
Emoji dan Meme Ubah Makna Pesan Digital, Studi UNIMED Ungkap Pola Komunikasi Baru
Cara manusia berkomunikasi di media sosial kini tidak lagi hanya bergantung pada kata-kata. Penelitian terbaru oleh Muhammad Natsir bersama Elizabeth Hutapea, Lyra Manullang, dan Ristama Hutabalian dari Universitas Negeri Medan (UNIMED) mengungkap bahwa emoji dan meme memainkan peran penting dalam membentuk makna pesan digital. Studi ini diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Integrative Research dan menunjukkan bahwa makna dalam komunikasi digital bersifat multimodal—dibentuk oleh kombinasi teks, simbol visual, dan konteks sosial. Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya penggunaan media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok, di mana generasi muda semakin mengandalkan emoji dan meme untuk mengekspresikan perasaan, sikap, dan bahkan kritik sosial.
Latar Belakang: Dari Kata ke Simbol Visual
Dalam lima tahun terakhir, komunikasi digital mengalami perubahan besar. Media sosial tidak lagi sekadar tempat bertukar pesan teks, tetapi menjadi ruang komunikasi yang menggabungkan berbagai elemen seperti gambar, emoji, dan meme. Penelitian ini menunjukkan bahwa makna tidak lagi hanya berasal dari struktur bahasa, tetapi dari interaksi berbagai simbol secara bersamaan. Emoji dan meme bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian inti dari cara manusia berkomunikasi di dunia digital. Di kota Medan sebagai konteks penelitian, dinamika ini semakin kompleks karena adanya keberagaman budaya, penggunaan bahasa campuran, serta humor lokal yang khas di kalangan pengguna media sosial.
Metodologi: Mengamati Interaksi Nyata di Media Sosial
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus untuk memahami bagaimana makna dibentuk dalam komunikasi digital. Sebanyak 15–20 partisipan berusia 18–35 tahun dilibatkan dalam penelitian ini. Mereka adalah pengguna aktif media sosial dengan latar belakang mahasiswa dan profesional muda.
Data dikumpulkan melalui
-wawancara mendalam
-observasi interaksi digital (komentar, chat, postingan)
-analisis dokumen berupa tangkapan layar percakapan dan meme
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat secara langsung bagaimana emoji dan meme digunakan dalam situasi nyata.
Temuan Utama: Tiga Peran Penting Emoji dan Meme
Penelitian ini menemukan tiga pola utama dalam pembentukan makna digital:
Emoji Mengubah Makna Pesan
Emoji tidak hanya menambahkan emosi, tetapi dapat mengubah arti sebuah kalimat.
Contohnya:
-Kalimat “Itu bagus sekali” bisa berubah menjadi sindiran jika ditambah emoji tertentu
-Emoji membantu mengarahkan cara pembaca menafsirkan pesan
Peneliti menemukan bahwa emoji berfungsi sebagai “pengatur makna” yang bisa mengubah pujian menjadi ironi atau kritik terselubung.
Emoji sebagai Strategi Kesopanan Digital
Dalam komunikasi formal atau hierarkis, seperti antara mahasiswa dan dosen atau karyawan dan atasan, emoji digunakan untuk menjaga kesopanan.
Temuan menunjukkan:
-Emoji seperti 🙏 atau 🙂 digunakan untuk memperhalus pesan
-Pengguna memilih emoji dengan hati-hati sesuai konteks sosial
-Emoji berfungsi sebagai pengganti ekspresi wajah atau nada suara
Menurut tim peneliti, ini menunjukkan bahwa kesopanan tidak hilang di dunia digital, tetapi justru beradaptasi dalam bentuk baru.
Meme sebagai Kritik Sosial dan Humor Kolektif
Berbeda dengan emoji, meme berfungsi sebagai media komunikasi yang lebih kompleks.
Penelitian menemukan bahwa meme:
-Menyampaikan kritik sosial secara tidak langsung
-Mengandalkan pengalaman bersama untuk dipahami
-Menggunakan humor dan ironi untuk menyampaikan pesan
Sebagai contoh, meme tentang kelelahan kerja tidak hanya lucu, tetapi juga menjadi bentuk kritik terhadap budaya kerja yang melelahkan.
Implikasi: Pentingnya Literasi Digital
Penelitian ini memberikan dampak luas bagi pendidikan dan masyarakat digital. Muhammad Natsir dari Universitas Negeri Medan menegaskan bahwa makna dalam komunikasi digital tidak bisa dipahami hanya dari teks.
Beberapa implikasi penting:
Untuk pendidikan:
Pembelajaran bahasa perlu memasukkan pemahaman tentang komunikasi digital, termasuk penggunaan emoji dan meme.
Untuk masyarakat:
Pengguna media sosial perlu lebih sadar bahwa satu simbol bisa memiliki banyak makna tergantung konteks.
Untuk dunia kerja:
Pemahaman komunikasi digital penting untuk menghindari kesalahpahaman dalam interaksi profesional.
Penelitian ini juga menekankan bahwa literasi digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kemampuan memahami makna dalam berbagai bentuk komunikasi.
Kutipan Akademik
Muhammad Natsir dan tim dari Universitas Negeri Medan menyimpulkan bahwa makna dalam komunikasi digital “bersifat inferensial, relasional, dan tersebar dalam berbagai mode komunikasi, bukan hanya teks.”
Profil Penulis
-Muhammad Natsir – Peneliti utama, Universitas Negeri Medan; ahli pragmatik dan komunikasi digital
-Elizabeth Hutapea – Peneliti, Universitas Negeri Medan; fokus linguistik dan media sosial
-Lyra Manullang – Peneliti, Universitas Negeri Medan; kajian komunikasi digital
-Ristama Hutabalian – Peneliti, Universitas Negeri Medan; bidang bahasa dan budaya digital
Sumber Penelitian
Natsir, M., Hutapea, E., Manullang, L., & Hutabalian, R. (2026). Digital Pragmatics in Medan City: An Analysis of Meaning in Social Media, Emojis, Memes, and Multimodal Communication. International Journal of Integrative Research (IJIR), Vol. 4 No. 3, hlm. 165–176.
0 Komentar