Perubahan Peta Kekuatan Dunia Pasca Perang Iran–Israel 2026

Gambar Ilustation AI

FORMOSA NEWS - Yogyakarta - Perang Iran-Israel 2026 Mengubah Peta Kekuatan Dunia Menjadi Multipolaritas yang Tidak Stabil. Penelitian yang dilakukan oleh Munawar Ahmad dari  Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa perang ini menjadi titik pecah sistemik yang mengakhiri era tatanan internasional lama.

Penelitian yang dilakukan oleh Munawar Ahmad dari  Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyoroti bahwa 
perang modern tidak lagi hanya sekadar perebutan wilayah secara fisik, melainkan sebuah proses restrukturisasi hierarki kekuasaan yang melibatkan instrumen militer, ekonomi, dan jaringan aliansi strategis secara simultan.

Runtuhnya Keseimbangan Kawasan di Timur Tengah
Sebelum perang pecah pada tahun 2026, situasi di Timur Tengah relatif terjaga melalui pola pencegahan konflik yang stabil, yang sebagian besar dikelola melalui perang proksi (proxy conflicts) dan keterlibatan militer yang terbatas. Namun, eskalasi yang terjadi sejak tahun 2024 terus memuncak hingga meletus menjadi konfrontasi langsung antar-negaraPerubahan dari perang tidak langsung menjadi perang terbuka ini merusak seluruh mekanisme tradisional yang biasanya digunakan untuk meredam konflik. Perang ini dengan cepat meluas menjadi konflik multi-front yang melibatkan aktor-aktor bersenjata di Lebanon, Teluk Persia, dan wilayah strategis lainnya. Keterlibatan jaringan non-negara ini membuat intervensi diplomatik konvensional kehilangan taringnya, mengubah Timur Tengah dari zona konflik terkendali menjadi lingkungan keamanan yang sangat mudah berubah dan sulit diprediksi.

Menyederhanakan Metodologi: Menelusuri Jejak Data Global
Untuk memetakan perubahan besar ini, peneliti menggunakan pendekatan geopolitik kualitatif dengan metode pelacakan proses (process tracing) dan analisis skenario. Dibandingkan menggunakan rumus statistik yang rumit, studi ini memilih untuk membedah isi dari sekitar 50 hingga 80 dokumen kebijakan yang sangat kaya informasiData yang dianalisis meliputi dokumen resmi pemerintah, catatan debat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), laporan kebijakan lembaga pemikir (think tank), serta basis data konflik global milik organisasi internasional terpercaya. Dengan bantuan perangkat lunak analisis kualitatif NVivo, peneliti mengelompokkan data berdasarkan empat indikator utama: pergeseran kekuatan global, struktur aliansi, kekuatan ekonomi, dan pengaruh strategis dunia.

Temuan Utama: Lahirnya Tiga Blok Kekuasaan Baru
Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menemukan bahwa runtuhnya keseimbangan lama telah melahirkan tiga blok kekuatan besar yang memiliki karakteristik berbeda dalam tatanan global baru:
  • Blok Militer Barat. Dipimpin langsung oleh Amerika Serikat dan Israel, blok ini memperkuat koordinasi militer dan intervensi langsung di lapangan. Amerika Serikat memainkan peran sentral dalam menyokong kemampuan militer Israel sebagai bentuk kelanjutan komitmen keamanannya. Blok ini sangat mengandalkan kekuatan militer nyata (hard power) dan meningkatkan anggaran pertahanan secara masif sebagai instrumen utama untuk mempertahankan pengaruh geopolitiknya.
  • Kontra-Blok Eurasia. Blok ini diisi oleh kemitraan strategis antara China, Rusia, dan Iran. Berbeda dengan Blok Barat, aliansi ini tidak bersifat formal melainkan sebuah penyelarasan taktis berdasarkan kepentingan bersama untuk mengimbangi dominasi Barat.
  1. China muncul sebagai penerima keuntungan strategis terbesar karena berhasil memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatiknya tanpa terlibat langsung dalam pertempuran militer.
  2. Rusia bertindak sebagai pengganggu oportunis yang memanfaatkan ketidakstabilan global untuk melemahkan kekompakan negara-negara Barat.
  3. Iran memperkuat pengaruh kawasannya melalui jaringan proksi yang solid.
  • Global South yang Terfragmentasi. Negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin tidak membentuk satu koalisi yang bersatu. Sebaliknya, mereka menerapkan strategi hubungan multi-arah (multi-alignment) dan transaksional. Mereka bekerja sama dengan Blok Barat maupun Eurasia secara bergantian demi memaksimalkan keuntungan ekonomi domestik dan meminimalkan risiko keamanan. Akibatnya, kelompok Global South menjadi komponen yang dinamis namun terlalu rapuh untuk bertindak sebagai kekuatan penyeimbang yang padu dalam tata kelola global.
Implikasi Kebijakan dan Lunturnya Hukum Internasional

Secara normatif, studi dari UIN Sunan Kalijaga ini memperingatkan adanya kemerosotan tajam pada tatanan internasional yang berbasis aturan (rules-based order). Lembaga internasional seperti PBB kini dinilai semakin terbatas kemampuannya dalam mengelola konflik besar. Hukum internasional sering kali diabaikan, dan mekanisme penegakannya melempemPeneliti analisisnya menekankan munculnya fenomena "geopolitik pertahanan mutlak" (survivalist geopolitics), di mana negara-negara lebih memprioritaskan keamanan nasional dan kepentingan sendiri di atas keputusan kolektif global. Bagi negara seperti Indonesia, situasi ini menuntut perancangan kebijakan luar negeri yang adaptif dan lincah. Mengingat Indonesia sangat bergantung pada impor energi, ketidakstabilan di jalur pasokan global dapat berdampak langsung pada ketahanan pangan dan ekonomi domestik. Indonesia dan negara-negara menengah lainnya dituntut untuk menerapkan konsep Flexible Balancing—yaitu melakukan penyeimbangan yang fleksibel, temporer, dan berbasis isu tanpa terikat pada satu blok ideologi tertentu demi menjaga stabilitas nasional.

Profil Peneliti
Munawar Ahmad adalah seorang akademisi, peneliti senior, dan pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia. Ia memiliki keahlian mendalam di bidang Hubungan Internasional, Kajian Geopolitik Islam, dan Studi Strategis kawasan Timur Tengah. 

Sumber Penelitian
Munawar Ahmad (2026), World Power Re-Configuration after the 2026 Iran-Israel War, Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) (2026), Vol. 5, No. 4, 2026: 1151-1166
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.49
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar