Kemampuan konsentrasi anak usia dini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan. Penelitian terbaru yang dilakukan Sri Ayu Laali bersama Sri Rindiani H. Saudo, Sri Melani A. Djamir, dan Sri Junita dari Universitas Muhammadiyah Luwuk menunjukkan bahwa strategi belajar sambil bermain mampu membantu anak-anak taman kanak-kanak lebih fokus saat belajar. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) tahun 2026. Penelitian dilakukan di TK At-Thayibah untuk melihat bagaimana guru menghadapi masalah konsentrasi belajar pada anak usia dini. Hasilnya menunjukkan banyak anak masih mudah terdistraksi saat proses belajar berlangsung. Anak sering kehilangan fokus karena berbicara dengan teman, bermain sendiri di kelas, atau lebih tertarik pada aktivitas lain di sekitarnya. Kondisi ini membuat mereka sulit memahami penjelasan guru dan menyelesaikan tugas dengan baik. Menurut Sri Ayu Laali dan tim peneliti, kondisi tersebut merupakan karakteristik alami anak usia dini. Anak-anak pada usia taman kanak-kanak cenderung aktif bergerak, cepat bosan, dan memiliki rentang perhatian yang pendek. Karena itu, metode pembelajaran yang monoton dinilai kurang efektif diterapkan pada siswa TK. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak tetap tertarik mengikuti pelajaran.
-kegiatan bernyanyi bersama,
Pendekatan belajar sambil bermain menjadi metode yang paling efektif karena sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Anak-anak terlihat lebih aktif, antusias, dan mampu mempertahankan perhatian lebih lama selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya aktivitas sensorimotor dalam meningkatkan konsentrasi belajar. Aktivitas sensorimotor melibatkan koordinasi antara gerakan tubuh dan pancaindra, seperti melihat, mendengar, menyentuh, dan bergerak secara aktif. Menurut peneliti, metode ini membantu anak belajar tanpa merasa sedang dipaksa menerima materi pelajaran. Anak menjadi lebih nyaman dan fokus karena proses belajar dikemas seperti permainan menyenangkan. Selain itu, permainan peran dinilai efektif melatih kemampuan anak dalam mengatur perhatian dan mengendalikan diri. Saat anak terlibat dalam role-playing, mereka belajar mengikuti aturan, memahami instruksi, dan menyelesaikan tugas sesuai alur permainan. Aktivitas ini secara tidak langsung membantu meningkatkan kemampuan konsentrasi dan keterampilan sosial anak.
Sri Ayu Laali dan tim peneliti menjelaskan bahwa keberhasilan belajar anak usia dini sangat dipengaruhi oleh kreativitas guru dalam memilih strategi pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar aktif dan menyenangkan. Ketika metode belajar dibuat menarik, anak lebih mudah memahami materi dan tidak cepat kehilangan fokus. Penelitian ini menjadi penting karena masalah konsentrasi pada anak usia dini sering kali dianggap sepele. Padahal, kemampuan fokus merupakan dasar penting bagi perkembangan kognitif dan keberhasilan belajar di masa depan. Anak yang mampu berkonsentrasi lebih baik cenderung lebih mudah memahami instruksi, menyerap informasi, dan menyelesaikan tugas akademik. Temuan tersebut juga memberi pesan penting bagi lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia. Sekolah dan guru dianjurkan untuk mengurangi metode belajar yang terlalu formal dan monoton pada anak TK. Sebaliknya, pembelajaran berbasis permainan, lagu, gerak, dan interaksi sosial dinilai lebih efektif membantu perkembangan anak secara menyeluruh.
Bagi orang tua, hasil penelitian ini dapat menjadi panduan dalam mendampingi anak belajar di rumah. Aktivitas sederhana seperti bernyanyi, bermain peran, menyusun balok, atau permainan motorik ternyata dapat membantu meningkatkan fokus anak secara alami. Pendekatan belajar yang menyenangkan juga dinilai mampu mengurangi tekanan belajar pada anak usia dini. Sri Ayu Laali dan tim peneliti menegaskan bahwa setiap anak memiliki gaya belajar berbeda. Karena itu, guru perlu lebih fleksibel dan peka terhadap kebutuhan siswa. Anak yang mengalami kesulitan berkonsentrasi membutuhkan dukungan lebih melalui pendekatan yang kreatif, interaktif, dan sesuai tahap perkembangan mereka. Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga pada pengembangan kemampuan dasar seperti perhatian, kontrol diri, interaksi sosial, dan kesiapan belajar. Dengan strategi yang tepat, kemampuan konsentrasi anak dapat berkembang secara optimal sejak usia dini.
Profil
Penulis
Sri
Ayu Laali merupakan akademisi dari Universitas
Muhammadiyah Luwuk yang meneliti bidang pendidikan anak usia dini dan strategi
pembelajaran kreatif. Penelitian ini juga melibatkan Sri Rindiani H. Saudo, Sri
Melani A. Djamir, dan Sri Junita dari universitas yang sama dengan fokus kajian
pada pengembangan metode pembelajaran anak usia dini.
Sumber
Penelitian
https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss
0 Komentar