Program Family Day Dinilai Efektif Perkuat Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar


Gambar dibuat oleh AI

Program Family Day terbukti mampu memperkuat pendidikan karakter sekaligus mengurangi konflik antara guru dan orang tua di sekolah dasar. Temuan ini diungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Andi Agusniati, A. Rizal, Widya Mardatillah, Nurwidyayanti, dan Burhan dari Universitas Bosowa Makassar. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Applied Educational Research (IJAER) tahun 2026 tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dalam kegiatan sekolah menciptakan lingkungan belajar yang lebih harmonis, kolaboratif, dan efektif dalam menanamkan nilai moral kepada siswa.

Studi ini dilakukan di UPT SPF SD Inpres Unggulan BTN Pemda Makassar, Sulawesi Selatan, sebuah sekolah dasar yang aktif menerapkan program Family Day sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis kolaborasi keluarga dan sekolah. Penelitian menjadi penting karena sekolah-sekolah saat ini menghadapi tantangan meningkatnya konflik antara guru dan orang tua, menurunnya empati sosial siswa, serta lemahnya komunikasi dalam lingkungan pendidikan.

Dalam konteks pendidikan Indonesia, pendidikan karakter atau budi pekerti masih menjadi bagian penting dari tujuan pendidikan nasional. Nilai seperti tanggung jawab, empati, rasa hormat, kerja sama, dan kepedulian sosial dianggap tidak cukup hanya diajarkan melalui teori di ruang kelas. Anak-anak membutuhkan pengalaman nyata yang melibatkan interaksi sosial langsung agar nilai moral benar-benar tertanam dalam perilaku sehari-hari.

Penelitian Universitas Bosowa menemukan bahwa hubungan antara sekolah dan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter siswa. Namun dalam praktiknya, hubungan tersebut sering kali diwarnai kesalahpahaman, komunikasi yang buruk, dan perbedaan harapan antara guru dan orang tua. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan belajar siswa, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan sekolah yang tidak harmonis.

Untuk menjawab persoalan tersebut, sekolah mengembangkan program Family Day, yaitu kegiatan kolaboratif yang mempertemukan guru, siswa, dan orang tua dalam suasana informal dan partisipatif. Program ini berisi permainan bersama, sesi pembelajaran kolaboratif, diskusi santai, dan berbagai aktivitas berbasis karakter yang dirancang untuk memperkuat hubungan sosial antar peserta.

Tim peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan melibatkan kepala sekolah, guru, orang tua, dan siswa sebagai partisipan penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi langsung selama kegiatan Family Day berlangsung, serta analisis dokumen sekolah dan laporan kegiatan.

Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama yang menjadi indikator keberhasilan program Family Day.

Pertama, program ini berhasil menciptakan lingkungan pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning yang efektif dalam menanamkan nilai budi pekerti. Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat lebih aktif menunjukkan perilaku positif seperti saling membantu, menghargai orang lain, bekerja sama, mendengarkan dengan baik, dan menunjukkan empati terhadap teman maupun orang dewasa di sekitar mereka.

Guru yang diwawancarai dalam penelitian menyatakan bahwa siswa yang aktif mengikuti Family Day menunjukkan perubahan perilaku yang lebih positif dalam aktivitas sekolah sehari-hari. Menurut peneliti, pengalaman langsung jauh lebih efektif dibanding hanya memberikan nasihat moral secara teoritis di ruang kelas.

Temuan kedua berkaitan dengan perubahan hubungan antara guru dan orang tua. Sebelum program berjalan, komunikasi antara kedua pihak cenderung formal dan biasanya hanya terjadi ketika muncul masalah akademik atau disiplin siswa. Namun setelah mengikuti Family Day, hubungan tersebut menjadi lebih terbuka, akrab, dan konstruktif.

Guru merasa lebih dihargai dan didukung oleh orang tua, sementara orang tua mengaku lebih nyaman berdiskusi dengan guru mengenai perkembangan anak mereka. Observasi penelitian juga menunjukkan meningkatnya interaksi informal dan diskusi kolaboratif antara guru dan orang tua setelah kegiatan berlangsung.

Kepercayaan menjadi faktor penting dalam perubahan tersebut. Aktivitas bersama selama Family Day membantu mengurangi jarak psikologis antara guru dan orang tua sehingga komunikasi menjadi lebih jujur dan terbuka. Peneliti menilai bahwa kepercayaan sosial merupakan fondasi utama bagi kemitraan sekolah dan keluarga yang berkelanjutan.

Temuan ketiga menunjukkan bahwa Family Day berperan dalam mencegah konflik antara guru dan orang tua. Penelitian menemukan bahwa kesalahpahaman menjadi lebih jarang terjadi karena jalur komunikasi semakin terbuka dan peran masing-masing pihak menjadi lebih jelas.

Bahkan ketika terjadi perbedaan pendapat, guru dan orang tua cenderung memilih pendekatan diskusi dan penyelesaian masalah secara bersama dibanding bersikap defensif atau konfrontatif. Menurut peneliti, program ini berhasil membangun pola pikir kemitraan, di mana pendidikan anak dipandang sebagai tanggung jawab bersama.

Temuan keempat menunjukkan bahwa Family Day mendorong orang tua menjadi lebih aktif sebagai co-educator atau pendidik pendamping bagi anak di rumah. Orang tua menjadi lebih memahami nilai-nilai yang diajarkan sekolah dan mampu menerapkannya kembali dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Keselarasan antara lingkungan sekolah dan rumah inilah yang memperkuat efektivitas pendidikan karakter siswa.

Penelitian juga menyoroti pentingnya konteks budaya Indonesia dalam keberhasilan program ini. Nilai budi pekerti yang diajarkan melalui Family Day dianggap sejalan dengan prinsip Pancasila dan budaya sosial masyarakat Indonesia yang menekankan gotong royong, rasa hormat, dan kebersamaan.

Menurut Andi Agusniati dan tim peneliti dari Universitas Bosowa, Family Day bukan sekadar acara seremonial sekolah, tetapi strategi pendidikan jangka panjang yang mengintegrasikan pendidikan karakter, keterlibatan keluarga, dan pencegahan konflik dalam satu pendekatan kolaboratif.

Penelitian ini juga menegaskan pentingnya kepemimpinan sekolah dalam memastikan keberhasilan program kolaboratif. Dukungan kepala sekolah dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan kegiatan, mengatur koordinasi, dan membangun partisipasi aktif seluruh pihak yang terlibat.

Secara lebih luas, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pendidikan karakter yang efektif membutuhkan keterlibatan nyata keluarga dalam proses pendidikan. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang cepat, sekolah tidak lagi bisa bekerja sendiri dalam membentuk karakter anak.

Peneliti merekomendasikan agar program Family Day dijadikan kegiatan rutin dan terstruktur di sekolah dasar, bukan hanya acara tahunan. Selain itu, guru juga perlu mendapatkan pelatihan terkait komunikasi dengan keluarga dan strategi membangun kemitraan sekolah yang sehat dan inklusif.

Profil Penulis

Andi Agusniati merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Bosowa Makassar yang berfokus pada pendidikan karakter, kemitraan sekolah dan keluarga, serta pendidikan dasar. Penelitian ini juga melibatkan A. Rizal, Widya Mardatillah, Nurwidyayanti, dan Burhan dari Universitas Bosowa yang memiliki fokus kajian pada pendidikan moral, pembelajaran berbasis pengalaman, dan pengembangan model pendidikan kolaboratif.

Sumber Penelitian

Andi Agusniati, A. Rizal, Widya Mardatillah, Nurwidyayanti, dan Burhan. “Enhancing Character Education through Family Engagement: A Qualitative Study of Family Day Programs in Indonesian Elementary Schools.” International Journal of Applied Educational Research (IJAER), Vol. 4 No. 2, 2026, halaman 81–98. DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i2.226

Posting Komentar

0 Komentar