuk menentukan kapan gudang harus kembali melakukan pemesanan pupuk sebelum stok benar-benar habis. Pendekatan ini membantu distributor mengurangi risiko kekurangan pasokan saat musim pertanian mencapai puncaknya.

Penelitian juga menerapkan klasifikasi ABC untuk membedakan prioritas pengelolaan gudang. Kategori A terdiri dari gudang dengan kontribusi distribusi tertinggi sehingga membutuhkan pengawasan ketat dan tingkat pelayanan distribusi hingga 99 persen. Kategori B mendapatkan pengawasan menengah, sedangkan kategori C cukup menggunakan kontrol dasar dengan tingkat pelayanan sekitar 95 persen. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa GD Takalar membutuhkan Safety Stock tertinggi, mencapai sekitar 2.813 unit pada skenario layanan 99 persen. Sementara GD PKT Bone memerlukan sekitar 2.624 unit cadangan stok. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding gudang kecil seperti GD GPP Pare-Pare dan GD Toraja Utara II yang hanya membutuhkan stok pengaman di bawah 300 unit. Peneliti menjelaskan bahwa semakin tinggi target layanan distribusi, maka semakin besar pula biaya penyimpanan yang harus disiapkan perusahaan. Namun di sisi lain, tingkat layanan tinggi mampu mengurangi risiko kekurangan pupuk yang dapat mengganggu jadwal tanam petani. “Gudang dengan permintaan tinggi memerlukan perlindungan stok lebih besar karena memiliki risiko operasional paling tinggi,” tulis tim peneliti dalam laporannya. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya penggunaan teknologi sederhana seperti Microsoft Excel dalam pengelolaan persediaan. Dengan sistem digital, perhitungan Safety Stock dan Reorder Point dapat diperbarui secara real time sesuai kondisi distribusi di lapangan. Menurut Fahri Anwar dan timnya, pendekatan berbasis data menjadi penting karena pola permintaan pupuk di Sulawesi Selatan sangat dipengaruhi musim tanam, kondisi cuaca, hingga dinamika distribusi subsidi pupuk nasional. Oleh karena itu, strategi persediaan tidak bisa dibuat seragam untuk semua gudang.

Dampak penelitian ini dinilai cukup luas, terutama bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan. Distribusi pupuk yang lebih stabil dapat membantu petani menjaga jadwal tanam dan mengurangi risiko gagal panen akibat keterlambatan pasokan. Bagi perusahaan logistik dan distributor pupuk, strategi ini juga berpotensi meningkatkan efisiensi biaya operasional. Perusahaan dapat mengalokasikan stok secara lebih tepat berdasarkan tingkat risiko masing-masing gudang, bukan sekadar berdasarkan rata-rata permintaan tahunan. Penelitian ini sekaligus memberikan masukan bagi pemerintah daerah dan pengelola distribusi pupuk nasional agar menerapkan kebijakan distribusi yang lebih fleksibel dan berbasis data regional. Gudang dengan tingkat distribusi tinggi perlu mendapatkan prioritas pengawasan dan dukungan logistik lebih besar dibanding wilayah dengan permintaan rendah. Meski demikian, peneliti mengakui penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Data yang digunakan hanya mencakup satu tahun operasional sehingga belum sepenuhnya menggambarkan perubahan jangka panjang. Selain itu, analisis masih menggunakan perangkat sederhana sehingga belum memanfaatkan pendekatan kecerdasan buatan atau machine learning. Ke depan, tim peneliti merekomendasikan penggunaan data real time dan model dinamis untuk meningkatkan akurasi prediksi distribusi pupuk. Pendekatan berbasis kecerdasan buatan dinilai dapat membantu memperkirakan lonjakan permintaan dan potensi gangguan logistik secara lebih cepat.

Profil Penulis

Ashar Pramono merupakan akademisi dan peneliti di bidang manajemen logistik dan rantai pasok. Penelitian ini dilakukan bersama Fahri Anwar, Achmad Romadin, dan Irin Ramdhani dari Universitas Negeri Makassar, serta Tito Bisma May Willis dari Institut Teknologi Kalimantan. Tim peneliti memiliki fokus kajian pada manajemen persediaan, distribusi logistik, dan efisiensi rantai pasok regional.

Sumber Penelitian

Judul: Service Level-Based Fertilizer Inventory Management Strategy in South Sulawesi Agricultural Region
Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)
Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026

Posting Komentar

0 Komentar