Penelitian yang dilakukan oleh Munawar Ahmad dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyoroti bahwa perang modern tidak lagi hanya sekadar perebutan wilayah secara fisik, melainkan sebuah proses restrukturisasi hierarki kekuasaan yang melibatkan instrumen militer, ekonomi, dan jaringan aliansi strategis secara simultan
Runtuhnya Keseimbangan Kawasan di Timur Tengah
Sebelum perang pecah pada tahun 2026, situasi di Timur Tengah relatif terjaga melalui pola pencegahan konflik yang stabil, yang sebagian besar dikelola melalui perang proksi (proxy conflicts) dan keterlibatan militer yang terbatas
Menyederhanakan Metodologi: Menelusuri Jejak Data Global
Untuk memetakan perubahan besar ini, peneliti menggunakan pendekatan geopolitik kualitatif dengan metode pelacakan proses (process tracing) dan analisis skenario
Temuan Utama: Lahirnya Tiga Blok Kekuasaan Baru
Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menemukan bahwa runtuhnya keseimbangan lama telah melahirkan tiga blok kekuatan besar yang memiliki karakteristik berbeda dalam tatanan global baru
- Blok Militer Barat. Dipimpin langsung oleh Amerika Serikat dan Israel, blok ini memperkuat koordinasi militer dan intervensi langsung di lapangan
. Amerika Serikat memainkan peran sentral dalam menyokong kemampuan militer Israel sebagai bentuk kelanjutan komitmen keamanannya . Blok ini sangat mengandalkan kekuatan militer nyata (hard power) dan meningkatkan anggaran pertahanan secara masif sebagai instrumen utama untuk mempertahankan pengaruh geopolitiknya . - Kontra-Blok Eurasia. Blok ini diisi oleh kemitraan strategis antara China, Rusia, dan Iran
. Berbeda dengan Blok Barat, aliansi ini tidak bersifat formal melainkan sebuah penyelarasan taktis berdasarkan kepentingan bersama untuk mengimbangi dominasi Barat .
- China muncul sebagai penerima keuntungan strategis terbesar karena berhasil memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatiknya tanpa terlibat langsung dalam pertempuran militer
. - Rusia bertindak sebagai pengganggu oportunis yang memanfaatkan ketidakstabilan global untuk melemahkan kekompakan negara-negara Barat
. - Iran memperkuat pengaruh kawasannya melalui jaringan proksi yang solid
.
- Global South yang Terfragmentasi. Negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin tidak membentuk satu koalisi yang bersatu
. Sebaliknya, mereka menerapkan strategi hubungan multi-arah (multi-alignment) dan transaksional . Mereka bekerja sama dengan Blok Barat maupun Eurasia secara bergantian demi memaksimalkan keuntungan ekonomi domestik dan meminimalkan risiko keamanan . Akibatnya, kelompok Global South menjadi komponen yang dinamis namun terlalu rapuh untuk bertindak sebagai kekuatan penyeimbang yang padu dalam tata kelola global .
Secara normatif, studi dari UIN Sunan Kalijaga ini memperingatkan adanya kemerosotan tajam pada tatanan internasional yang berbasis aturan (rules-based order)
Profil Peneliti
Munawar Ahmad adalah seorang akademisi, peneliti senior, dan pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia
Sumber Penelitian
Munawar Ahmad (2026), World Power Re-Configuration after the 2026 Iran-Israel War, Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) (2026), Vol. 5, No. 4, 2026: 1151-1166
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.49
URL:

0 Komentar