Tim peneliti dari Universitas Dian Nuswantoro berhasil mengembangkan desain UI/UX platform digital bernama Photolio yang dirancang khusus untuk membantu fotografer freelance mengelola portofolio, berinteraksi dengan klien, dan melakukan transaksi digital dalam satu aplikasi terintegrasi. Penelitian tersebut dilakukan oleh Sandra Alfiani, Abraham Himawan, Arjun Aderangga, Moh. Ilham Dwi Candra, Pan Dhiwa Annur Risnant, dan Zahra Rifa'atun Nada. Hasil studi dipublikasikan dalam Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS) edisi April 2026.
Penelitian ini menyoroti tantangan yang dihadapi fotografer freelance, terutama dalam membangun portofolio digital, menarik klien, membangun personal branding, dan memperoleh sistem transaksi yang aman dalam satu platform. Selama ini, banyak platform fotografi hanya berfungsi sebagai tempat memamerkan karya tanpa mendukung monetisasi dan interaksi komunitas secara optimal.
Menurut peneliti, meningkatnya persaingan di industri kreatif membuat fotografer freelance membutuhkan platform yang lebih praktis, ringan, aman, dan mudah digunakan. Di sisi lain, klien juga membutuhkan sistem yang memungkinkan pencarian karya, transaksi, dan komunikasi dilakukan secara efisien dalam satu aplikasi.
Dalam penelitian ini, tim menggunakan metode Design Thinking yang terdiri dari lima tahap, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Metode tersebut berfokus pada pendekatan berbasis kebutuhan pengguna sehingga desain aplikasi dapat disesuaikan dengan pengalaman dan masalah nyata yang dihadapi pengguna. Diagram tahapan Design Thinking pada halaman 5 menunjukkan proses pengembangan mulai dari identifikasi kebutuhan pengguna hingga pengujian prototipe aplikasi.
Pada tahap empathize, peneliti menemukan beberapa kebutuhan utama pengguna, antara lain:
- Pengguna ingin aplikasi sederhana dan ringan untuk menampilkan portofolio fotografi.
- Pengguna membutuhkan sistem transaksi yang aman dan terpercaya.
- Fotografer dan pembeli menginginkan semua fitur tersedia dalam satu platform terintegrasi.
Pada tahap define, peneliti merumuskan kebutuhan utama pengguna menjadi pengembangan sistem yang mampu mengintegrasikan fitur penjual dan pembeli, pencarian karya berbasis tema, metode pembayaran lokal, dan keamanan transaksi digital.
Selanjutnya, tahap ideate menghasilkan beberapa solusi utama, seperti:
- Fitur filter foto berdasarkan tema.
- Sistem pembayaran lokal seperti QRIS, BCA, BRI, dan Mandiri.
- Integrasi marketplace dan portofolio dalam satu aplikasi.
- Sistem keamanan transaksi dan fitur bantuan pengguna.
Pada tahap prototype, desain aplikasi divisualisasikan menggunakan wireframe, low-fidelity design, hingga high-fidelity prototype berbasis Figma. Gambar prototipe pada halaman 8 dan 9 memperlihatkan tampilan aplikasi versi desktop dan mobile dengan desain sederhana berwarna gelap yang menampilkan galeri foto, sistem unggah karya, transaksi pembayaran, dan dashboard pendapatan fotografer.
Photolio juga dilengkapi berbagai fitur tambahan, seperti:
- Penjualan foto editorial dan komersial.
- Fitur like dan download foto dengan watermark.
- Sistem unggah karya melalui desktop maupun mobile.
- Dashboard pendapatan untuk melihat detail penjualan karya.
Tahap pengujian dilakukan terhadap 25 pengguna menggunakan metode System Usability Scale (SUS). Hasil pengujian menunjukkan tingkat kepuasan pengguna yang tinggi terhadap desain aplikasi. Sebagian besar responden menilai aplikasi mudah dipelajari, mudah dinavigasi, memiliki informasi yang jelas, dan nyaman digunakan. Grafik hasil pengujian pada halaman 11 menunjukkan mayoritas pengguna memberikan penilaian “mudah” dan “sangat mudah” terhadap aspek navigasi, efisiensi waktu, aksesibilitas visual, serta desain intuitif aplikasi.
Peneliti juga menemukan bahwa pendekatan human-centered design menjadi faktor utama keberhasilan desain Photolio. Menurut penelitian ini, aplikasi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata pengguna mampu meningkatkan kenyamanan, efisiensi, dan pengalaman pengguna secara keseluruhan.
Meski demikian, penelitian masih memiliki keterbatasan karena pengujian baru dilakukan pada tahap prototipe dan melibatkan jumlah responden yang relatif terbatas. Peneliti merekomendasikan pengembangan lebih lanjut agar Photolio menjadi aplikasi penuh yang dapat diuji langsung di lingkungan operasional nyata.
Menurut Sandra Alfiani dan tim peneliti, platform seperti Photolio memiliki potensi besar untuk mendukung ekosistem industri kreatif digital, terutama bagi fotografer freelance yang membutuhkan sarana untuk membangun personal branding, memperluas pasar, dan meningkatkan monetisasi karya secara digital.
Penelitian ini dinilai penting karena menunjukkan bahwa integrasi desain UI/UX berbasis kebutuhan pengguna dapat menghasilkan platform kreatif digital yang lebih efektif, mudah digunakan, dan relevan dengan perkembangan ekonomi kreatif modern.
Profil Penulis
- Sandra Alfiani - Universitas Dian Nuswantoro
- Abraham Himawan- Universitas Dian Nuswantoro
- Arjun Aderangga - Universitas Dian Nuswantoro
- Moh. Ilham Dwi Candra - Universitas Dian Nuswantoro
- Pan Dhiwa Annur Risnant - Universitas Dian Nuswantoro
- Zahra Rifa'atun Nada - Universitas Dian Nuswantoro
Sumber Penelitian
Alfiani, Sandra, Himawan, Abraham, Aderangga, Arjun, Candra, Moh. Ilham Dwi, Risnant, Pan Dhiwa Annur, & Nada, Zahra Rifa'atun. Design Thinking-Based UI/UX Design for Photolio: An Integrated Digital Portfolio Platform for Freelance Photographers. Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4 No. 5, April 2026, halaman 409–426.

0 Komentar