Melalui tinjauan sistematis terhadap 19 studi internasional yang terbit sepanjang 2020–2025, penelitian ini menemukan bahwa karyawan yang mampu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah, motivasi lebih tinggi, dan produktivitas kerja yang lebih stabil. Selain itu, keterlibatan kerja atau work engagement terbukti memperkuat pengaruh positif tersebut terhadap performa karyawan.
Industri manufaktur selama ini dikenal sebagai sektor dengan tekanan kerja tinggi. Sistem shift, target produksi harian, hingga adaptasi terhadap otomatisasi dan teknologi digital sering memicu kelelahan fisik maupun mental pekerja. Kondisi itu membuat perusahaan tidak lagi cukup hanya fokus pada efisiensi mesin dan teknologi, tetapi juga harus memperhatikan aspek manusia sebagai penggerak utama produktivitas.
M. Romanda Akbar menjelaskan bahwa konsep work-life balance kini tidak lagi sekadar memisahkan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dalam konteks modern, keseimbangan kerja mencakup fleksibilitas waktu, dukungan organisasi, kesehatan psikologis, serta kemampuan pekerja mengelola berbagai peran hidup secara harmonis.
Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan pendekatan PRISMA 2020. Penulis menyeleksi 424 artikel dari basis data Scopus, Emerald Insight, dan Google Scholar. Setelah melalui proses penyaringan berdasarkan relevansi topik, konteks manufaktur, dan keterkaitan variabel penelitian, hanya 19 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut.
Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten di berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Pakistan, India, Nigeria, dan Amerika Serikat. Praktik work-life balance seperti fleksibilitas jam kerja, pengaturan beban kerja yang seimbang, serta dukungan atasan terbukti membantu meningkatkan performa karyawan manufaktur.
Beberapa temuan utama penelitian ini antara lain:
- Karyawan dengan work-life balance yang baik mengalami tingkat stres dan kelelahan kerja lebih rendah.
- Keterlibatan kerja (work engagement) meningkatkan dedikasi, semangat, dan fokus pekerja terhadap tugas.
- Dukungan supervisor dan budaya kerja yang sehat memperkuat loyalitas serta retensi karyawan.
- Program pengembangan psikologis seperti mindfulness training membantu meningkatkan motivasi dan ketahanan mental pekerja.
- Praktik green human resource management atau manajemen SDM ramah lingkungan mampu meningkatkan keterlibatan kerja sekaligus mendukung keberlanjutan perusahaan.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa keterlibatan kerja berfungsi sebagai jembatan penting antara keseimbangan kerja dan peningkatan performa. Ketika pekerja merasa hidupnya lebih seimbang, mereka memiliki energi psikologis lebih besar untuk bekerja secara optimal. Dampaknya terlihat pada meningkatnya produktivitas, inovasi kerja, dan keterlibatan emosional terhadap perusahaan.
Dalam kajian tersebut, generasi milenial disebut sebagai kelompok pekerja yang paling responsif terhadap lingkungan kerja suportif. Karyawan generasi ini lebih menghargai fleksibilitas, apresiasi atas kontribusi kerja, peluang pengembangan karier, dan komunikasi yang sehat dengan atasan. Karena itu, perusahaan manufaktur dinilai perlu menyesuaikan strategi pengelolaan SDM dengan karakteristik generasi pekerja saat ini.
Selain faktor psikologis, penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya hubungan interpersonal di tempat kerja. Hubungan positif antara atasan dan bawahan mampu meningkatkan rasa memiliki terhadap organisasi dan memperkuat keterlibatan kerja. Sebaliknya, beban kerja berlebihan, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan produksi yang tinggi dapat memicu perilaku kontraproduktif serta menurunkan performa pekerja.
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah meningkatnya relevansi pendekatan keberlanjutan atau green management dalam industri manufaktur. Perusahaan yang mengintegrasikan kebijakan ramah lingkungan dengan program keseimbangan kerja dinilai mampu menciptakan keterlibatan kerja yang lebih berkelanjutan. Karyawan tidak hanya terdorong untuk bekerja produktif, tetapi juga merasa menjadi bagian dari tujuan sosial dan lingkungan perusahaan.
Menurut M. Romanda Akbar, perusahaan manufaktur modern perlu mengembangkan strategi terpadu yang menggabungkan fleksibilitas kerja, dukungan psikologis, pelatihan pengembangan diri, dan budaya organisasi yang sehat. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan sekaligus menekan risiko burnout dan turnover karyawan.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa hubungan antara work-life balance, work engagement, dan kinerja karyawan bersifat lintas budaya. Meski terdapat perbedaan intensitas pengaruh akibat budaya kerja dan karakter industri di masing-masing negara, pola umumnya tetap konsisten: pekerja yang lebih seimbang dan lebih terlibat cenderung memiliki performa lebih baik.
Meski demikian, penelitian ini mengakui masih adanya keterbatasan dalam studi sebelumnya. Banyak penelitian yang masih menggunakan desain jangka pendek sehingga belum mampu menggambarkan hubungan sebab-akibat secara mendalam. Karena itu, peneliti merekomendasikan studi lanjutan dengan pendekatan longitudinal atau eksperimental agar pemahaman mengenai hubungan keseimbangan kerja dan performa karyawan semakin kuat.
Profil Penulis
M. Romanda Akbar merupakan akademisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Indonesia. Fokus kajiannya meliputi manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, keterlibatan kerja, dan strategi peningkatan kinerja karyawan di era transformasi digital industri.
Sumber Penelitian
Akbar, M. Romanda. “Enhancing Performance Through Work-Life Balance and Work Engagement: A Systematic Review in the Manufacturing Sector.” International Journal of Economics, Business Management and Accounting (IJEBMA), Vol. 8 No. 1, 2026.
URL: https://journal.multitechpublisher.com/index.php/ijebma
DOI: https://doi.org/10.59890/ijebma.v8i1.3329
0 Komentar